Thursday, June 18, 2015

SUMANTRI VS MAD DOG


SUKRASANA PADA SUMANTRI:

SUMANTRI,
KAKAKKU YANG TAMPAN
APA YANG SEDANG MATI-MATIAN KAU BURU
BEGITU TERGESANYA, SAMPAI CINTA LUPUT KAU BAWA
BISA KULIHAT BETAPA GIGIHNYA KAU PERJUANGKAN SEMUA MIMPI
HINGGA HABIS RASA
KEJAYAAN TAK KURANG TAK LEBIH ADALAH BENIH
KADANG KALA DIA TUMBUH MENJADI KESOMBONGAN YANG MENJULANG

        -Lakon Sumantri Sukrasana oleh wayang urban Nanang Hape-





Panggung dipenuhi berbagai perlengkapan layaknya menonton wayang kulit. Namun kehadiran alat musik modern, disamping peralatan musik tradisional, membangkitkan rasa penasaran.
Satu persatu pemain musik tradisional muncul dan menempati posisinya masing-masing. Sang Dalang Nanang Hape, terlebih dahulu memperkenalkan filosofi dibalik Gunungan atau kayon. Kisah belum dimulai, namun saya sudah tercengang. Seperti yang tergambar pada Gunungan, manusia semasa hidup diberikan pilihan, namun pilihan itu kembali ke satu pucuk, yaitu jantung. Suatu saat jantung akan berhenti berdetak, dan ketika itu terjadi apakah pilihan itu sudah tepat.



Musik tradisional mengalun memenuhi ruangan. Sang dalang membuka kisah. Lalu tetiba satu persatu pemain lain muncul dan duduk bersama dalang. Candaan  dan perubahan musik dari tradisonal bercampur menjadi rasa kekinian, semakin membuat berdebar, menanti kejutan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dikisahkan kakak beradik Sumantri dan Sukrasana. Sumantri yang tampan dan gagah, demi mengejar ambisinya untuk menjadi yang  terhebat, meninggalkan adiknya Sukrasana yang buruk rupa namun sangat mencintai kakaknya. Setelah sampai ke negeri Mahespati, Sumantri mengabdi pada Prabu Harjuna Sastra . Tugas pertama Sumantri adalah memenangkan sayembara merebut putri cantik Citrawati dari negeri Magada.

Tak ada yang tetap pada lakon Wayang Urban ini.  Satu tokoh dapat diperankan oleh beberapa orang, atau bahkan setiap orang memiliki beberapa lakon, secara bergantian atau muncul bersamaan. Gimmick-gimmick pun tak berhenti disitu, para pelakon juga ternyata adalah para pemain musik.
Kemudian cerita bergulir. Sumantri berhasil memenangkan sayembara. Namun Sumantri merasa, apakah pantas sang Raja mendapatkan Putri Citrawati, karena bagaimanapun juga ialah yang memenangkan sayembara. Lantas Sumantri pun menantang sang raja untuk bertarung. Pertarungan terjadi, dan dimenangkan oleh sang Raja. Karena walau Sumantri sakti namun sang raja lebih sakti.









Namun adakah yang mengetahui jerit hati putri Citrawati? Yang dipertaruhkan dan diperebutkan bagai barang tak bernyawa?
Jerit hati putri Citrawati digambarkan jelas oleh nyanyian dan kata-kata dari dua wanita yang muncul



Tak mau menyerahkan diri begitu saja Putri Citrawati menantang Prabu Harjuna Sastra untuk memindahkan taman kesayangannya yaitu taman Sriwedari dari Magada ke Mahespati dalam satu malam saja. Tak kurang dan tak lebih satu helai daun pun.




