Tuesday, February 13, 2018
Berjalan Mengenal Chinatown-nya Jakarta
Beberapa tahun silam saya pernah
mendengar mengenai Jakarta Walking Tour saat itu saya berniat “wah harus nyoba
nih” tapi rencana tinggal rencana. Hingga beberapa waktu lalu saya iseng datang ke
salah satu cara temu blogger, dimana mendatangkan pembicara yang merupakan
founder dari Jakarta Good Guide yaitu Farid Mardhiyanto. Disana saya terpukau
dengan pemaparan beliau mengenai sudut-sudut kota Jakarta, dan dari situ saya berniat,
pokoknya saya harus nyoba walking tour ini. Seolah semesta menjawab, di hari
yang sama saya melihat postingan mereka mengenai paket Chinesse New Year
Walking Tour. Tanpa pikir panjang langsung aja daftar.
Sebenarnya China town tour ada 3x
seminggu, namun bedanya kali ini adalah di meeting pointnya kalau biasanya di
Candranaya, yang ini dimulai dan berakhir di “Semasa di Kota tua Café” yang
terletak di Gedung Olveh. Hujan yang sudah turun terus menerus selama seminggu
membuat saya sedikit khawatir, akhirnya saya membawa baju ganti, payung dan jas
hujan pokoknya “the show must go on”. Alhamdulillah dari pagi hingga dimulai
acara jalan-jalannya matahari bersinar cerah. Karena banyaknya peserta mendaftar
hingga kami dibagi menjadi 4 grup, masing-masing grup terdiri sekitar 20 orang.
Jam 9 lewat setelah pembagian
kelompok kami pun menuju kearah Glodok dengan Evan sebagai Tour Guide kami.
Tempat pemberhentian pertama kami
adalah Pantjoran Tea House. Pada tahun 1928 gedung ini adalah “Apothek Chung
Hwa” sejak dahulu daerah ini memang menjadi pusat perniagaan. Banyak orang yang
berdagang atau berlalu lalang di daerah ini nampak lelah dan kehausan. Sehingga
Kapiten Gan Djie (Kapiten pada masa itu, adalah seperti halnya Lurah di masa
sekarang) dan istrinya meletakkan delapan (pat) teko air teh dan gelas yang
dapat diminum bagi siapa saja. Tradisi Patekoan ini diteruskan hingga saat ini.
Pada tahun 1957 Apothek Chung Hwa
ditiadakan, dan semenjak saat itu Gedung ini dibiarkan kosong begitu saja. Lalu
pada Desember 2015 Jakarta Old Town Revitalization Corp menyelesaikan
revitalisasi dan menjadikan gedung ini sebagai gedung “Pantjoran Tea House”
Selanjutnya kami pun menelusuri
Pasar Petak 9, dan kami sempat melewati Toko Obat Bintang Terang yang sudah
berdiri selama 80 tahun.
Jalanan di pasar petak 9 cukup
sempit ditambah motor yang turut lewat, namun tidak menyurutkan kekaguman saya,
banyak hal yang tidak saya temui di pasar-pasar pada umumnya. Suasana pasar ini
mengingatkan saya pada Pasar Pembauran di Semarang.
| Teripang yang dikirm langsung dari Bangka, dijual dengan harga mulai dari 750 ribu rupiah |
Selanjutnya sampailah kami di
Vihara Dharma Bhakti yang merupakan Klenteng tertua di Jakarta.
Lalu kami menelusuri jalan
kemenangan atau toa se bio. Hanya disinilah kita dapat melihat jalan yang masih memiliki altar persembahyangan
Kemudian kami melanjutkan
perjalanan ke Gereja Santa Maria De Fatima, uniknya gereja ini mengambil bentuk
rumah tradisional Cina, saya bahkan sempat berkali-kali bolak balik mengecek
plang namanya dan memastikan ini sebuah gereja.
