Monday, September 21, 2015
HAVE FUN IN FUN BIKE (SUMMARECON BEKASI BICYCLE FEST 2015)
Udah pasti sering denger kan soal
Fun Bike? Berbagai macam event Fun Bike juga betebaran dimana-mana. Tapi fun
bike yang satu ini spesial...spesial buat saya, karena baru pertama kalinya
ikutan fun bike. Bahkan sebelum hari H pake acara latihan track fun bike dulu,
biar ga malu-maluin nantinya ketinggalan di belakang. Sebenernya track fun bike
sering saya lalui, cuma yang ini ditambah bolak balik ngelewatin Fly Over. Udah
pernah sih sekali nanjak lewatin fly over tanpa tuntun sepeda, tapi Cuma sekali
doang ga balik lagi, baliknya lewatin jalan lain karena ngos-ngosan. Kira-kira
berhasilkah saya lewatin fly over Summarecon Bekasi bolak-balik langsung?
Akhirnya hari H pun tiba, abis
sholat shubuh saya dan suami langsung siap-siap. Jam setengah 6 pagi kita udah
keluar rumah, ga nyangka Bekasi kalau subuh udaranya segar dan sejuk juga.
Cukup kaget, belum jauh keluar rumah dari berbagai penjuru jalan sudah mulai
bermunculan orang-orang dengan menggunakan
jersey Fun Bike, tidak saling kenal tapi kami saling menyapa. Semakin
lama semakin banyak orang yang
bermunculan, pagi itu sudah riuh dengan bunyi bel tanda menyapa dan saling
memberi semangat. Mungkin sepele, tapi
buat saya berada di suasana seperti ini menyenangkan.
Sampai di venue sudah ramai orang
berkumpul dari berbagai usia dan berbagai jenis sepeda. Ada yang memakai
identitas komunitas, ada yang sengaja “tampil” untuk acara hari ini.
Setelah berkumpul di garis Start,
kita pemanasan dulu. Bahkan suami saya yang anti senam pagi ikutan juga, karena
terbawa suasana dan semua orang pun melakukannya jadi kenapa ngga.
Dan Fun Bike Pun dimulaaaiiiii
5000 peserta memenuhi jalanan
Summarecon Bekasi. Bunyi klakson sepeda, suara sorak sorai yang membahana dari
ujung ke ujung barisan, memenuhi minggu pagi yang cerah. Hanya berada dalam
rombongan saja senangnya bukan main, ada-ada saja tingkah polah peserta. Ada
yang membunyikan klakson khas tukang roti (atau tukang kasur), ada yang memutar
lagu keras-keras dari lagu metal sampai gamelan jawa, dan yang pacaran banyak
modus unjuk gigi di depan pacarnya. Kerena bebarengan dengan Car Free Day, maka
keadaan fly over sangat penuh sehingga tidak kondusif untuk mengayuh sepeda dan
terpaksa tuntun. Barulah diarah
sebaliknya kita bisa mengayuh menaiki fly over. Ternyata kecemasan saya tidak
beralasan.
Perlu diketahui bahwa para
peserta Fun Bike kebanyakan mereka yang sudah tahunan gowes, dan biasanya
mereka mempunyai kecepatan luar biasa dalam menggowes. Jadi track Summarecon
ini sangat mudah buat mereka, istilahnya hanya “hidangan pembuka” saja. Tapi
memang suasana disini sangat enak dan nyaman untuk berolahraga, jadi goweser
tiap hari pasti kesini. Namun bukan itu yang membuat saya kagum. Saya kagum
karena mereka semua tidak ada yang memperlihatkan egonya. Bisa saja mereka
menyalip kanan kiri, mengayuh cepat-cepat tidak memperdulikan sekitar. Tapi tak
satu pun itu terjadi, setiap ada yang kelelahan tak jarang terdengar “ayo pak”
“gowes terus bu” “ semangat-semangat”, juga tak segan memberi jalan buat
anak-anak yang ikut serta atau mereka yang membonceng anaknya. Saya jadi menyesal tidak membawa anak saya
ikut serta, karena terus terang selain menjadi sehat, banyak hal yang
dipelajari dari ajang ini.
