Showing posts with the label : TRAVEL
Showing posts with label TRAVEL. Show all posts
Showing posts with label TRAVEL. Show all posts
Monday, May 14, 2018

JURUS MINIM GADGET SELAMA PERJALANAN




Kalau udah urusan perjalanan jauh, menjaga mood anak agar tetap enjoy gampang-gampang susah. Biasanya kalau udah enggak mood, kitanya juga udah capek, keluarlah itu si gadget andalan supaya anak anteng. Eitss tapi bisa kok diminimalisir penggunaan gadget selama perjalanan, ini sih jurus-jurus yang saya lakukan kalau pergi-pergi dengan anak saya Rayyan (5 thn).

Saya termasuk ke dalam emak rempong kalau dalam urusan nyiapin perjalanan beserta tetek bengeknya.  Kalau dulu jaman masih single setiap pergi-pergi diusahain bawaan seringkes mungkin. Nah, sekarang udah jadi Ibu beranak satu, kalau bisa kamar beserta isinya ikut dibawa.  Alasan kerempongan ini supaya kebutuhan anak kebawa semua sehingga anak nyaman diperjalanan, mulai dari baju, obat-obatan, makanan, cemilan, peralatan mandi, selimut dll. Baru satu anak aja udah heboh bener yah, makanya saya salut banget deh ama Ibu-Ibu yang anaknya lebih dari satu terus menempuh perjalanan jauh, kalian hebat.

Nah setelah kerempongan tadi, saya dulu kesulitan nih nentuin bawa mainan buat si Rayyan, karena biasanya mainannya gede-gede terus enggak lama bosen juga akhirnya keluarlah jurus andalan si gagdet. Tapi enggak mau begitu terus, akhirnya saya nyari cara supaya anak tidak bosan dijalan. Jujur aja Rayyan kalau lagi dijalan (karena di rumah udah enggak boleh sama sekali) masih sesekali kita kasih gadget, khususnya kalau lagi makan. Ayah lelah, bunda cranky kelaperan tapi bocahnya maunya lari-larian ngiterin resto, supaya Ayah bisa makan dengan enak, Bunda enggak ngamuk karena kelaperan jadi biasanya pas makan (doang) kita kasih. Semua bisa makan dengan tenang di meja.

Udah pernah denger soal busy book atau busy bag? Ya ini konsepnya sebenernya enggak jauh dari situ. Saya suka banget dengan busy book dulu sempet bikin sendiri, tapi lama kelamaan hancur dan anaknya bosan. Akhirnya saya ganti dengan busy bag yang isinya sebagian besar saya beli jadi aja, karena kalau dihitung segi biaya yah kurang lebih aja harganya, dan juga mempertimbangkan waktu buat bikinnya, tapi memang kalau busy book atau busy bag yang handmade lebih seru dan lebih kreatif.  Apa aja isi  busy bag Rayyan atau jurus minim gadgetnya?, oh iya cara ini sih cocoknya untuk anak 3-5 tahun, karena semakin besar biasanya anak sudah bisa menentukan sendiri apa saja yang dia suka dan mau bawa.


Sebelum kita bahas apa aja isinya, ada beberapa pertimbangan dalam menentukan isinya.
1. Pastikan isinya berbeda dengan mainan yang biasa dimainkan sehari-hari, karena biasanya kalau mainan baru enggak bakal cepet bosen. Lah terus beli baru mulu gitu? Yah enggak gitu juga ada beberapa mainan/barang yang saya simpen dan dikeluarin satu-satu khusus untuk bepergian aja, kalau udah balik ke rumah yah diumpetin lagi.
2.       Bisa dipakai berulang kali dan tahan lama. Kan biar ngirit ga beli-beli mulu
3.       Ukurannya sedang. Kalau terlalu besar kita yang repot, kalau terlalu kecil gampang hilang.
4.       Harga, sering-sering survey ke toko buku atau toko mainan di beberapa mall atau supermarket (pas surveynya jangan langsung beli yah) karena suka ada beberapa toko mainan atau supermarket yang suka ngasih diskon, atau lebih murah dari toko lainnya.
5.       Darat, Laut atau Udara?. Kalau naik mobil sih mau bawa mainan atau perlengkapan anak sebanyak-banyaknya silahkan aja selagi masih muat. Tapi kalau udah naik kereta, kapal, atau pesawat ini yang mesti dipertimbangkan besar serta beratnya.
6.       Variasi. Semakin banyak variasi yang dibawa semakin bagus
7.       Sesuaikan dengan kesukaan anak, karena tiap anak beda-beda hobinya.