Selanjutnya kami menuju ke daerah
Kalimati. Namun sebelumnya kami berhenti sejenak di Vihara Toa Se Bio
Jika tadi Pasar petak 9 sudah
cukup sempit di Gang Kalimati yang
menembus ke Gang Gloria sangat sempit sekaliiiii, 2 orang berjalan bersamaan
saja rasanya sulit. Di gang ini dipenuhi pedagang di kiri kanan jalan. Bau
berbagai masakan menguar di sepanjang gang. Pada zaman orde baru orang Tiong
Hoa di Indonesia tidak boleh melakukan berbagai aktivitas pekerjaan, oleh
karena itu mereka berdagang secara sembunyi-sembunyi, walau peraturan tersebut
kemudian dicabut. Namun gang ini tetap digunakan untuk berniaga.
| Setiap sekali dalam setahun yaitu menjelang Imlek. Patung dewa-dewa diturunkan dan dibersihkan dengan pembersih khusus dan juga dibilas dengan air kembang. |
| Di Gang Gloria banyak sekali ditemui penjual Cempedak goreng, buat beberapa orang mungkin aneh. Tetapi Ibu saya pun biasa membuat ini di rumah. |
Di akhir perjalanan kami menuju
ke Semasa di Kota Tua Café, dimana Tea Ceremony sudah menanti kami, dan rasa
green tea yang disajikan ite enak sekali, jauh berbeda dengan yang biasa saya
konsumsi.
Saya tak bisa menceritakan atau mengabadikan banyak-banyak karena
saya sempat ketinggalan rombongan karena keasikan foto, dan lebih seru juga
daripada moto kita mendengarkan cerita guide atau berinteraksi denga kawan grup
atau masyarakat sekitar. Jujur aja sekali tuh kurangggg banget, bahkan setelah acara bubar saya baik lagi ke pasar petak 9 dan makan siang di Pantjoran Tea House. Pokoknya saya niat mau
ikutan lagi.
Saturday, February 10, 2018
Semangat Dongeng Itu Masih Hidup
Papah adalah salah satu alasan
kenapa saya suka banget dengan cerita dongeng. Karena masih kecil, kala beliau
libur, pasti dia akan mendongeng sembari menidurkan kami. Lupa sih ceritanya
apa, tapi tokohnya pasti ada sakadang kuya, sakadang kancil, sakadang monyet
dll, saking sukanya ceritanya diulang-ulang terus. Bahkan seringkali Papah yang
bosan cerita, karena tahu anak-anaknya pasti sudah hafal dan suka mengkoreksi,
bahkan sering juga Papahnya yang ketiduran sebelum anak-anaknya. Papah dan
mamah juga selalu beliin buku cerita dan akhirnya saya dan teteh jadi penggila
buku.
Waktu kuliah ternyata saya baru
menyadari tidak semua orang tahu tentang dongeng nusantara. Awalnya lagi nyari
ide buat skripsi terus tiba-tiba menyadari kok banyak cerita dari berbagai
belahan dunia yang mirip satu sama lain. Pas saya tanya temen-temen soal cerita
Indonesia, saya makin kaget lagi ternyata mereka malah ngga tahu cerita
yang saya maksud, saat itu saya
menyebutkan timun suri, ande-ande lumut, ciung wanara, lutung kasarung. Mereka
geleng-geleng, mereka hanya pernah mendengar judulnya tapi ngga tau ceritanya.
Kemudian saya sebutkan kalau Cinderella, Aladin, Hansel& Gretel tau? Ya,
Jawabannya rata-rata semua tahu. Dari situlah akhirnya saya semakin tertarik
untuk mendalami dongeng. Akhirnya pun saya memahami kenapa waktu itu dongeng
Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi selama banyak
anak-anak yang masih suka dengan buku cerita atau kegiatan mendongeng, saya sih
setuju-setuju saja terlepas darimana cerita itu berasal.
Makin kesini jujur saya makin
pesimis dengan kegiatan mendongeng, mengingat kearah mana kita menengok dari
muda sampai tua sibuk dengan gagdetnya (saya juga sih, kegiatan baca berkurang
semenjak asyik dengan smartphone). Ternyata dugaan saya SALAH BESAR. Dongeng
itu masih ada, ia hidup kuat, dan tumbuh berakar. Setelah sekian lama ingin
datang barulah di tahun kelima Festival Dongeng Indonesia akhirnya saya bisa
turut serta di tengah keramaian negeri dongeng. Banyaknya orang tua dan
anak-anak yang datang membuat saya terkejut, mereka pun terlihat sangat
antusias.
| Panggung Utama |
Dari jauh hari saya memutuskan
untuk melihat penampilan story teller dari manca negara. Alasannya? Yah saya
belom pernah dan penasaran aja perbedaan cara mendongeng mereka dan Indonesia
gimana. Di hari itu saya memilih dua
pertunjukkan Spesial. Untuk pertunjukkan pertama ada Tanya Batt dari New
Zealand. Sebelumnya maaf selama
pertunjukkan kita sama sekali tidak boleh merekam atau mengambil gambar jadi
disini ngga ada foto yang mendukung cerita.