Setelah garis finish barulah saya
bertemu papah
Selain itu saya bertemu dua
komuntas sepeda. Satu komunitas sepeda yang diikuti papah saya yaitu SOGO
BAGASASI yang rata-rata anggotanya senior jempolan. Walau sudah senior tetapi
endurance dan kecepatannya luar biasa, ga kalah sama muda (kalau saya sih kalah
jauuuuuuuhhhhh banget sama mereka). Yang kedua SGB (Sobat Gowes Bekasi) ini
komunitas yang diikuti suami saya, disini range umurnya lebih variatif, jadi
kalau soal daya tahan dan kecepatan juga ga usah ditanya. Mereka ini juga yang
tujuan gowesnya menarik.
Kesamaan dua komunitas ini.
Mereka semua sangat ramah dan terbuka terhadap yang non-anggota seperti saya,
bahkan saya langsung diajak ngobrol banyak walau baru sekilas berkenalan. Tak
heran kekeluargaan di komunitas-komunitas sepeda ini begitu kuat. Saya juga
berkesempatan bertemu dengan keluarga Bapak Ahmad Tandine ( Tandem
Indonesia). Keluarga ini mempunyai
sepeda tandem yang unik, karena sepedanya merupakan hasil modifikasi sendiri,
selain itu sepedanya juga memiliki solar panel yang bisa digunakan untuk charge
handphone.
Keriuhan suasana setelah fun bike terus berlangsung.
Saya senang sekali bisa menjadi bagian fun bike kali ini. Sampai bertemu di fun
bike berikutnya.
Monday, August 31, 2015
TERSESAT KE KLENTENG HOK LAY KIONG
Semenjak menemukan Curug Parigi, saya termotivasi untuk menemukan
tempat menarik lainnya di seputaran Bekasi. Setelah browsing sana sini, saya
menemukan beberapa nama tempat tujuan. Lalu dipilihlah tempat yang kira-kira
saya kuat gowes kesana. Tujuan saya kali ini adalah klenteng Hok Lay Kiong yang
menurut sejarah termasuk bangunan tertua di Bekasi.
Berbekal alamat hasil browsing yaitu Jalan Kenari 1 Margahayu. Jam 6 pagi saya dan suami mengarahkan sepeda
kami kearah tol Bekasi Timur, karena memang disanalah terletak perum Margahayu.
Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi hiruk pikuk mereka yang
berangkat sekolah, berangkat kerja, ditambah mobil-mobil besar seperti truk,
bus dan teman-temannya, cukup bikin saya deg-degan dan mengucurkan keringat.
Sekitar sejam kemudian sampailah kami di daerah perum Margahayu, di
depan jalan yang bertuliskan Kenari raya. Merasa sudah dekat, tetapi tidak
menemukan tanda-tanda keberadaan klenteng, saya pun bertanya kepada tukang ojeg
yang sedang duduk termenung.
“Pak maaf
jalan kenari (belom selesai pertanyaan, beliau sudah memberi isyarat kearah
jalan di seberang kami tadi).
“Oh jadi kalau mau ke Klenteng kearah sana pak?” tanya saya lagi
“Hah apa?” Beliau langsung terkejut dan berdiri menghampiri saya
“Ke Klenteng pak”
“Ohh kalau Klenteng mah di proyek sana bukan disini, emang banyak yang
suka salah trus nyasar kemari”
Saya yang masih dalam keadaaan terkejut dan ga terima kenyataan nanya
“lah kan pak Margahayu disini”
“Iya neng proyek itu masuknya masih Margahayu, jalan Kenari 1, 2, dan
3 disana semua, disini mah yang 7 keatas”
“ Oh gitu pak, makasih banyak yah pak”
(pada saat ini suami senyum miris yang mengandung arti kan
dibilangin juga apa, ga percaya sih)
Jadi yah rumah saya itu terletak di daerah mekarsari-kampung mede, dan
yang namanya “proyek” itu adalah pusat perbelanjaan kaki lima (tapi sekarang
udah ada Lottemart sih). Saya lahir, besar dan tinggal di Bekasi, ampe sekarang
punya anak 1, udah selama itu baru kali ini saya tahu kalau ternyata yang
namanya proyek itu adalah daerah Margahayu juga. Jarak rumah saya ke Proyek
kalau naik sepeda mah 15 menitan juga nyampe...et dah bujugggg (kebayang kan
sekarang kenapa saya kaget)
Langsung minta maaf ke akang suami atas ke sok tau-an saya. Jadi
memang malamnya suami sempet browsing dan menunjukkan gambar arah ke klenteng
yang letaknya dibelakang proyek. Saya ga percaya, karena gerbang yang biasa
saya lihat dan yang hasil browsing beda. Lalu saya buka waze dan mencari
Margahayu yang ditunjukkan ke arah gerbang Tol Bekasi Timur.
