Monday, September 21, 2015

HAVE FUN IN FUN BIKE (SUMMARECON BEKASI BICYCLE FEST 2015)

Udah pasti sering denger kan soal Fun Bike? Berbagai macam event Fun Bike juga betebaran dimana-mana. Tapi fun bike yang satu ini spesial...spesial buat saya, karena baru pertama kalinya ikutan fun bike. Bahkan sebelum hari H pake acara latihan track fun bike dulu, biar ga malu-maluin nantinya ketinggalan di belakang. Sebenernya track fun bike sering saya lalui, cuma yang ini ditambah bolak balik ngelewatin Fly Over. Udah pernah sih sekali nanjak lewatin fly over tanpa tuntun sepeda, tapi Cuma sekali doang ga balik lagi, baliknya lewatin jalan lain karena ngos-ngosan. Kira-kira berhasilkah saya lewatin fly over Summarecon Bekasi bolak-balik langsung?

Akhirnya hari H pun tiba, abis sholat shubuh saya dan suami langsung siap-siap. Jam setengah 6 pagi kita udah keluar rumah, ga nyangka Bekasi kalau subuh udaranya segar dan sejuk juga. Cukup kaget, belum jauh keluar rumah dari berbagai penjuru jalan sudah mulai bermunculan orang-orang dengan menggunakan  jersey Fun Bike, tidak saling kenal tapi kami saling menyapa. Semakin lama semakin banyak  orang yang bermunculan, pagi itu sudah riuh dengan bunyi bel tanda menyapa dan saling memberi semangat.  Mungkin sepele, tapi buat saya berada di suasana  seperti  ini menyenangkan.
Sampai di venue sudah ramai orang berkumpul dari berbagai usia dan berbagai jenis sepeda. Ada yang memakai identitas komunitas, ada yang sengaja “tampil” untuk acara hari ini.





Setelah berkumpul di garis Start, kita pemanasan dulu. Bahkan suami saya yang anti senam pagi ikutan juga, karena terbawa suasana dan semua orang pun melakukannya jadi kenapa ngga.





Dan Fun Bike Pun dimulaaaiiiii





5000 peserta memenuhi jalanan Summarecon Bekasi. Bunyi klakson sepeda, suara sorak sorai yang membahana dari ujung ke ujung barisan, memenuhi minggu pagi yang cerah. Hanya berada dalam rombongan saja senangnya bukan main, ada-ada saja tingkah polah peserta. Ada yang membunyikan klakson khas tukang roti (atau tukang kasur), ada yang memutar lagu keras-keras dari lagu metal sampai gamelan jawa, dan yang pacaran banyak modus unjuk gigi di depan pacarnya. Kerena bebarengan dengan Car Free Day, maka keadaan fly over sangat penuh sehingga tidak kondusif untuk mengayuh sepeda dan terpaksa tuntun.  Barulah diarah sebaliknya kita bisa mengayuh menaiki fly over. Ternyata kecemasan saya tidak beralasan.

Perlu diketahui bahwa para peserta Fun Bike kebanyakan mereka yang sudah tahunan gowes, dan biasanya mereka mempunyai kecepatan luar biasa dalam menggowes. Jadi track Summarecon ini sangat mudah buat mereka, istilahnya hanya “hidangan pembuka” saja. Tapi memang suasana disini sangat enak dan nyaman untuk berolahraga, jadi goweser tiap hari pasti kesini. Namun bukan itu yang membuat saya kagum. Saya kagum karena mereka semua tidak ada yang memperlihatkan egonya. Bisa saja mereka menyalip kanan kiri, mengayuh cepat-cepat tidak memperdulikan sekitar. Tapi tak satu pun itu terjadi, setiap ada yang kelelahan tak jarang terdengar “ayo pak” “gowes terus bu” “ semangat-semangat”, juga tak segan memberi jalan buat anak-anak yang ikut serta atau mereka yang membonceng anaknya.  Saya jadi menyesal tidak membawa anak saya ikut serta, karena terus terang selain menjadi sehat, banyak hal yang dipelajari dari ajang ini.
Setelah garis finish barulah saya bertemu papah




Selain itu saya bertemu dua komuntas sepeda. Satu komunitas sepeda yang diikuti papah saya yaitu SOGO BAGASASI yang rata-rata anggotanya senior jempolan. Walau sudah senior tetapi endurance dan kecepatannya luar biasa, ga kalah sama muda (kalau saya sih kalah jauuuuuuuhhhhh banget sama mereka). Yang kedua SGB (Sobat Gowes Bekasi) ini komunitas yang diikuti suami saya, disini range umurnya lebih variatif, jadi kalau soal daya tahan dan kecepatan juga ga usah ditanya. Mereka ini juga yang tujuan gowesnya menarik.