Prabu Harjuna Sastra meminta sumantri untuk memenuhinya. Dan kebetulan Sukrasana yang sudah sangat merindukan kakaknya datang. Berkat Sukrasana keinginan yang sangat mustahil dilakukan itu, dapat terwujud. Namun karena suatu kesalahan, akhirnya Sumantri kehilangan pekerjaannya dan diusir dari kerajaan, iapun tak pelak menyalahkan adiknya Sukrasana. Panah dihunuskan ke jantung Sukrasana. Sukrasana mati karena tangan orang yang sangat dicintainya yaitu Sumantri. Sukrasana Mati karena ambisi Sumantri





Tepuk tangan tak berhenti untuk team Wayang urban dengan Dalang Nanang Hape. Saya belum pernah melihat wayang disampaikan dengan begitu bebasnya, begitu “slengean”, begitu dalamnya. Musik pun selalu berganti-ganti, pop, jazz, tanpa meninggalkan sentuhan Tradisi. Perasaan saya benar-benar dipermainkan, sebentar serius, sebentar tertawa, sebentar tercengang, sebentar bingung. Tak ada satu waktu dimana kami para penonton begitu larut dalam suatu perasaan tertentu. Atau jangan-jangan memang itu filosofi hidup yang ingin disampaikan. Jangan sampai kita berlarut-larut dalam suatu rasa sedih atau bahagia, karena semuanya akan bergulir dan berganti dengan cepat.

Mungkin jenis tampilan wayang ini “menabrak” dari yang sudah ada dan yang sudah dilakukan dari dahulu. Mungkin juga ada yang tidak setuju dengan gaya wayang seperti ini. Tetapi bagi saya pribadi, wayang ini mampu mengubah cara pandang saya. Dari momok yang membosankan dan susah dimengerti, menjadi sesuatu yang menarik dan mudah dipahami. Bahkan saya sempat tak percaya bahwa waktu satu setengah jam berlalu begitu saja.  Dan ketika sang dalang menyampaikan “ini lagu terakhir” saya masih sangat berharap itu hanyalah gimmick. Jika tujuan wayang urban ini adalah untuk menarik perhatian kaum muda, saya rasa cara ini akan sangat berhasil. Saya rasa tidak berlebihan jika saya menganggap Wayang Urban sebagai salah satu Mahakarya Indonesia.

Lalu apa kaitannya Mad Dog dalam cerita ini?,  Mad Dog adalah tokoh yang diperankan Yayan Ruhian pada film The Raid. Sebelum saya menceritakan lebih jauh. Perlu diketahui saya sangat ngefans dengan beliau. Jadi, yah bisa dibilang tulisan saya berikut ini sangat subyektif. Yaitu dari sisi seseorang yang sangat mengidolakan beliau



Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa satu tokoh bisa dimainkan oleh beberapa aktor. Yayan Ruhian muncul sebagai Sumantri ketika bertarung dalam sayembara memperebutkan dewi Citrawati. Kehadirannya hanya sekitar lima menit, namun memukau. Nama Yayan Ruhian dikenal setelah kesuksesan film The Raid. Walau sebelumnya ia juga tampil sebagai Erik dalam film  Merantau. Berkat film The Raid pula beberapa aktornya dikenal secara Internasional termasuk Yayan Ruhian. Nama Mad Dog pun sempat menjadi trending topic worldwide. bahkan sudah beredar selentingan berita bahwa iapun terlibat dalam film Star Wars terbaru. Banyak yang berpikir bahwa karirnya melesat begitu cepat.

Tapi untuk menjadi seorang Mad Dog, dibutuhkan kegigihan dan kesabaran. Butuh belasan tahun untuk menjadi sekuat dan selincah itu. Butuh kesabaran mendalami seni pencak silat, yang sudah ditinggalkan banyak orang. Bahkan saya sendiri mengenal pencak silat hanya sebatas mata pelajaran muatan lokal pada saat duduk dibangku sekolah menengah pertama dulu. Namun seorang Yayan Ruhian. dengan penuh bangga ia mengembangkan seni bela diri tradisional ini. Butuh dedikasi tanpa batas untuk meraih sukses. Dalam film jepang “Yakuza Apocalypse” garapan Takashi Miike seorang Yayan Ruhian harus mempersiapkan diri dan berlatih selama satu tahun. Berkat usahanya itu tak heran Ia dapat menjejakkan kakinya di red carpet cannes film festival dan Sundance Film Festival .Buat saya, prestasi yang diraihnya sudah sangat luar biasa mengingat beliau belum lama menghiasi layar lebar. Namun jika bertemu langsung dengan beliau, kesan yang ditangkap adalah sederhana, ramah, sopan dan  sedikit pemalu. Mungkin bahkan, jika berpapasan dengan beliau di suatu tempat kita tidak akan menyadari bahwa ia seorang bintang. Ia melayani dengan sangat baik siapapun yang bertanya, wawancara atau sekedar foto bareng. Tak jarang ia membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada lawan bicaranya, dan saya rasa gestur tersebut tidak bisa dibuat-buat kalau bukan karena kebiasaan.