Ok isinya apa aja:
·         Wipe clean Flash Card
Pertama wipe clean flash card, sebenernya ini versi ringkasnya dari buku-buku yang wipe clean. Tapi kalau buku-buku itu gampang rusak dan lembarannya suka copot, yang ini bentuknya kartu satuan dan udah pasti lebih ringan beratnya.  Kalau yang saya beli ini versi angka 1-15 dan setiap angka ada 2 versi, lumayan kan ada variasinya bisa ganti-gantian. Selain buat belajar mengenal angka, juga bisa sekaligus untuk latihan menulis.
 
Ini dibawa satu set seri aja

·         Play doh.
Sbenernya saya sama Play doh semacam Love-Hate Relationship. Sukanya ini bisa bikin Rayyan anteng banget di mobil bahkan sampai makan di resto pun bisa anteng dan gadget enggak perlu dikeluarin. Cuma dia nih kalau udah main enggak bisa berhenti, ampe play dohnya kering dan bergerindil jadi aja hambur dimana-mana dan keras terus ngga bisa dipakai lagi. Akhirnya saya beli yang versi kecil-kecilnya aja biar enggak rugi-rugi amat dan khusus play doh beneran dikeluarin kalau emang mau pergi-pergi aja. Cara irit play doh lainnya, yaitu nyari yang secup gede harga 10 rb (yesss sempet nemu dong yang play doh asli 10 rb ajah, langsung nyetok). Kalau alat yang sebelahnya sih beda brand, tapi karena simple jadi saya beli yang itu aja.





      

·         Papan Tulis magnetik.
ini favorit banget baik buat saya, karena ga kotor kemana-mana, make berulang kali bisa, ketumpahan air ga rusak. Untungnya si Rayyan favorit banget sama ini juga. Kalau untuk traveling saya cariin yang ukurannya muat masuk tasnya si  Rayyan aja. Lalu karena pulpen/pensil magnetnya mudah hilang, pastikan saat membeli ada tali yang diikat ke papan jadi enggak mudah hilang.



·         Crayon atau Alat pewarna lainnya.
Masih berhubungan gambar menggambar, tetap bawain crayon atau pensil warna, sekali lagi disesuaikan dengan kesukaan anak, kebetulan anak saya lagi suka-sukanya nyorat-nyoret. Terus jangan lupa bawain buku gambar, kalau buku gambar dirasa terlalu besar dan cepat habis, bisa juga bawa kertas bekas yang dipotong-potong kayak gini.






·         Puzzle.
Nah ini saya beli 40 ribu langsung dapat 3, bisa deh nih diputer-puter terus serinya. Sebenernya ada juga yang 40 ribu dapet empat tapi perhatikan kualitasnya, karena kita kan maunya awet dan bisa dipakai berulang kali.
 
ini yang dibawa cuma satu, sisanya diumpetin buat lain waktu.


·         Buku favorit
Walau Rayyan umur udah 5 tahun saya masih suka beliin buku untuk umur anak dibawahnya. Karena lebih banyak gambar dan interaktif dibanding yang banyak tulisannya. Lagipula anaknya juga belum bisa baca. Jumlah buku yang dibawa biasanya minimal 2, untuk alasan variasi, tapi sekali lagi tergantung berat dan keribetannya, kalau dirasa masih oke, lansung aja dibawa

Buku yang Hitam bisa dibuka tutup flap halamannya, buku yang di bawahnya bisa digeser, ditarik, diputar



Itu dia jurus-jurus minim gadget ala saya biar anak anteng selama traveling. Biasanya kalau semua jurusnya udah keluar anak masih cranky pertanda bocahnya laper, jadi biasanya saya selalu bawa snack dan buah kesukaan Rayyan yang banyak (lika mother like son, laper dikit cranky). Kalau ibu-ibu lain gimana pengalamannya? Siapa tau ada jurus-jurus lain yang bisa jadi inspirasi buat saya untuk perjalanan berikutnya.