Kesamaan dua komunitas ini. Mereka semua sangat ramah dan terbuka terhadap yang non-anggota seperti saya, bahkan saya langsung diajak ngobrol banyak walau baru sekilas berkenalan. Tak heran kekeluargaan di komunitas-komunitas sepeda ini begitu kuat. Saya juga berkesempatan bertemu dengan keluarga Bapak Ahmad Tandine ( Tandem Indonesia).  Keluarga ini mempunyai sepeda tandem yang unik, karena sepedanya merupakan hasil modifikasi sendiri, selain itu sepedanya juga memiliki solar panel yang bisa digunakan untuk charge handphone.






 Keriuhan suasana setelah fun bike terus berlangsung. Saya senang sekali bisa menjadi bagian fun bike kali ini. Sampai bertemu di fun bike berikutnya.







Monday, August 31, 2015

TERSESAT KE KLENTENG HOK LAY KIONG

Semenjak menemukan Curug Parigi, saya termotivasi untuk menemukan tempat menarik lainnya di seputaran Bekasi. Setelah browsing sana sini, saya menemukan beberapa nama tempat tujuan. Lalu dipilihlah tempat yang kira-kira saya kuat gowes kesana. Tujuan saya kali ini adalah klenteng Hok Lay Kiong yang menurut sejarah termasuk bangunan tertua di Bekasi.

Berbekal alamat hasil browsing yaitu Jalan Kenari 1 Margahayu.  Jam 6 pagi saya dan suami mengarahkan sepeda kami kearah tol Bekasi Timur, karena memang disanalah terletak perum Margahayu. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi hiruk pikuk mereka yang berangkat sekolah, berangkat kerja, ditambah mobil-mobil besar seperti truk, bus dan teman-temannya, cukup bikin saya deg-degan dan mengucurkan keringat.

Sekitar sejam kemudian sampailah kami di daerah perum Margahayu, di depan jalan yang bertuliskan Kenari raya. Merasa sudah dekat, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan klenteng, saya pun bertanya kepada tukang ojeg yang sedang duduk termenung.

 “Pak  maaf jalan kenari (belom selesai pertanyaan, beliau sudah memberi isyarat kearah jalan di seberang kami tadi). 
“Oh jadi kalau mau ke Klenteng kearah sana pak?” tanya saya lagi
“Hah apa?” Beliau langsung terkejut dan berdiri menghampiri saya
“Ke Klenteng pak”
“Ohh kalau Klenteng mah di proyek sana bukan disini, emang banyak yang suka salah trus nyasar kemari”
Saya yang masih dalam keadaaan terkejut dan ga terima kenyataan nanya “lah kan pak Margahayu disini”
“Iya neng proyek itu masuknya masih Margahayu, jalan Kenari 1, 2, dan 3 disana semua, disini mah yang 7 keatas”
“ Oh gitu pak, makasih banyak yah pak”
 (pada saat ini suami  senyum miris yang mengandung arti kan dibilangin juga apa, ga percaya sih)

Jadi yah rumah saya itu terletak di daerah mekarsari-kampung mede, dan yang namanya “proyek” itu adalah pusat perbelanjaan kaki lima (tapi sekarang udah ada Lottemart sih). Saya lahir, besar dan tinggal di Bekasi, ampe sekarang punya anak 1, udah selama itu baru kali ini saya tahu kalau ternyata yang namanya proyek itu adalah daerah Margahayu juga. Jarak rumah saya ke Proyek kalau naik sepeda mah 15 menitan juga nyampe...et dah bujugggg (kebayang kan sekarang kenapa saya kaget)

Langsung minta maaf ke akang suami atas ke sok tau-an saya. Jadi memang malamnya suami sempet browsing dan menunjukkan gambar arah ke klenteng yang letaknya dibelakang proyek. Saya ga percaya, karena gerbang yang biasa saya lihat dan yang hasil browsing beda. Lalu saya buka waze dan mencari Margahayu yang ditunjukkan ke arah gerbang Tol Bekasi Timur.