Udah capek tambah shock, bikin kaki lemes, ngaso dulu ah kebetulan pas
berhenti di depan distributor kelapa ijo. Jadilah kita minum es kelapa seger
murah meriah, segelas 4000 saja
Setelah motong jalan dan keadaan lalu lintas juga lebih bersahabat,
tidak sampai setengah jam sampailah ke tempat yang dimaksud. Klenteng ini tentu
saja sudah mengalami pemugaran, namun bangunan utamanya masih dipertahankan
sesuai saat klenteng ini dibangun. Dan inilah Klenteng Hok Lay Kiong.
Tentu saja saya izin terlebih dahulu ke pengurus Klenteng, beliau juga
tak segan menemani saya. Menurut keterangan beliau (maaf saya lupa namanya). Klenteng
ini sudah berusia 350 tahun, tidak tahu kapan tepat berdirinya, tetapi setiap
bulan april mereka memperingati ulang tahun Klenteng. Menurut beliau nama Hok
Lay kiong , Hok dari Hoki/keberuntungan Lay Kiong selamat datang, jadi diharapkan yang datang
kesana akan beruntung. Setelah ngobrol-ngobrol sejenak saya kemudian pamit dan
izin untuk mengambil gambar. Walau sudah diberikan izin, namun saya hanya berani mengambil foto pada bagian luar saja, saya tidak ingin menyinggung, mengganggu atau bermaksud lancang. Karena tujuan saya kesini hanya ingin mengetahui seperti apa wujud salah satu bangunan tertua di Bekasi.
Menurut cerita orang sini, saat Imlek tentu saja daerah in, sangat
ramai mulai dari riuh petasan ronceng, sampai ke pertunjukkan barongsai dan berbagai hiburan lainnya. Pada
setiap bulan Agustus dalam memperingati hari Kemerdekaan biasanya klenteng ini
juga berbagi sembako dengan masyakarat sekitar klenteng.
Jadi buat yang berminat kesana, udah tau kan margahayunya yang mana hehehe.
Untuk akses kendaraan juga mudah, bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga
sepeda, bisa juga dicapai dengan angkutan umum (koasi/angkot) yang melalui
jalan di depan gang kenari 1. Jangan
lupa untuk bawa uang lebih, khususnya buat Ibu-Ibu bisa sekalian belanja
apalagi jajanan tradisionalnya segala macam rupa ada, mau belanja perlengkapan
dapur kalau sanggup bawanya yah silahkan
Thursday, June 18, 2015
SUMANTRI VS MAD DOG
SUKRASANA PADA SUMANTRI:
SUMANTRI,
KAKAKKU YANG TAMPAN
APA YANG SEDANG MATI-MATIAN KAU BURU
BEGITU TERGESANYA, SAMPAI CINTA LUPUT KAU BAWA
BISA KULIHAT BETAPA GIGIHNYA KAU PERJUANGKAN SEMUA MIMPI
HINGGA HABIS RASA
KEJAYAAN TAK KURANG TAK LEBIH ADALAH BENIH
KADANG KALA DIA TUMBUH MENJADI KESOMBONGAN YANG MENJULANG
-Lakon Sumantri Sukrasana oleh wayang urban Nanang Hape-
Panggung dipenuhi berbagai
perlengkapan layaknya menonton wayang kulit. Namun kehadiran alat musik modern,
disamping peralatan musik tradisional, membangkitkan rasa penasaran.
Satu persatu pemain musik
tradisional muncul dan menempati posisinya masing-masing. Sang Dalang Nanang
Hape, terlebih dahulu memperkenalkan filosofi dibalik Gunungan atau kayon.
Kisah belum dimulai, namun saya sudah tercengang. Seperti yang tergambar pada
Gunungan, manusia semasa hidup diberikan pilihan, namun pilihan itu kembali ke satu pucuk, yaitu jantung. Suatu
saat jantung akan berhenti berdetak, dan ketika itu terjadi apakah pilihan itu
sudah tepat.