Tuesday, February 13, 2018

Berjalan Mengenal Chinatown-nya Jakarta





Beberapa tahun silam saya pernah mendengar mengenai Jakarta Walking Tour saat itu saya berniat “wah harus nyoba nih” tapi rencana tinggal rencana. Hingga beberapa waktu lalu saya iseng datang ke salah satu cara temu blogger, dimana mendatangkan pembicara yang merupakan founder dari Jakarta Good Guide yaitu Farid Mardhiyanto. Disana saya terpukau dengan pemaparan beliau mengenai sudut-sudut kota Jakarta, dan dari situ saya berniat, pokoknya saya harus nyoba walking tour ini. Seolah semesta menjawab, di hari yang sama saya melihat postingan mereka mengenai paket Chinesse New Year Walking Tour. Tanpa pikir panjang langsung aja daftar.
Sebenarnya China town tour ada 3x seminggu, namun bedanya kali ini adalah di meeting pointnya kalau biasanya di Candranaya, yang ini dimulai dan berakhir di “Semasa di Kota tua Café” yang terletak di Gedung Olveh. Hujan yang sudah turun terus menerus selama seminggu membuat saya sedikit khawatir, akhirnya saya membawa baju ganti, payung dan jas hujan pokoknya “the show must go on”. Alhamdulillah dari pagi hingga dimulai acara jalan-jalannya matahari bersinar cerah. Karena banyaknya peserta mendaftar hingga kami dibagi menjadi 4 grup, masing-masing grup terdiri sekitar 20 orang.
Jam 9 lewat setelah pembagian kelompok kami pun menuju kearah Glodok dengan Evan sebagai Tour Guide kami.



Tempat pemberhentian pertama kami adalah Pantjoran Tea House. Pada tahun 1928 gedung ini adalah “Apothek Chung Hwa” sejak dahulu daerah ini memang menjadi pusat perniagaan. Banyak orang yang berdagang atau berlalu lalang di daerah ini nampak lelah dan kehausan. Sehingga Kapiten Gan Djie (Kapiten pada masa itu, adalah seperti halnya Lurah di masa sekarang) dan istrinya meletakkan delapan (pat) teko air teh dan gelas yang dapat diminum bagi siapa saja. Tradisi Patekoan ini diteruskan hingga saat ini.







Pada tahun 1957 Apothek Chung Hwa ditiadakan, dan semenjak saat itu Gedung ini dibiarkan kosong begitu saja. Lalu pada Desember 2015 Jakarta Old Town Revitalization Corp menyelesaikan revitalisasi dan menjadikan gedung ini sebagai gedung “Pantjoran Tea House”
Selanjutnya kami pun menelusuri Pasar Petak 9, dan kami sempat melewati Toko Obat Bintang Terang yang sudah berdiri selama 80 tahun.



Jalanan di pasar petak 9 cukup sempit ditambah motor yang turut lewat, namun tidak menyurutkan kekaguman saya, banyak hal yang tidak saya temui di pasar-pasar pada umumnya. Suasana pasar ini mengingatkan saya pada Pasar Pembauran di Semarang.



Teripang yang dikirm langsung dari Bangka, dijual dengan harga mulai dari 750 ribu rupiah




Selanjutnya sampailah kami di Vihara Dharma Bhakti yang merupakan Klenteng tertua di Jakarta.









Lalu kami menelusuri jalan kemenangan atau toa se bio. Hanya disinilah kita dapat melihat jalan yang masih memiliki altar persembahyangan 




Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Santa Maria De Fatima, uniknya gereja ini mengambil bentuk rumah tradisional Cina, saya bahkan sempat berkali-kali bolak balik mengecek plang namanya dan memastikan ini sebuah gereja.