Udah capek tambah shock, bikin kaki lemes, ngaso dulu ah kebetulan pas berhenti di depan distributor kelapa ijo. Jadilah kita minum es kelapa seger murah meriah, segelas 4000 saja







Setelah motong jalan dan keadaan lalu lintas juga lebih bersahabat, tidak sampai setengah jam sampailah ke tempat yang dimaksud. Klenteng ini tentu saja sudah mengalami pemugaran, namun bangunan utamanya masih dipertahankan sesuai saat klenteng ini dibangun. Dan inilah Klenteng Hok Lay Kiong.















Tentu saja saya izin terlebih dahulu ke pengurus Klenteng, beliau juga tak segan menemani saya. Menurut keterangan beliau (maaf saya lupa namanya). Klenteng ini sudah berusia 350 tahun, tidak tahu kapan tepat berdirinya, tetapi setiap bulan april mereka memperingati ulang tahun Klenteng. Menurut beliau nama Hok Lay kiong , Hok dari Hoki/keberuntungan Lay Kiong selamat datang, jadi diharapkan yang datang kesana akan beruntung. Setelah ngobrol-ngobrol sejenak saya kemudian pamit dan izin untuk mengambil gambar. Walau sudah diberikan izin, namun saya hanya berani mengambil foto pada bagian luar saja, saya tidak ingin menyinggung, mengganggu atau bermaksud lancang. Karena tujuan saya kesini hanya ingin mengetahui seperti apa wujud salah satu bangunan tertua di Bekasi.







Menurut cerita orang sini, saat Imlek tentu saja daerah in, sangat ramai mulai dari riuh petasan ronceng, sampai ke pertunjukkan barongsai dan berbagai hiburan lainnya. Pada setiap bulan Agustus dalam memperingati hari Kemerdekaan biasanya klenteng ini juga berbagi sembako dengan masyakarat sekitar klenteng.


Jadi buat yang berminat kesana, udah tau kan margahayunya yang mana hehehe. Untuk akses kendaraan juga mudah, bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga sepeda, bisa juga dicapai dengan angkutan umum (koasi/angkot) yang melalui jalan di depan gang kenari 1.  Jangan lupa untuk bawa uang lebih, khususnya buat Ibu-Ibu bisa sekalian belanja apalagi jajanan tradisionalnya segala macam rupa ada, mau belanja perlengkapan dapur kalau sanggup bawanya yah silahkan                                                                                                                                                                                                                                                                          
Thursday, June 18, 2015

SUMANTRI VS MAD DOG


SUKRASANA PADA SUMANTRI:

SUMANTRI,
KAKAKKU YANG TAMPAN
APA YANG SEDANG MATI-MATIAN KAU BURU
BEGITU TERGESANYA, SAMPAI CINTA LUPUT KAU BAWA
BISA KULIHAT BETAPA GIGIHNYA KAU PERJUANGKAN SEMUA MIMPI
HINGGA HABIS RASA
KEJAYAAN TAK KURANG TAK LEBIH ADALAH BENIH
KADANG KALA DIA TUMBUH MENJADI KESOMBONGAN YANG MENJULANG

        -Lakon Sumantri Sukrasana oleh wayang urban Nanang Hape-





Panggung dipenuhi berbagai perlengkapan layaknya menonton wayang kulit. Namun kehadiran alat musik modern, disamping peralatan musik tradisional, membangkitkan rasa penasaran.
Satu persatu pemain musik tradisional muncul dan menempati posisinya masing-masing. Sang Dalang Nanang Hape, terlebih dahulu memperkenalkan filosofi dibalik Gunungan atau kayon. Kisah belum dimulai, namun saya sudah tercengang. Seperti yang tergambar pada Gunungan, manusia semasa hidup diberikan pilihan, namun pilihan itu kembali ke satu pucuk, yaitu jantung. Suatu saat jantung akan berhenti berdetak, dan ketika itu terjadi apakah pilihan itu sudah tepat.