Musik tradisional mengalun
memenuhi ruangan. Sang dalang membuka kisah. Lalu tetiba satu persatu pemain
lain muncul dan duduk bersama dalang. Candaan dan perubahan musik dari tradisonal bercampur
menjadi rasa kekinian, semakin membuat berdebar, menanti kejutan apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Dikisahkan kakak beradik Sumantri
dan Sukrasana. Sumantri yang tampan dan gagah, demi mengejar ambisinya untuk
menjadi yang terhebat, meninggalkan
adiknya Sukrasana yang buruk rupa namun sangat mencintai kakaknya. Setelah
sampai ke negeri Mahespati, Sumantri mengabdi pada Prabu Harjuna Sastra . Tugas
pertama Sumantri adalah memenangkan sayembara merebut putri cantik Citrawati
dari negeri Magada.
Tak ada yang tetap pada lakon
Wayang Urban ini. Satu tokoh dapat
diperankan oleh beberapa orang, atau bahkan setiap orang memiliki beberapa
lakon, secara bergantian atau muncul bersamaan. Gimmick-gimmick pun tak
berhenti disitu, para pelakon juga ternyata adalah para pemain musik.
Kemudian cerita bergulir.
Sumantri berhasil memenangkan sayembara. Namun Sumantri merasa, apakah pantas
sang Raja mendapatkan Putri Citrawati, karena bagaimanapun juga ialah yang memenangkan
sayembara. Lantas Sumantri pun menantang sang raja untuk bertarung. Pertarungan
terjadi, dan dimenangkan oleh sang Raja. Karena walau Sumantri sakti namun sang
raja lebih sakti.
Namun adakah yang mengetahui
jerit hati putri Citrawati? Yang dipertaruhkan dan diperebutkan bagai barang
tak bernyawa?
Jerit hati putri Citrawati
digambarkan jelas oleh nyanyian dan kata-kata dari dua wanita yang muncul
Tak mau menyerahkan diri begitu
saja Putri Citrawati menantang Prabu Harjuna Sastra untuk memindahkan taman
kesayangannya yaitu taman Sriwedari dari Magada ke Mahespati dalam satu malam
saja. Tak kurang dan tak lebih satu helai daun pun.
Prabu Harjuna Sastra meminta
sumantri untuk memenuhinya. Dan kebetulan Sukrasana yang sudah sangat
merindukan kakaknya datang. Berkat Sukrasana keinginan yang sangat mustahil
dilakukan itu, dapat terwujud. Namun karena suatu kesalahan, akhirnya Sumantri
kehilangan pekerjaannya dan diusir dari kerajaan, iapun tak pelak menyalahkan
adiknya Sukrasana. Panah dihunuskan ke jantung Sukrasana. Sukrasana mati karena
tangan orang yang sangat dicintainya yaitu Sumantri. Sukrasana Mati karena
ambisi Sumantri
Tepuk tangan tak berhenti untuk
team Wayang urban dengan Dalang Nanang Hape. Saya belum pernah melihat wayang
disampaikan dengan begitu bebasnya, begitu “slengean”, begitu dalamnya. Musik
pun selalu berganti-ganti, pop, jazz, tanpa meninggalkan sentuhan Tradisi. Perasaan
saya benar-benar dipermainkan, sebentar serius, sebentar tertawa, sebentar
tercengang, sebentar bingung. Tak ada satu waktu dimana kami para penonton
begitu larut dalam suatu perasaan tertentu. Atau jangan-jangan memang itu
filosofi hidup yang ingin disampaikan. Jangan sampai kita berlarut-larut dalam
suatu rasa sedih atau bahagia, karena semuanya akan bergulir dan berganti
dengan cepat.
Mungkin jenis tampilan wayang ini
“menabrak” dari yang sudah ada dan yang sudah dilakukan dari dahulu. Mungkin
juga ada yang tidak setuju dengan gaya wayang seperti ini. Tetapi bagi saya
pribadi, wayang ini mampu mengubah cara pandang saya. Dari momok yang
membosankan dan susah dimengerti, menjadi sesuatu yang menarik dan mudah
dipahami. Bahkan saya sempat tak percaya bahwa waktu satu setengah jam berlalu
begitu saja. Dan ketika sang dalang
menyampaikan “ini lagu terakhir” saya masih sangat berharap itu hanyalah
gimmick. Jika tujuan wayang urban ini adalah untuk menarik perhatian kaum muda,
saya rasa cara ini akan sangat berhasil. Saya rasa tidak berlebihan jika saya
menganggap Wayang Urban sebagai salah satu Mahakarya Indonesia.