Selanjutnya kami menuju ke daerah Kalimati. Namun sebelumnya kami berhenti sejenak di Vihara Toa Se Bio




Jika tadi Pasar petak 9 sudah cukup sempit di  Gang Kalimati yang menembus ke Gang Gloria sangat sempit sekaliiiii, 2 orang berjalan bersamaan saja rasanya sulit. Di gang ini dipenuhi pedagang di kiri kanan jalan. Bau berbagai masakan menguar di sepanjang gang. Pada zaman orde baru orang Tiong Hoa di Indonesia tidak boleh melakukan berbagai aktivitas pekerjaan, oleh karena itu mereka berdagang secara sembunyi-sembunyi, walau peraturan tersebut kemudian dicabut. Namun gang ini tetap digunakan untuk berniaga.




Setiap sekali dalam setahun yaitu menjelang Imlek. Patung dewa-dewa diturunkan dan dibersihkan dengan pembersih khusus dan juga dibilas dengan air kembang.







Di Gang Gloria banyak sekali ditemui penjual Cempedak goreng, buat beberapa orang mungkin aneh. Tetapi Ibu saya pun biasa membuat ini di rumah.


Di akhir perjalanan kami menuju ke Semasa di Kota Tua Café, dimana Tea Ceremony sudah menanti kami, dan rasa green tea yang disajikan ite enak sekali, jauh berbeda dengan yang biasa saya konsumsi. 






Saya tak bisa menceritakan atau mengabadikan banyak-banyak karena saya sempat ketinggalan rombongan karena keasikan foto, dan lebih seru juga daripada moto kita mendengarkan cerita guide atau berinteraksi denga kawan grup atau masyarakat sekitar. Jujur aja sekali tuh kurangggg banget,  bahkan setelah acara bubar saya baik lagi ke pasar petak 9 dan makan siang di Pantjoran Tea House. Pokoknya saya niat mau ikutan lagi.
Wednesday, August 24, 2016

Solo To Cirebon

Seperti yang lainnya saya pun punya Bucket List tadinya sih judulnya “30 list” karena targetnya di usia 30 list itu sudah terpenuhi, tapi di umur 31 ini seperempatnya aja belom kesampean. Kenapa bucket list ini perlu?? Mengambil dari buku mas Agung Prasetyo berjudul menjaga Api, beliau berkata “tetaplah bermimpi, dan jika mimpi ini sudah terwujud carilah mimpi-mimpi yang lain untuk diwujudkan, untuk menjaga api dalam diri kita tetap berkobar. Api yang  memotivasi kita untuk terus bergerak” kira-kira seperti itu, nah pas baca bagian itu jlebbb banget rasanya, karena sepertinya “api” saya sudah mulai meredup. Jadilah saya membuat si 30 list tadi.

Dua hal diantara list tersebut adalah naik kereta keluar kota dan solo traveling. Iyaaaa cemen bgt kan keinginannya, biarin emang saya belom pernah. Bukan berarti saya ga pernah naik kereta sama sekali, karena saya adalah penggemar commuter line tapi yah itu tadi belum pernah naik kereta jarak jauh keluar kota, pengennnn banget rasanya. Kemudian Solo traveling disini maksudnya pergi ke daerah lain, nginep, bukan janjian atau ketemuan dengan temen di daerah tujuan, apalagi ke rumah saudara, tapi emang jalan aja sendirian. Akhirnya saya berhasil mencoret dua list tersebut. Tadinya sih pengennya ke Solo atau Jogja gitu, tapi karena waktu dan dana yang tidak memungkinkan, terpilihlah Cirebon untuk dikunjungi.