Hingga kemarin ada seseorang yang bertanya pada beliau “akang kan sudah menjadi seorang bintang, kok masih aja sederhana?” . Beliau terdiam sesaat dan menjawab” Justru saya takut, saya takut tergoda, saya takut keluar dari diri saya yang begini, saya takut terlena dan tidak mengenal diri saya sendiri.”


Seperti dalang Nanang Hape bilang, hidup itu pilihan. Pilihan menjadi Sumantri dengan segala ketampanan dan kehebatannya namun terbutakan ambisi. Atau menjadi seorang Yayan Ruhian, yang awalnya tak dikenal kemudian berhasil menjadi bintang, namun justru takut terlena dunia.

Kembali saya mengutip, Ono dino Ono Tresno artinya Ada hari ada Cinta, Indah bukan jika setiap hari diwarnai dengan cinta. Tetapi sedikit ambisi bisa merubahnya menjadi Ono Dunyo Ono tresno: Ada Dunia Ada cinta, disini dunia yang dimaksud adalah materi. Cinta hanya muncul ketika materi terpenuhi, ketika uang adalah segalanya. Jadi siapakah yang akan kamu pilih? Menjadi Sumantri atau Mad dog?
Sunday, May 31, 2015

DEMI CURUG PARIGI

Berawal dari suami yang menunjukkan foto-foto bersama grup gowesnya.
“Wah bagus yah, ini di Bekasi?”
“Iya Bekasi. Di perbatasan Bantargebang sama Jonggol”
“Ih jadi pengen deh”
“Neng mau kesana?”
“Iya mau”
“Ya udah tapi berangkatnya jam setengah 6 pagi yah, biar ga terlalu panas”
“Lah emang ga bisa apa naik mobil aja?” (keliatan banget kan istrinya ogah capek)
“Ga bisa jalannya sempit kesananya” (sambil nunjukkin foto lainnya)
“Neng kan  ga pernah gowesan jauh, orang ngegowes aja paling banter Cuma ke Summarecon” (itupun baru 3 kali dalam 2 bulan)
“Yah kalau capek istirahat, pelan-pelan aja”

Setelah mengajukan beberapa argumen lainnya supaya kesana ga pake sepeda, akhirnya akang suami berhasil membujuk saya supaya supaya mau sepedaan. Berbagai persiapan pun disiapkan suami, mulai dari air putih yang udah dimasukkin kulkas malam sebelumnya, sampai kamera pocket buat keeksisan istrinya. Intinya mah yah semua digampangin supaya saya si istri ga capek dan ga banyak keluhan.

Lalu di hari Sabtu tanggal 30 Maret 2015 (harus banget ditulis, karena ini hari bersejarah buat saya) sehabis sholat subuh kita siap-siap. Dengan pedenya mulailah saya sang beginner goweser memulai perjalan ke Curug(Air Terjun) Parigi. Sebenarnya, saya suka deg-degan kalau gowes di jalan raya mengingat saya orangnya ceroboh tapi untung ada suami yang buka jalan jadi lebih yakin.