Ketika ia muncul ia sudah menarik
perhatian, dan ia membawa satu kantong kecil bersamanya, dimana kita diminta
untuk menebak isinya yang berkaitan dengan dongeng (padahal isinya hanya sebuah
kunci, dan satu buah benda berbentuk hati). Bisa dibilang seluruh gerakan
tubuhnya turut bercerita, sehingga tanpa sadar kita terus ingin mengikutinya,
tak lupa ia juga berganti-ganti suara sesuai tokoh cerita. Inti cerita
dongengnya adalah bagaimana Sang putri yang pintar, berani dan suka
berpetualang menyelamatkan pangeran dari Raksasa jahat.
| Tanya Batt |
Kemudian storyteller kedua adalah
Seung Ah Kim dari Korea. Ia muncul dengan menggunakan Hanbok, dan langsung
menyanyikan lagu topi saya bundar yang dipelajarinya dalam waktu 3 hari. Ia pun
memberikan gerakan-gerakan yang diikuti baik oleh anak-anak atau dewasa,
semuanya turut serta. Sebagai ganti ia belajar lagu topi saya bundar, kami pun
sepakat untuk mempelajari lagu korea. Ia membawakan 3 cerita negeri korea
secara berturut-turut.
| Setiap kegiatan mendongeng anak-anak duduk lesehan mendekat ke panggung |
| Seung Ah Kim menunjukkan hadiah yang diterimanya dari pihak panitia |
Apa yang saya pelajari dari kedua
story teller ini? Mereka tak ragu untuk bergerak dan berinteraksi dengan anak-anak
karena walau mendongeng, tak hanya harus duduk diam dan terpaku. Mereka juga
tak ragu untuk mendobrak stereotype yang ada dan bercerita dengan bebasnya.
Mereka juga tidak menegur atau memarahi anak yang tidak menyimak dan tetap
mengapresiasi mereka.
Lalu apakah hal-hal itu tidak ada
di pendongeng Indonesia? Dulu saya pikir begitu, karena saya hanya menemui
konsep dongeng Interaktif di beberapa tempat saja. Tapi kemarin saya melihat
pendongeng-pendongeng Indonesia tak kalah seru dan menariknya dengan pendongeng
mancanegara. Salut dengan kreativitas mereka untuk memperjuangkan dongeng di
Indonesia.
Menurut salah satu narasumber
saya, alasan cerita dongeng Indonesia kurang diminati adalah karena isinya
terlalu berat dengan banyaknya pesan moral yang ingin disampaikan (bahkan
diakhir cerita dibuat catatan mengenai kisah moral pada cerita tersebut),
gambarnya kurang menarik, monoton dan juga menakut-nakuti. Tetapi itu dulu,
sekarang semua berubah, terbukti kemarin saya dibuat kagum dengan berbagai
macam buku dongeng yang dijual disana, favorit saya adalah buku-buku yang
dijual Dua Mata Saya (dijual melalui Tokopedia), baik cerita, penyajian gambar semuanya
sangat menarik.
Untuk beberapa penampilan story teller kita harus membeli tiket khusus terlebih dahulu, namun ada juga beberapa panggung yang menampilkan dongeng-dongeng yang dapat dinikmati secara cuma-cuma setiap jamnya dan menampilkan pendongeng dalam dan luar negeri. Oh iya selain kegiatan dongeng mendongeng,
pada festival juga terdapat beberapa workshop yang diikuti baik dewasa maupun anak-anak.
Serta menjual juga beberapa mainan dan kerajinan tangan. Pokoknya saya terkesan
sekali dengan acara Festival Dongeng Indonesia dan ngga sabar buat ikutan lagi.
Saturday, April 15, 2017
Sepenggal Kisah Cinta Di Ragusa
Dulu pertama kali kesini diajak
sama Papah, seru-seruan pergi bareng sama saudara-saudara. Saya masih ingat
pesanan saya dulu yaitu Cassata
Siciliana, dulu sih saya sempat heran kok restoran es krim tapi pilihan dikit
dan tempatnya yah begitu aja, tapi saya ngga akan pernah lupa sama rasa es
krimnya, karena ternyata pilihan saya tidak saya salah, ada 4-5 rasa dalam es
krim saya.