Beruntungnya seminggu sebelum berangkat pas banget saya baca banner di stasiun kereta, semenjak bulan agustus kereta menuju Cirebon berhenti di Bekasi, yeayyyy jadi ga perlu repot ke Gambir dulu. Padahal sebelumnya saya udah bingung duluan, mesti jam berapa ke Gambir dan ngambil ke kereta jam berapa ke Cirebon. Karena kalau ngambil kereta pagi harus berangkat sebelum subuh, perkiraan jam 4 pagi udah harus berangkat. Minta anterin suami ga mungkin, karena anak ga ada yang jagain, anaknya dibawa ga mungkin juga bisa nangis drama tak berkesudahan ngeliat emaknya pergi (karena pernah kejadian paksu nyenggol motor gara-gara ini). Pake taksi online kasian abangnya belom pada bangun. Begitulah keruwetan pikiran saya (rumit banget emang hidupnya). Tapi kalau berangkat dari Bekasi, minusnya ga ada kereta yang pagi banget, adanya mulai dari jam 09.30.

Berangkatlah saya ke Cirebon pada tanggal 12 Agustus 2016, sengaja ga pake sarapan. Noraknya saya, baru tahu sekarang di stasiun udah bisa self check in, tinggal masukkin kode booking di mesinnya, print boarding pass, udah beres ngga usah lama ngantri. Beli tiketnya juga ngga ngantri udah bisa online atau di Indo****t terdekat.  Saking senengnya ampe di kereta ga tidur, terus aja ngeliat jendela yang pemandangannya berubah dari perumahan-perumahan yang dempet dan sumpek menjadi hamparan hijau persawahan, gitu aja udah seneng.

Sekitar jam setengah 1 siang sampailah saya di Cirebon, disambut tukang-tukang becak yang terlalu antusias untuk ngambil penumpang, sampai ngikutin ke depan toilet.



 Alasan berangkat ga sarapan dulu soalnya mau makan kalap di Cirebon. Jadi sebelum memulai berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di Cirebon, makan dululah. Tujuan utama saya itu udah pasti Empal Gentong tapi untuk detail kuliner di post terpisah karena kalau dicampur bakal panjang banget (karena saya makan mulu). Tadinya mau makan yang dekat dari stasiun aja yaitu Empal Gentong krucuk karena udah tau harus naik angkot apa dan berhenti dimana. Tapi menurut temen saya paling enak itu Empal Gentong Bu Darma/ Mimi Tiyah, dan berhubung buta sama sekali soal Cirebon akhirnya saya memilih naik becak (mungkin tukang becaknya pada kesel yah, setelah tadi sok-sokan nolak jual mahal ujungnya naik becak juga) ternyata letaknya hanya berseberangan blok dari si empal gentong krucuk, kalau krucuk ke kiri, Bu Darma ke kanan.



Setelah kenyang saya memutuskan untuk pergi ke Keraton Kanoman, dari seberang empal gentong Bu Darma cukup naik angkot D2 dan berhenti di depan gapura pasar Kanoman. Karena sempet bingung nyari keraton tapi kok yah ini pasar, jadi ga sempet foto-foto di pasar, fokus nyari keraton. Memang harus nanya beberapa kali buat akhirnya nemuin keraton Kanoman.
Sebelum masuk ke keraton, mampir dulu ke Masjid Agung Kanoman, sebenarnya masjid ini tidak terlalu besar, tapi terlihat dari luar masjid yang didominasi warna hijau tua ini sangat bersih dan terawat. Padahal bisa dibilang bangunan ini termasuk bangunan tua.
Masuk ke Keraton kanoman, kesan yang saya dapatkan justru terlihat berantakan dan tak terawat. Rumput liar tumbuh tak beraturan, serakan daun-daun kering disana sini. Untuk tiket masuk ke museumnya dikenakan 7000 rupiah, tapi lagi-lagi yang saya dapatkan peninggalan barang yang tak terawat dan ruangan yang agak “spooky”. Karena diharuskan menggunakan guide untuk masuk ke dalam maka saya bergabung dengan dua orang bapak dan anak yang sedang melakukan penelitian skripsinya. Kecuali ruang dalem utama yang terlihat bersih,  kesan yang saya dapatkan di tempat lainnya tidak jauh beda dengan keadan lokasi sebelumnya yaitu berantakan dan tak terurus .