Daerah Curug Parigi ini ada di daerah perbatasan Bantar Gebang dan Jonggol Bogor.Kalau dari rumah saya yang ada di daerah Mekarsari Bekasi kami melewati rute kartini-pengairan- jalan raya narogong, kalau udah masuk daerah jalan raya Narogong udah tuh terus aja ke arah Bantargebang.
Sempat istirahat beberapa kali, di setiap berhenti tak lupa bertanya “ masih jauh ga kang?”. Barulah ketika sampai perumahan Vida, akang suami bilang “nah kalau dari sini tinggal 1-2 kilometer”. Kemudian kembali menggoweslah kami, sampai berhenti dan kita harus nyebrang gang yang dihimpit pabrik. Oh pantesan ngga mungkin pakai mobil, karena mau parkir di mana? Ga mungkin kan ninggalin mobil di Jalan raya dan jalan masuknya pun kecil (tapi ternyata bisa loh kalau mau pake sepeda motor. Langsung pemandangan jalan raya berganti dengan pemandangan, tanah merah yang lapang, ilalang dan bunga liar dipinggir jalan



Masih terus masuk lagi hingga melewati beberapa rumah penduduk kemudian ketemu jalan berbatu. Tidak ada petunjuk tentang keberadaan Curug Parigi, jadi kalau baru yang pertama kali kesini akan agak sulit menemukannya. Dari jalan berbatu kemudian melipir ke arah kanan dan tak jauh dari situ langsung terdengar suara deras air mengalir.
Tidak ada tempat parkir resmi maupun buatan, masuknya juga gratis, jadi hati-hati dengan kendaraan yang dibawa. Bahkan akang suami harus menggotong dua sepeda turun.






Dan inilah Curug Parigi









Mungkin ditempat lain banyak yang lebih bagus. Tapi buat saya yang orang Bekasi ga nyangka aja nemu Curug kayak gini di daerah Bekasi. Senang dan lega pastinya, capeknya terbayar lunas sama pemandangannya. Tapi yah memang airnya tidak jernih dan bening, warna airnya kecoklatan.
Sebelum pulang kami istirahat dulu di warung terdekat. Lumayan nemu kue cucur kedoyanan saya.





Sayangnya saya ga menemukan cerita atau keterangan lebih jauh soal Curug Parigi, bahkan mbah google pun isinya sama. Kenapa ga nanya sama yang jaga warung? Soalnya saya lupa, saking capek dan lapernya.

Dan barulah saya tau kalau jarak perjalanan yang ditempuh adalah 35 kilometer (bolak-balik).....mamaaaaaa ampunnn pantesan kaki pada kram. Kapok? Ngga kok malah jadi semangat nyari tempat tak terduga lainnya di Bekasi *sambilnempelinkoyo
Monday, April 13, 2015

DRAMA CINTA RAJMANDIR


Gedung berwarna terakota itu, dengan anggunnya menyambut kedatangan kami. Ia masih berdiri tegap walaupun sudah puluhan tahun usianya. Menonton film disini sudah menjadi hal yang kunanti-nanti. Bukan hanya sekedar bioskop biasa, tetapi bioskop tua dan bersejarah yang wajib didatangi penggila film Bollywood seperti aku. Ketika datang aku sempat heran, karena kupikir sedang ada acara khusus yang berlangsung, melihat dari rapinya pakaian para pria dan cantiknya sari-sari yang digunakan para wanita. Ketika sampai di loket pembelian tiket yang terletak di luar gedung pun kami dibuat bingung karena tempat duduknya dibagi menjadi beberapa kelas yaitu silver, gold, diamond. Entah karena melihat kebingungan kami atau melihat kami sebagai wisatawan, akhirnya si penjual tiket memberikan tiga tiket kepada kami tanpa kami tahu itu di kelas yang mana, karena keterangan di tiket tentu saja ditulis dalam bahasa India. Kami pun tidak terlalu mempermasalahkannya karena harga tiketnya tidak jauh berbeda dengan tiket di Indonesia.