Lalu apa kaitannya Mad Dog dalam
cerita ini?, Mad Dog adalah tokoh yang
diperankan Yayan Ruhian pada film The Raid. Sebelum saya menceritakan lebih
jauh. Perlu diketahui saya sangat ngefans dengan beliau. Jadi, yah bisa
dibilang tulisan saya berikut ini sangat subyektif. Yaitu dari sisi seseorang
yang sangat mengidolakan beliau
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya
bahwa satu tokoh bisa dimainkan oleh beberapa aktor. Yayan Ruhian muncul
sebagai Sumantri ketika bertarung dalam sayembara memperebutkan dewi Citrawati.
Kehadirannya hanya sekitar lima menit, namun memukau. Nama Yayan Ruhian dikenal
setelah kesuksesan film The Raid. Walau sebelumnya ia juga tampil sebagai Erik
dalam film Merantau. Berkat film The
Raid pula beberapa aktornya dikenal secara Internasional termasuk Yayan Ruhian.
Nama Mad Dog pun sempat menjadi trending topic worldwide. bahkan sudah beredar
selentingan berita bahwa iapun terlibat dalam film Star Wars terbaru. Banyak
yang berpikir bahwa karirnya melesat begitu cepat.
Tapi untuk menjadi seorang Mad
Dog, dibutuhkan kegigihan dan kesabaran. Butuh belasan tahun untuk menjadi
sekuat dan selincah itu. Butuh kesabaran mendalami seni pencak silat, yang
sudah ditinggalkan banyak orang. Bahkan saya sendiri mengenal pencak silat
hanya sebatas mata pelajaran muatan lokal pada saat duduk dibangku sekolah
menengah pertama dulu. Namun seorang Yayan Ruhian. dengan penuh bangga ia
mengembangkan seni bela diri tradisional ini. Butuh dedikasi tanpa batas untuk
meraih sukses. Dalam film jepang “Yakuza Apocalypse” garapan Takashi Miike seorang
Yayan Ruhian harus mempersiapkan diri dan berlatih selama satu tahun. Berkat
usahanya itu tak heran Ia dapat menjejakkan kakinya di red carpet cannes film
festival dan Sundance Film Festival .Buat saya, prestasi yang diraihnya sudah
sangat luar biasa mengingat beliau belum lama menghiasi layar lebar. Namun jika
bertemu langsung dengan beliau, kesan yang ditangkap adalah sederhana, ramah,
sopan dan sedikit pemalu. Mungkin bahkan,
jika berpapasan dengan beliau di suatu tempat kita tidak akan menyadari bahwa
ia seorang bintang. Ia melayani dengan sangat baik siapapun yang bertanya,
wawancara atau sekedar foto bareng. Tak jarang ia membungkukkan badan sebagai
tanda hormat kepada lawan bicaranya, dan saya rasa gestur tersebut tidak bisa
dibuat-buat kalau bukan karena kebiasaan.
Hingga kemarin ada seseorang yang
bertanya pada beliau “akang kan sudah menjadi seorang bintang, kok masih aja
sederhana?” . Beliau terdiam sesaat dan menjawab” Justru saya takut, saya takut
tergoda, saya takut keluar dari diri saya yang begini, saya takut terlena dan
tidak mengenal diri saya sendiri.”
Seperti dalang Nanang Hape
bilang, hidup itu pilihan. Pilihan menjadi Sumantri dengan segala ketampanan
dan kehebatannya namun terbutakan ambisi. Atau menjadi seorang Yayan Ruhian,
yang awalnya tak dikenal kemudian berhasil menjadi bintang, namun justru takut
terlena dunia.
Kembali saya mengutip, Ono dino
Ono Tresno artinya Ada hari ada Cinta, Indah bukan jika setiap hari diwarnai
dengan cinta. Tetapi sedikit ambisi bisa merubahnya menjadi Ono Dunyo Ono
tresno: Ada Dunia Ada cinta, disini dunia yang dimaksud adalah materi. Cinta
hanya muncul ketika materi terpenuhi, ketika uang adalah segalanya. Jadi
siapakah yang akan kamu pilih? Menjadi Sumantri atau Mad dog?
Sunday, May 31, 2015
DEMI CURUG PARIGI
Berawal dari suami yang
menunjukkan foto-foto bersama grup gowesnya.
“Wah bagus yah, ini di Bekasi?”
“Iya Bekasi. Di perbatasan Bantargebang sama Jonggol”
“Ih jadi pengen deh”
“Neng mau kesana?”