Pintu ukir yang menceritakan kapan Keraton Kanoman dibangun

Kolam batu disebelah kiri dan kanan singgasana merupakan sistem pendingin ruangan tradisional


Menurut guidenya disini terdapat Mesjid pertama di Cirebon tapi secara wisata atau sejarah tidak terlalu di expose. Pintu dari jaman dibangunnya masjid ini masih dipertahankan hingga sekarang






  Setelah ke Keraton Kanoman saya menuju ke Keraton Kasepuhan, menurut guidenya saya bisa mengambil jalan dari pintu belakang menuju jalan besar kemudian dari sana naik becak Rp.5000 saja. Sampai di Keraton Kasepuhan membayar tiket masuk Rp.15.000, sebelum masuk saya melihat rumah ini, suka banget, ukurannya pas dan terlihat nyaman.




Di depannya terlihat Siti Inggil yang dikelilingi batu bata merah. Kalau disini terlihat rapih dan sangat terawat baru sampai depannya aja saya udah suka. Mudah-mudahan ini bukan hanya karena ada acara Culture Fest yang akan berlangsung, dan hari itu malamnya akan ada acara pembukaan yang dihadiri oleh Sultan. 










Lanjut kedalam, untuk tempat barang-barang antiknya ga jauh beda dengan keraton kanoman. Disini tanpa saya mintapun sudah ada guide yang ngintilin, jadi mau ga mau ditemenin lagi.




Lukisan Prabu Siliwangi, kemanapun kita bergerak matanya akan mengikuti arah kita

Guide yang ini sedikit-sedikit menawarkan saya untuk berfoto, entah di Gapuranya, di sumur bandung, di tempat pertapaan dan lain-lain, tetapi saya menolak karena tampang saya udah pasti kucel karena keringetan, karena matahari saat itu tersenyum lebar. Semakin ke belakang saya semakin suka, walau panas tapi terlihat sangat asri






Akhirnya sang guide berhasil membujuk saya untuk foto disini beberapa kali, dengan diarahkan posisinya supaya “kuda” dibelakang saya terlihat.








Lanjut ke ruang dalam utama. Sayangnya sekarang ruangan ini sudah tidak terbuka untuk pengunjung, hanya bisa mengintip dari balik teralis jendela.




Setelah itu saya megunjungi satu ruangan lagi yang juga menyimpan benda-benda bersejarah









Karena saking sukanya ama tempat ini bahkan saya mengulang kembali berkunjung ke siti inggil.


Lingga Yoni





Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, bapak guide menyarankan saya untuk pergi ke pantai Kajawan begitu mengetahui saya akan pergi ke Goa Sunyaragi. Menurut beliau Goa Sunyaragi biasanya tutup jam 5 sore. Karena terburu-buru saya lupa menanyakan angkutan umum untuk menuju kesana, jadilah saya naik becak.

Kali ini saya mau puk-puk abang becaknya, ternyata dari Keraton Kasepuhan ke Gua Sunyaragi jauhhhhh banget, si abang becak pun terlihat ngos-ngosan dan saya beberapa kali meminta maaf kepada beliau karena bukan maksud ngerjain tapi saya emang ngga tau. Karena tidak ada penolakan sama sekali dari si tukang becak begitu mengetahui tujuan saya, biasanya kan becak  kalau tempatnya jauh bakal protes duluan kalau ga masang harga tinggi. Tapi emang becak di Cirebon baik-baik, selalu iya saja dan jarang protes harga. Dari beberapa kali saya naik becak selama di Cirebon hanya satu yang minta ongkos lebih itupun karena saya tahu orang dari luar kota.
Berhubung saya naik becak datangnya dari arah belakang tempat wisata Gua Sunyaragi jadi saya sudah bisa melihatnya, bikin ga sabar pengen cepet masuk karena tempatnya unik banget. Untuk masuk kesini harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000.
Dari pintu masuk saya melewati amphitheater yang cukup besar. Kemudian barulah terlihat Gua Sunyaragi.
Gua Sunyaragi dikenal sebagai tempat peristirahatan atau tempat meditasi para Sultan dan keluarganya.