Masih ada satu jam sebelum pertunjukkan film dimulai. Namun tidak seperti gedung bioskop pada umumnya, yang bisa menunggu santai di dalam sebelum film diputar. Gedung itu mempunyai jadwal buka tutup pintu yang ketat. Ketika akhirnya pintu dibuka dan kami masuk kedalamnya aku terkejut. Begitu masuk ke dalam lobby utama gedung, aku seolah ditarik ke tahun 70-an. Gedung yang bergaya moderne art itu, begitu cantik dan mewah, seolah waktu tidak bergeser dari situ. Atapnya terdapat chandelier kristal besar, dan dipinggirannya terdapat kristal-kristal kecil dalam suatu pola, kemudian plafonnya terdapat kristal-kristal yang menyebar. Seluruh dindingnya terdapat berbagai ornamen gaya eropa yang sama mewahnya, lantainya pun dilapisi karpet tebal. Dibantu dengan pencahayaan yang romantis, membuatku begitu terpukau, ini adalah bioskop terhebat yang pernah kulihat. Bahkan membeli popcorn disana pun menjadi sesuatu yang menyenangkan. Akhirnya film pun segera dimulai, kemudian kami diarahkan sesuai keterangan pada tiket kami. Betapa terkejutnya saya, ternyata tempat duduk kami berada pada sebuah balkon layaknya menonton opera, dan memang keseluruhan tempat tersebut seperti sebuah pertunjukkan opera lengkap dengan tirai merahnya.

Film yang kami saksikan saat itu adalah sebuah film komedi Romantis berjudul “Tere Naal Love Ho Gaya” yang dibintangi Ritesh Desmukh dan Genelia D’Souza. Walaupun hanya setengah mengerti tapi kami masih bisa ikut menikmati dan tertawa. Aku pun memperhatikan bahwa penonton-penonton sangat ekspresif. Berbagai komentar mereka lemparkan, tertawa bersama, bahkan ikut menari dan menyanyi pada bagian-bagian film. Lalu betapa terkejutnya ketika di tengah film yang sudah berlangsung satu jam setengah tiba layar gelap dan bertuliskan Intermezzo, penonton pun tiba secara serempak keluar dari ruangan pertunjukkan. Aku, kakakku, dan suamiku hanya bisa mengikuti dengan tanda tanya besar. Ternyata barulah kami tahu untuk mengatasi panjangnya film yang biasanya berdurasi tiga jam, maka biasanya diberikan waktu rehat kira 15 menit untuk ke kamar mandi atau membeli makanan dan minuman, karena memang tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke ruang pertunjukkan.

Setelah kami masuk kembali suasana pun semakin menarik, penonton semakin larut dalam cerita, ada pula suami yang terus berpelukkan dengan istrinya sambil memandang mesra selama sisa film, walaupun mereka pasangan yang tak lagi muda namun tak kalah dengan pasangan muda mudinya. Akupun tak ketinggalan, entah terbawa suasana atau tidak, akupun menggenggam tangan suamiku, karena dialah sekarang aku bisa mencapai impian terbesar dalam hidupku. Ketika film usai semua penonton memberikan standing ovation dan diwarnai siul-siulan disana sini. Dan yang membuatku terkejut ternyata kakak dan suamiku yang biasanya menolak mentah-mentah jika diajak nonton film India, juga menikmatinya sama seperti aku.

Itulah Rajmandir, bioskop kebanggaan kota Jaipur yang telah berdiri sejak tahun 1976. Ia menjadi saksi sejarah perfilman Bollywood. Berbagai pemutaran perdana film-film besar dan sukses telah diadakan disini. Pada masa keemasannya bintang-bintang besar film Bollywood pun hadir disini. Dan hingga kini tidak sedikitpun kehilangan keajaibannya.


Peristiwa yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku. Tak percaya rasanya, akhirnya aku mencapai Impian terbesarku, yaitu menapak di tanah India. Setelah bertahun-tahun lamanyan menanti dan mendamba dengan berbagai keraguan. 

Kisah Rajmandir takkan ada habisnya, film "Tere Naal Love Ho Gaya" akan terus bergaung (bahkan soundtrack film tersebut masuk kedalam playlist suamiku)...Begitu pula impianku yang berulang, akan kembali menapak India.
Sunday, August 24, 2014

ALUNAN DHAROHAR


Berlatarkan langit gelap, gedung tua itu berdiri anggun, guratan sejarah menyeruak,  cat yang tak lagi seluruhnya melapisi menunjukkan kecantikan yang tak habis dilekang waktu. Temaram cahaya lampu membuat suasana menjadi syahdu dan romantis. Tak percaya kami baru saja berpacu dengan waktu melewati keruwetan lalu lintas, melewati puing-puing gedung serta lorong-lorong gelap untuk sampai kesini. Kerumunan wisatawan sudah memenuhi taman yang menjadi area pertunjukkan, mereka bersila di atas hamparankasur tipis di bagian depan, di barisan berikutnya tersedia dipan-dipan rendah yang dapat digunakan bersamaan. Selanjutnya barisan kursi dan penonton yang memilih untuk berdiri agar dapat melihat lebih baik.