“Iya mau”
“Ya udah tapi berangkatnya jam
setengah 6 pagi yah, biar ga terlalu panas”
“Lah emang ga bisa apa naik mobil
aja?” (keliatan banget kan istrinya ogah capek)
“Ga bisa jalannya sempit
kesananya” (sambil nunjukkin foto lainnya)
“Neng kan ga pernah gowesan jauh, orang ngegowes aja
paling banter Cuma ke Summarecon” (itupun baru 3 kali dalam 2 bulan)
“Yah kalau capek istirahat,
pelan-pelan aja”
Setelah mengajukan beberapa
argumen lainnya supaya kesana ga pake sepeda, akhirnya akang suami berhasil
membujuk saya supaya supaya mau sepedaan. Berbagai persiapan pun disiapkan
suami, mulai dari air putih yang udah dimasukkin kulkas malam sebelumnya, sampai
kamera pocket buat keeksisan istrinya. Intinya mah yah semua digampangin supaya
saya si istri ga capek dan ga banyak keluhan.
Lalu di hari Sabtu tanggal 30
Maret 2015 (harus banget ditulis, karena ini hari bersejarah buat saya) sehabis
sholat subuh kita siap-siap. Dengan pedenya mulailah saya sang beginner goweser
memulai perjalan ke Curug(Air Terjun) Parigi. Sebenarnya, saya suka deg-degan kalau gowes
di jalan raya mengingat saya orangnya ceroboh tapi untung ada suami yang buka
jalan jadi lebih yakin.
Daerah Curug Parigi ini ada di
daerah perbatasan Bantar Gebang dan Jonggol Bogor.Kalau dari rumah saya yang
ada di daerah Mekarsari Bekasi kami melewati rute kartini-pengairan- jalan raya
narogong, kalau udah masuk daerah jalan raya Narogong udah tuh terus aja ke
arah Bantargebang.
Sempat istirahat beberapa kali,
di setiap berhenti tak lupa bertanya “ masih jauh ga kang?”. Barulah ketika
sampai perumahan Vida, akang suami bilang “nah kalau dari sini tinggal 1-2
kilometer”. Kemudian kembali menggoweslah kami, sampai berhenti dan kita harus
nyebrang gang yang dihimpit pabrik. Oh pantesan ngga mungkin pakai mobil,
karena mau parkir di mana? Ga mungkin kan ninggalin mobil di Jalan raya dan
jalan masuknya pun kecil (tapi ternyata bisa loh kalau mau pake sepeda motor.
Langsung pemandangan jalan raya berganti dengan pemandangan, tanah merah yang
lapang, ilalang dan bunga liar dipinggir jalan
Masih terus masuk lagi hingga
melewati beberapa rumah penduduk kemudian ketemu jalan berbatu. Tidak ada
petunjuk tentang keberadaan Curug Parigi, jadi kalau baru yang pertama kali
kesini akan agak sulit menemukannya. Dari jalan berbatu kemudian melipir ke
arah kanan dan tak jauh dari situ langsung terdengar suara deras air mengalir.
Tidak ada tempat parkir resmi
maupun buatan, masuknya juga gratis, jadi hati-hati dengan kendaraan yang
dibawa. Bahkan akang suami harus menggotong dua sepeda turun.
Dan inilah Curug Parigi
Mungkin ditempat lain banyak yang
lebih bagus. Tapi buat saya yang orang Bekasi ga nyangka aja nemu Curug kayak
gini di daerah Bekasi. Senang dan lega pastinya, capeknya terbayar lunas sama
pemandangannya. Tapi yah memang airnya tidak jernih dan bening, warna airnya
kecoklatan.
Sebelum pulang kami istirahat
dulu di warung terdekat. Lumayan nemu kue cucur kedoyanan saya.
Sayangnya saya ga menemukan
cerita atau keterangan lebih jauh soal Curug Parigi, bahkan mbah google pun
isinya sama. Kenapa ga nanya sama yang jaga warung? Soalnya saya lupa, saking
capek dan lapernya.
Dan barulah saya tau kalau jarak
perjalanan yang ditempuh adalah 35 kilometer (bolak-balik).....mamaaaaaa
ampunnn pantesan kaki pada kram. Kapok? Ngga kok malah jadi semangat nyari
tempat tak terduga lainnya di Bekasi *sambilnempelinkoyo
Subscribe to:
Posts (Atom)














