Puluhan tahun berlalu, baru
sekarang saya kesini lagi. Entah kenapa papah juga ngga pernah ngajak ke Ragusa
lagi. Tapi kayaknya sensasi makan es krim rame-rame dan pengamen bersuara bagus
masih bisa saya ingat dengan jelas. Kali ini saya juga pesan Casata Siciliana,
untuk signature Ice Cream mereka yang porsinya lebih besar dan rasanya lebih
variatif dihargai mulai dari 25 ribu keatas. Untuk Cassata Siciliana harganya 35
ribu sedangkan Spaghetti Ice Cream 30 ribu. Ternyata oh ternyata si Cassata Sicialana ada rasa durennya, haduhhhhh perasaan dulu ngga deh apa saya yang
salah inget.. Akhirnya tuh Csasata walau rasa es krim yang lainnya enak terpaksa
nyisa (benci banget ama duren soalnya)..btw saya adalah penggemar cokelat tapiiii saya anti sama es krim rasa cokelat entah kenapa,
pokoknya kalau es krim rasa cokelat ogah banget tapi kalau yang Ragusa I enjoyed it a lot.
Diiringi nyanyian suara pengamen
(tapi bukan pengamen yang sama kayak saya kesini waktu kecil dulu pastinya).
Saya nambah Nougat Ice Cream, walau agak kemanisan sedikit buat saya, tapi ini
saya nobatkan jadi favorit saya, karena rasanya yang jarang saya temui di
tempat lain. Walaupun agak manis tapi ga bikin giung atau eneg serta tidak ada after taste pahit di lidah setelahnya. Mungkin ini karena es krim ragusa tanpa pengawet dan pemanis buatan, oleh karena itu juga es krim ini gampang banget meleleh, jadi harus dihabiskan segera. Untuk ice-cream
yang satuan seperti ini harganya 15 ribu
.
Posisi duduk, meja dan kursi,
penataan ruangan, menu, hingga mesin kasirnya masih sama kayak 20 tahun yang
lalu, semuanya serba tua. Lalu saat saya sedang membayar tiba-tiba ada bapak
Tua yang bercerita di meja kasir, ia berbicara kepada petugas kasir:
Bapak Tua: Ibu sudah umur berapa?
Ibu Kasir: Saya sudah 50 tahun
lebih Pak
Bapak Tua: Saya sudah disini
semenjak tahun ’63, saya pacaran sama istri saya yah disini. Tuh dimeja itu.
Ibu Kasir: Wah… hebat
Bapak Tua: Iya Bu dulu istri saya
sekolah di Santa Maria jadi kita kalau pacaran kemari. Sekarang istri saya kena
diabetes jadi ga boleh makan manis-manis lagi.
Sayapun bergabung dengan
pembicaraan tersebut. Barulah kemudian
saya tahu nama beliau adalah Aan Nasution usianya sekarang 73 tahun, namun
beliau masih tegap dan bugar. Dari muda memang beliau sudah rajin olahraga, ia
menggeluti renang, polo air, judo,silat. Beliau juga memang menjaga makannya
kata beliau “Saya memang tidak ada pantangan, Alhamdulillah sehat, tapi tahu
diri sajalah namanya juga usia sudah tua. Harus sadar diri sendiri”. Beliau
juga bilang kalau dirinya sama sekali tidak makan manis, kalaupun makan hanya
Ice Cream di Ragusa. Tahun depan Beliau dan istri akan memasuki masa pernikahan
emas, saya hanya berharap beliau dan istri selalu diberi kesehatan dan
kemesraan.
Kini saya paham apa rasa spesial
yang ada di Ragusa, yaitu Rasa Cinta Sepanjang Masa dan Rasa yang pernah ada hehehe.
Masih banyak memori-memori yang tersimpan disini. Kalau ingin mendengarkan
salah satunya cukup naik KRL, berhenti di stasiun Juanda kemudian dari sana
menyeberang melalui jembatan penyeberangan,lalu lurus saja mengikuti jalan
(bersebelahan dengan masjid Istiqlal), tak jauh dari situ terletaklah toko Es
Krim penuh kenangan ini.