Musik tradisional mengalun memenuhi ruangan. Sang dalang membuka kisah. Lalu tetiba satu persatu pemain lain muncul dan duduk bersama dalang. Candaan  dan perubahan musik dari tradisonal bercampur menjadi rasa kekinian, semakin membuat berdebar, menanti kejutan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dikisahkan kakak beradik Sumantri dan Sukrasana. Sumantri yang tampan dan gagah, demi mengejar ambisinya untuk menjadi yang  terhebat, meninggalkan adiknya Sukrasana yang buruk rupa namun sangat mencintai kakaknya. Setelah sampai ke negeri Mahespati, Sumantri mengabdi pada Prabu Harjuna Sastra . Tugas pertama Sumantri adalah memenangkan sayembara merebut putri cantik Citrawati dari negeri Magada.

Tak ada yang tetap pada lakon Wayang Urban ini.  Satu tokoh dapat diperankan oleh beberapa orang, atau bahkan setiap orang memiliki beberapa lakon, secara bergantian atau muncul bersamaan. Gimmick-gimmick pun tak berhenti disitu, para pelakon juga ternyata adalah para pemain musik.
Kemudian cerita bergulir. Sumantri berhasil memenangkan sayembara. Namun Sumantri merasa, apakah pantas sang Raja mendapatkan Putri Citrawati, karena bagaimanapun juga ialah yang memenangkan sayembara. Lantas Sumantri pun menantang sang raja untuk bertarung. Pertarungan terjadi, dan dimenangkan oleh sang Raja. Karena walau Sumantri sakti namun sang raja lebih sakti.









Namun adakah yang mengetahui jerit hati putri Citrawati? Yang dipertaruhkan dan diperebutkan bagai barang tak bernyawa?
Jerit hati putri Citrawati digambarkan jelas oleh nyanyian dan kata-kata dari dua wanita yang muncul



Tak mau menyerahkan diri begitu saja Putri Citrawati menantang Prabu Harjuna Sastra untuk memindahkan taman kesayangannya yaitu taman Sriwedari dari Magada ke Mahespati dalam satu malam saja. Tak kurang dan tak lebih satu helai daun pun.




Prabu Harjuna Sastra meminta sumantri untuk memenuhinya. Dan kebetulan Sukrasana yang sudah sangat merindukan kakaknya datang. Berkat Sukrasana keinginan yang sangat mustahil dilakukan itu, dapat terwujud. Namun karena suatu kesalahan, akhirnya Sumantri kehilangan pekerjaannya dan diusir dari kerajaan, iapun tak pelak menyalahkan adiknya Sukrasana. Panah dihunuskan ke jantung Sukrasana. Sukrasana mati karena tangan orang yang sangat dicintainya yaitu Sumantri. Sukrasana Mati karena ambisi Sumantri





Tepuk tangan tak berhenti untuk team Wayang urban dengan Dalang Nanang Hape. Saya belum pernah melihat wayang disampaikan dengan begitu bebasnya, begitu “slengean”, begitu dalamnya. Musik pun selalu berganti-ganti, pop, jazz, tanpa meninggalkan sentuhan Tradisi. Perasaan saya benar-benar dipermainkan, sebentar serius, sebentar tertawa, sebentar tercengang, sebentar bingung. Tak ada satu waktu dimana kami para penonton begitu larut dalam suatu perasaan tertentu. Atau jangan-jangan memang itu filosofi hidup yang ingin disampaikan. Jangan sampai kita berlarut-larut dalam suatu rasa sedih atau bahagia, karena semuanya akan bergulir dan berganti dengan cepat.

Mungkin jenis tampilan wayang ini “menabrak” dari yang sudah ada dan yang sudah dilakukan dari dahulu. Mungkin juga ada yang tidak setuju dengan gaya wayang seperti ini. Tetapi bagi saya pribadi, wayang ini mampu mengubah cara pandang saya. Dari momok yang membosankan dan susah dimengerti, menjadi sesuatu yang menarik dan mudah dipahami. Bahkan saya sempat tak percaya bahwa waktu satu setengah jam berlalu begitu saja.  Dan ketika sang dalang menyampaikan “ini lagu terakhir” saya masih sangat berharap itu hanyalah gimmick. Jika tujuan wayang urban ini adalah untuk menarik perhatian kaum muda, saya rasa cara ini akan sangat berhasil. Saya rasa tidak berlebihan jika saya menganggap Wayang Urban sebagai salah satu Mahakarya Indonesia.