Sepertinya dari tiga tempat yang saya datangi ini yang paling saya suka. Disini seperti labirin kita tidak tahu jalan yang mana mengarah kemana atau ruangan yang sepertinya terpisah dari yang lain ternyata jika kita mengikuti jalan tertentu bisa mencapainya. Satu hal yang kurang saya suka cuma satu, pintu guanya sempit bangetttt, susah lewat buat badan kayak saya mesti dietnya kayaknya. Jadi saya kurang banyak masuk melewati pintu-pintu gua memilih lewat jalan luar.













Maaf kalau hasil foto saya kurang bisa menggambarkan keunikan Gua ini. Hari pun segera berganti malam, saya memutuskan untuk ke Hotel. Dari Gua Sunyaragi menuju ke Cirebon Superblock Mall dimana lokasi hotel saya berada, saya cukup satu kali naik angkot yaitu D3 Cuma untu nemu angkot D3 ini, saya harus jalan ke pertigaan yang katanya dekat. Ternyata harus jalan kurang lebih 30 menit untuk dapat angkot D3. Hotel yang saya tempati, lokasinya strategis dan terasa aman karena satu lingkungan dengan salah satu mall di Cirebon, udah pasti gampang cari makan. Dengan menggunakan salah satu aplikasi travel, per malamnya dihargai 200 ribu sudah termasuk sarapan. Saya cukup puas dengan hotelnya walau sprei dan sarung bantal sedikit kusam, tetapi untuk kebersihan cukup memuaskan. Malamnya karena bingung mau ngapain lagi, setelah makan malam saya memutuskan nonton di Mall sebelah.

Esok harinya saya masih punya waktu untuk berkunjung ke Batik Trusmi, setelah skip sarapan di Hotel dan memilih sarapan Nasi Jamblang. Setelah itu dengan menggunakan angkot GP saya menuju kesana. Sekitar 20 menit perjalanan saya sampai di kawasan Batik Trusmi, dari Gapura saya memilih berjalan kaki karena memang tidak terlalu jauh.







ahhh lantainya aja full batik

Kalau masuk sini sih bingung liat beragam warna dan corak kain, dengan berbagai variasi harga ada yang 100 ribu dapat tiga, adapula yang jutaan. Biar puas saya sampai keliling dua kali dari depan ke belakang. Akhirnya mutusin beli kemeja batik buat oleh-oleh anak saya yang udah ditinggal emaknya “me time”, kaos kaki batik dan sirup Jeniper (jeruk nipis peras), kenapa ga beli kain batiknya? Selain bingung milihnya, niat dalam hati pasti balik lagi ke Cirebon jadi belinya nanti aja.

Iseng-iseng masuk ke Batik Kitchen yang ada disebelahnya, karena dari kemarin belum ngopi jadi sambil menghabiskan waktu ngopi dululah.

latte art yg cukup gagal

Ok masih ada waktu, tadi menuju ke arah Trusmi saya ngeliat dua tempat makan yang juga sangat terkenal yaitu Amarta dan Haji. Apud. Karena belom kesampean makan sate kambing muda dan kecewa sama sarapan tadi pagi….jadilahh hajarrr ke Haji Apud. Beuhhhh puas lahir bathin lah makan sate kambing muda, tahu gejrot, dan ga lupa bungkus empal gentong oleh-oleh buat Pak Suami yang udah baik hati ngijinin ke Cirebon.






Begitulah short vacation ke Cirebon. Pastinya pengen balik lagi kesini, karena masih banyak list kuliner yang belom dicobain.

Buat yang mau ke Cirebon ada sedikit tips:
1. Bawa receh yang banyak, saya sengaja nuker 100 rb buat receh dan habis ga terasa. Buat angkotlah,becak, karcis masuk, tips buat guide dll. Standar tarif angkot dekat-jauh 4000 rupiah.
2   2.  Bawa Sunblock atau pakai topi, beneran mataharinya sangar….waktu nyari Keraton Kanoman saya lupa pakai, pas wudhu berasa perihnya muka kebakar, abis itu oles terusss
3    3.    Bawa Minum kalau perlu infused water (ini sih supaya ga terlalu ngerasa bersalah makan banyak di Cirebon)
4   4.  Kalau mau naik becak tanya dulu tarif standarnya ke guide atau orang sekitar

Cirebon..i’ll be back