Friday, January 13, 2017
Saat Lidah Berpesta di Thai Street
Salah satu cara mengenal negara-negara di dunia tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu mahal adalah menyicipi kekayaan kulinernya. Karena masing-masing negara mempunyai bumbu dan rasa yang khas.
Gara-gara liat postingan di Instagram (saya emang gitu orangnya
gampang tergoda) tiba-tiba jadi pengen Kha Niew Ma Muang alias mango sticky
rice. Tetapi saya harus menghadapi kenyataan kalau saldo saya tidak mencukupi
untuk ke Thailand. Tambah bikin bingung lagi saya tinggalnya di Bekasi, sejauh
yang saya tahu rata-rata restoran Thailand yang ada restoran suki.
Memang manusia ga boleh sombong, berasa paling tahu, ternyata
pengetahuan saya soal Bekasi belom sejauh itu hehe. Setelah tanya-tanya temen
ada yg ngasih tahu soal restoran Thailand yg menunya lumayan
variatif...langsung deh saya kesana
.
Thai Street yang ada di Grand Metropolitan ini tempatnya cukup
menarik dan nyaman, bisa buat kumpul keluarga atau buat arisan.
Menu makanannya mulai dari Appetizzer sampai dessert. Tapi
sayang rasanya kalau kesini cuma pesen Kha Niew Ma Muang ya kaannn. Jadi Inilah
pilihan saya sekeluarga, lumayan banyak mengingat udah jam makan siang dan
perut udah ga bisa diajak kompromi. Tanpa perlu menunggu lama pesanan kami pun
datang
Pad See Ew Beef
Sekilas masakan ini seperti kwetiau goreng biasa, tapi tunggu
sampai suapan pertama baru deh kita rasakan perbedaannya. Paduan kecap manis, Nam Pla (kecap ikan khas
Thailand) ditambah cucuran jeruk nipis dan cabai bubuk memberikan sensasi yang
mengejutkan di lidah. Buat yang baru pertama merasakan mungkin sedikit aneh,
karena ekspetasi awalnya adalah rasa kwetiau goreng pada umumnya. Namun kalau
sudah meneruskan ke suapan-suapan selanjutnya bakal ketagihan sama sensasi
rasanya, dan ngga berasa piring sudah bersih.
Ngga sah rasaya kalau ke Restauran Thailand tanpa memesan Tom
Yum.
Ternyata saya baru tau kalau Tom Yam itu ada 3 jenis. Selama ini
saya makannya yg Sea Food tapi beberapa tahun belakangan tiba-tiba saya alergi
dengan Udang. Eitss jangan sedih saya masih bisa nikmati Tom Yam karena selain
dengan Udang atau dikenal sebagai Tom Yum Goong atau dengan aneka sea food yang disebut Tom Yam Talae (awalnya saya kira
nama kedua jenis ini sama ternyata berbeda), masih ada Tom Yum Gai yaitu Tom
Yam daging ayam, seperti yang saya pesan.
Belum sampai lidah wangi rempah-rempahnya sudah menggoda.
Dari penampakannya saja sudah terlihat kalau bumbu yang digunakan berlimpah.
Gimana rasanya? Begitu suapan pertama rasa pedas, asam,asin, manis langsung
pecah di mulut. Wangi khas daun serai
dan daun jeruk menyeruak hidung di tiap suapannya, berlomba dengan yang saya
rasakan di Lidah. Agar tambah seru lagi, saya menambahkan sambal kecap asin
dengan rawit potong. Dijamin satu mangkok jasmine rice ala Thailand ngga cukup
untuk menemani masakan ini. Kemeriahan rasa inilah yang paling saya suka dari
masakan Thailand, kita bisa merasakan berbagai macam rasa dalam satu waktu.
Setelah kemeriahan itu, saatnya menikmati si bintang utama yg
menjadi alasan saya datang kesini. Yaitu Mango Sticky Rice
Walau sudah terbayang rasanya seperti apa tapi tetap terkejut
karena rasanya sangat mendekati jika kita makan langsung di negara asalnya.
Rasa manis gurih santan berpadu sempurna dengan ketan diimbangi dengan rasa
masam dari buah mangga. Seolah menenangakan rasa panas dan pedas yang sebelumnya
berpesta pora di mulut saya, jelas sudah ini jadi favorit saya.Untuk harga
sendiri Thai Street memiliki harga yang cukup terjangkau tapi sayangnya
porsinya kurang banyak hehehe.