Lalu apa kaitannya Mad Dog dalam cerita ini?,  Mad Dog adalah tokoh yang diperankan Yayan Ruhian pada film The Raid. Sebelum saya menceritakan lebih jauh. Perlu diketahui saya sangat ngefans dengan beliau. Jadi, yah bisa dibilang tulisan saya berikut ini sangat subyektif. Yaitu dari sisi seseorang yang sangat mengidolakan beliau



Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa satu tokoh bisa dimainkan oleh beberapa aktor. Yayan Ruhian muncul sebagai Sumantri ketika bertarung dalam sayembara memperebutkan dewi Citrawati. Kehadirannya hanya sekitar lima menit, namun memukau. Nama Yayan Ruhian dikenal setelah kesuksesan film The Raid. Walau sebelumnya ia juga tampil sebagai Erik dalam film  Merantau. Berkat film The Raid pula beberapa aktornya dikenal secara Internasional termasuk Yayan Ruhian. Nama Mad Dog pun sempat menjadi trending topic worldwide. bahkan sudah beredar selentingan berita bahwa iapun terlibat dalam film Star Wars terbaru. Banyak yang berpikir bahwa karirnya melesat begitu cepat.

Tapi untuk menjadi seorang Mad Dog, dibutuhkan kegigihan dan kesabaran. Butuh belasan tahun untuk menjadi sekuat dan selincah itu. Butuh kesabaran mendalami seni pencak silat, yang sudah ditinggalkan banyak orang. Bahkan saya sendiri mengenal pencak silat hanya sebatas mata pelajaran muatan lokal pada saat duduk dibangku sekolah menengah pertama dulu. Namun seorang Yayan Ruhian. dengan penuh bangga ia mengembangkan seni bela diri tradisional ini. Butuh dedikasi tanpa batas untuk meraih sukses. Dalam film jepang “Yakuza Apocalypse” garapan Takashi Miike seorang Yayan Ruhian harus mempersiapkan diri dan berlatih selama satu tahun. Berkat usahanya itu tak heran Ia dapat menjejakkan kakinya di red carpet cannes film festival dan Sundance Film Festival .Buat saya, prestasi yang diraihnya sudah sangat luar biasa mengingat beliau belum lama menghiasi layar lebar. Namun jika bertemu langsung dengan beliau, kesan yang ditangkap adalah sederhana, ramah, sopan dan  sedikit pemalu. Mungkin bahkan, jika berpapasan dengan beliau di suatu tempat kita tidak akan menyadari bahwa ia seorang bintang. Ia melayani dengan sangat baik siapapun yang bertanya, wawancara atau sekedar foto bareng. Tak jarang ia membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada lawan bicaranya, dan saya rasa gestur tersebut tidak bisa dibuat-buat kalau bukan karena kebiasaan.

Hingga kemarin ada seseorang yang bertanya pada beliau “akang kan sudah menjadi seorang bintang, kok masih aja sederhana?” . Beliau terdiam sesaat dan menjawab” Justru saya takut, saya takut tergoda, saya takut keluar dari diri saya yang begini, saya takut terlena dan tidak mengenal diri saya sendiri.”


Seperti dalang Nanang Hape bilang, hidup itu pilihan. Pilihan menjadi Sumantri dengan segala ketampanan dan kehebatannya namun terbutakan ambisi. Atau menjadi seorang Yayan Ruhian, yang awalnya tak dikenal kemudian berhasil menjadi bintang, namun justru takut terlena dunia.

Kembali saya mengutip, Ono dino Ono Tresno artinya Ada hari ada Cinta, Indah bukan jika setiap hari diwarnai dengan cinta. Tetapi sedikit ambisi bisa merubahnya menjadi Ono Dunyo Ono tresno: Ada Dunia Ada cinta, disini dunia yang dimaksud adalah materi. Cinta hanya muncul ketika materi terpenuhi, ketika uang adalah segalanya. Jadi siapakah yang akan kamu pilih? Menjadi Sumantri atau Mad dog?
Sunday, May 31, 2015