Sayangnya yang lebih gawat lagi setelah memakan semua itu, saya
jadi kebayang segarnya Pudding kelapa yang disajikan langsung di batoknya, atau
kue Kanom Krok panas yang baru, Segarnya buah mangga yang berat satu buahnya
bisa mencapai sekilo atau sekedar memberanikan diri menyicipi satu saja
serangga goreng. Mudah-mudahan saya bisa segera ke Thailand *kodekeras.
Thursday, September 8, 2016
Menyicipi “Legenda” Cirebon
Salah satu hal yang bikin pengen
balik lagi ke Cirebon yaitu Kulinernya. Untuk berbagai referensi dan list
makanan apa aja yang ada di Cirebon saya harus berterimakasih sama neng WInda
Apriandita, karena ngasih listnya lengkap banget, tapi sayang cuma berhasil
nyicipin beberapa aja.
Untuk persiapan kulineran di
Cirebon sehari sebelumnya saya sengaja makan yang dibakar dan sayur-sayuran
bahkan skip makan malam, dari rumah kebetulan lagi ada stock Lemon jadi
sekalian bikin infused water buat ke Cirebon. Yup segitunya persiapan buat
kulineran di Cirebon, sampai besok harinya saya juga skip sarapan. Oh iya,
untuk masalah referensi dan rasa tergantung masing-masing selera orang yah,
mungkin ada yang setuju atau ngga tapi ya udah ini seseleranya saya aja.
Berangkat dari Bekasi jam 09.20
sampai Cirebon nyampe jam 12an, paslah yah lapernya dan udah waktunya makan
siang juga. Udah pasti tujuan utama saya mau makan Empal Gentong, menurut info
dari neng WInda (beserta sejarahnya), empal gentong terenak adalah Bu Dharma/
Mimi Tiyah…Ok, mungkin di berbagai referensi atau cerita, empal gentong
“legendaris” itu Empal Gentong Mang Dharma bahkan yang “kw”nya tersebar
dimana-mana nah setelah Mang Dharma yang asli meninggal kemudian pecah kongsi
antara anak dan istri. Kalau istrinya menggadang nama Bu Dharma atau Mimi Tiyah
sedangkan anaknya menggunakan nama Empal Gentong Krucuk, kalau masalah enaknya
satu antara yang lain kurang lebih aja. Tadinya begitu nyampe mau ke Empal
Gentong krucuk karena dekat dari stasiun kereta dan sudah tahu harus naik
angkot apa, tapi penasaran banget sama yang Mimi Tiyah. Akhirnya naik becak
minta diantar ke jalan Diponegoro no. 21 lumayan bisa menikmati suasana kota
Cirebon yang lengang. Ternyata letak Empal Gentong Bu Dharma tidak terlalu jauh
dari Empal Gentong Krucuk dan sama-sama mudah dicarinya. Karena masih jam
sholat Jumat jadi suasana warung tidak terlalu ramai, langsung deh pesen,
| Bapak yang selalu stand by paling depan motong-motongin daging dan tetelan |
Begitu suapan pertama beuhhhhh
itu rasa gurih, asin, pedes langsung pesta di mulut saya, ditambah kucurin
jeruk nipis yang sedikit ngasih rasa asam jadi ga terlalu blenek dengan
santannya. Ini jelas Empal Gentong terenak
yang pernah saya rasain seumur hidup saya, lontongnya memang sedikit lebih
lembek daripada lontong umumnya tapi terasa klop sama kriuk-kriuk dari kerupuk
kulitnya. Begitu nyuap langsung susah berhenti, makannya ngebut ampe ga nafas
kayaknya, saking enakkk banget. Kemudian ga lama pelanggan makin banyak, bikin
saya ragu mau nambah apa ngga (padahal malu tuhhh), taunya pelayanannya cepet
banget ya udah jadi aja nambah….Cuma setengah porsi kokkk, kalau ga inget abis
makan mau jalan lagi mungkin akan digenepin jadi dua. Tapi berhubung ini baru
mau start jalan-jalannya jadi agak ngerem (iyaaa segini tuh itungannya ngerem).
Untuk satu porsinya harganya 23 ribu, kalau setengah porsi 15 ribu. Murah,kenyang,
dan enakkkkk bangeeeeett, bahagialah saya.
Berikutnya, setelah Empal
Gentong, makanan khas Cirebon lainnya adalah Nasi Jamblang. Keesokan harinya
saya memutuskan makan ini. Saya pilih yang dekat dengan hotel saya menginap
yaitu Nasi Jamblang Mang Dul yang terletak di seberang Mall Grage, Nasi
Jamblang Mang dul ini sudah ada sejak tahun 1970-an
| Sepertinya itu foto Almarhum Pak Abdul Razak alias Mang Dul |
Kalau untuk ini saya sengaja ga
makan sarapan di Hotel, karena emang sengaja mau makan ini. Tapi sayangnya
begitu udah nyampe saya agak bingung ngeliat pilihan lauknya mau yang mana,
akhirnya ini pilihan saya
Sayangnya parunya agak pahit,
jadi sejujurnya saya kurang terkesan makan disini (sekali lagi maaf jika banyak yang tak setuju sama pendapat ini). Untuk pilihan menu seperti
saya tadi kena 32 ribu (ternyata ga semurah yang dibayangkan sebelumnya atau
memang pilihan lauk saya yang salah). Yah memang kalau mau sarapan cepat dan banyak
pilihan atau lagi buru-buru kayaknya Nasi Jamblang adalah pilihan yang tepat
Lanjut perjalanan ke Batik
Trusmi, pas lagi menuju kesana saya
ngeliat Restoran Empal Gentong Haji Apud dan Amarta, dua restoran ini cukup
populer juga di Cirebon. Menurut teman saya, kalau ke Cirebon harus banget
nyoba sate kambing mudanya. Jadilah sepulangnya dari Batik Trusmi mampir dulu
ke Empal Gentong Haji Apud karena belom kesampean makan Sate Kambing Muda dan
searah juga dengan arah saya pulang menuju stasiun.
Sembari menunggu sate dibakar,
ngemil dikit boleh lah. Ga resmi ke Cirebon kalau belom makan tahu gejrot
Akhirnya muncul juga ini sate
kambing muda
Coba kita buktikan seenak apakah
sate kambing Muda. Daannnnnn enakkk banget sodara-sodaraaaaaa….lemaknya tuh
kayak lumer dimulut, dagingnya gurih dan kenyalnya pas ga terlalu lembek atau
keras, aduhhhh ini beneran deh pecahhhh banget satenya, bingung juga jelasinnya
gimana pokoknya ini enak pake banget. Kayaknya belom nemu yang seenak ini di
Bekasi. Seporsi sate kambing + lontong
harganya 38 ribu tapi puas lahir bathin
Disini saya juga ngebungkus Empal
Gentongnya buat oleh-oleh Akang Suami kan kasian kalau cuma denger ceritanya
aja. Sudah pasti kalau dibungkus ga akan seenak kalau makan langsung di
tempatnya, kata suami sih Empal Gentongnya enak, tapi kalau buat saya lebih
suka yang Bu Dharma.
Selain nyicipin makanan
legendaris Cirebon. Sempet juga ngeteh cantik di café “kekiniannya “ Cirebon.
Sebenernya ini ngga sengaja juga, setelah nonton Alice in Wonderland – trough
the looking glass, saya ngambil jalan yang berbeda buat pulang ke Hotel, eh kok
ini tempat kelihatan dari luar lucu juga, ditambah namanya Vanilla Rabbit, kok
kayaknya pas banget, akhirnya mampir deh. Bener tempatnya lucu banget
Sebenernya udah ga minat mau
makan lagi dan saat itu juga udah malem, tapi malah teteh-tetehnya pada baik
dan bagus banget pelayanannya. Mereka juga bilang saya santai aja makannya ga
usah buru-buru padahal saya tahu itu mendekati jam tutup. Disini sempet nyobain
Apple Pie + Hot tea, kalau rasa sih lumayan enak cuma isi apple pienya
kematangan kurang goey, tapi selebihnya ok banget dari pelayanannya,
suasananya, musiknya
Happy tummy happy life lah
pokoknya. Pasti saya akan balik lagi ke Cirebon khusus buat kulineran,
yuk ikut yuk.
Subscribe to:
Posts (Atom)