DEMI CURUG PARIGI

Berawal dari suami yang menunjukkan foto-foto bersama grup gowesnya.
“Wah bagus yah, ini di Bekasi?”
“Iya Bekasi. Di perbatasan Bantargebang sama Jonggol”
“Ih jadi pengen deh”
“Neng mau kesana?”
“Iya mau”
“Ya udah tapi berangkatnya jam setengah 6 pagi yah, biar ga terlalu panas”
“Lah emang ga bisa apa naik mobil aja?” (keliatan banget kan istrinya ogah capek)
“Ga bisa jalannya sempit kesananya” (sambil nunjukkin foto lainnya)
“Neng kan  ga pernah gowesan jauh, orang ngegowes aja paling banter Cuma ke Summarecon” (itupun baru 3 kali dalam 2 bulan)
“Yah kalau capek istirahat, pelan-pelan aja”

Setelah mengajukan beberapa argumen lainnya supaya kesana ga pake sepeda, akhirnya akang suami berhasil membujuk saya supaya supaya mau sepedaan. Berbagai persiapan pun disiapkan suami, mulai dari air putih yang udah dimasukkin kulkas malam sebelumnya, sampai kamera pocket buat keeksisan istrinya. Intinya mah yah semua digampangin supaya saya si istri ga capek dan ga banyak keluhan.

Lalu di hari Sabtu tanggal 30 Maret 2015 (harus banget ditulis, karena ini hari bersejarah buat saya) sehabis sholat subuh kita siap-siap. Dengan pedenya mulailah saya sang beginner goweser memulai perjalan ke Curug(Air Terjun) Parigi. Sebenarnya, saya suka deg-degan kalau gowes di jalan raya mengingat saya orangnya ceroboh tapi untung ada suami yang buka jalan jadi lebih yakin.




Daerah Curug Parigi ini ada di daerah perbatasan Bantar Gebang dan Jonggol Bogor.Kalau dari rumah saya yang ada di daerah Mekarsari Bekasi kami melewati rute kartini-pengairan- jalan raya narogong, kalau udah masuk daerah jalan raya Narogong udah tuh terus aja ke arah Bantargebang.
Sempat istirahat beberapa kali, di setiap berhenti tak lupa bertanya “ masih jauh ga kang?”. Barulah ketika sampai perumahan Vida, akang suami bilang “nah kalau dari sini tinggal 1-2 kilometer”. Kemudian kembali menggoweslah kami, sampai berhenti dan kita harus nyebrang gang yang dihimpit pabrik. Oh pantesan ngga mungkin pakai mobil, karena mau parkir di mana? Ga mungkin kan ninggalin mobil di Jalan raya dan jalan masuknya pun kecil (tapi ternyata bisa loh kalau mau pake sepeda motor. Langsung pemandangan jalan raya berganti dengan pemandangan, tanah merah yang lapang, ilalang dan bunga liar dipinggir jalan



Masih terus masuk lagi hingga melewati beberapa rumah penduduk kemudian ketemu jalan berbatu. Tidak ada petunjuk tentang keberadaan Curug Parigi, jadi kalau baru yang pertama kali kesini akan agak sulit menemukannya. Dari jalan berbatu kemudian melipir ke arah kanan dan tak jauh dari situ langsung terdengar suara deras air mengalir.
Tidak ada tempat parkir resmi maupun buatan, masuknya juga gratis, jadi hati-hati dengan kendaraan yang dibawa. Bahkan akang suami harus menggotong dua sepeda turun.






Dan inilah Curug Parigi









Mungkin ditempat lain banyak yang lebih bagus. Tapi buat saya yang orang Bekasi ga nyangka aja nemu Curug kayak gini di daerah Bekasi. Senang dan lega pastinya, capeknya terbayar lunas sama pemandangannya. Tapi yah memang airnya tidak jernih dan bening, warna airnya kecoklatan.
Sebelum pulang kami istirahat dulu di warung terdekat. Lumayan nemu kue cucur kedoyanan saya.





Sayangnya saya ga menemukan cerita atau keterangan lebih jauh soal Curug Parigi, bahkan mbah google pun isinya sama. Kenapa ga nanya sama yang jaga warung? Soalnya saya lupa, saking capek dan lapernya.

Dan barulah saya tau kalau jarak perjalanan yang ditempuh adalah 35 kilometer (bolak-balik).....mamaaaaaa ampunnn pantesan kaki pada kram. Kapok? Ngga kok malah jadi semangat nyari tempat tak terduga lainnya di Bekasi *sambilnempelinkoyo