Lampu-lampu disekitar kami kemudian digelapkan, sehingga semuanya terfokus pada satu titik di bawah pohon tua. Berpakaian khas India lengkap dengan sorbannya, seorang pria membuka acara dan mengantarkan kami ke berbagai pertunjukkan yang akan ditampilkan. Untuk penampilan pertama dibuka oleh suami istri yang berumur di atas 70 tahun namun kedua badan mereka masih berdiri tegap. Dengan diiringi oleh sebuah alat musik gesek mereka bernyanyi, suara tua yang keluar dari mulut mereka justru menjadikan nyanyian mereka terdengar unik sambil sesekali sang pria berjoget-joget kecil, mengundang senyuman dan bisikan diantara penyimaknya.

Berikutnya dua orang wanita, berumur pertengahan 50an, yang satu menggunakan sari berwarna putih dengan pinggiran merah, dan yang satu lagi menggunakan sari berwarna biru gelap. Mereka kemudian mengambil posisi duduk dengan kaki terjulur. Sedikit bingung dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Rupanya berbagai macam lonceng terikat pada tubuh mereka, di kepala, sikut, bahu, telapak tangan, lutut serta ujung kaki mereka. Dan kemudian pemusik pun memainkan alat musik mereka, langsung saja kedua wanita itu bergerak dengan sangat lincahnya memainkan lonceng-lonceng yang ada pada tubuh mereka, semuanya dipukul, dikencringkan dengan nada yang seirama dan indah. Penonton dibuat terkesiap dengan kelincahan mereka, berbagai manuver seperti gerakan silat mereka lakukan dengan lincahnya selama setengah jam tanpa henti. Keringat mulai nampak pada wajah mereka, namun mereka tetap tersenyum.

Decak kagum tak kunjung berhenti, hatikupun semakin membuncah. Berbagai atraksi susul-menyusul, pertunjukkan boneka kayu nan menggemaskan, gerincing ratusan lonceng kecil mengiringi tarian luar biasa lincah seorang gadis kecil yang membuat penonton bertepuk tangan sesuai hentakkan kakinya, kemudian lima orang penari dengan sari berwarna-warni muncul dan membuat lingkaran, mereka menari dengan gerakan-gerakan dinamis membuat lingkaran besar kemudian kecil, berputar dan terus berputar bagaikan gasing. Kibasan-kibasan sari mereka seolah membuat torehan pelangi, membuat semua yang hadir terpukau.
Kemudian wanita tua yang sebelumnya memainkan lonceng di awal pertunjukkan kembali hadir seorang diri, kami bertanya-bertanya apa kejutan berikutnya yang akan ia tampilkan. Ia melempar kendi besar dengan menggunakan kakinya dan menangkapnya dengan ujung kepalanya. Kemudian berturut-turut ia melemparkan kendi dengan ukuran lebih kecil terus seperti itu  hingga kendi yang terkecil sehingga ada 7 tingkat kendi diatas kepalanya, aku bertanya-tanya bagaimana bisa leher dan kepalanya begitu kuat menahan beban sebanyak itu dan tetap menjaga keseimbangan. Seolah hal tersebut tak cukup membuat kami tercengang kemudian ia menginjak-injakkan kakinya diatas pecahan beling, dan menutup pertunjukkan dengan senyuman lebar. Sontak kami semua yang hadir disitu berdiri dan memberikan tepuk tangan kagum tanpa henti. Dan akupun menangis penuh haru sambil berpelukkan dengan kakakku. Masih tak percaya mimpiku terwujud indahnya lebih dari yang kubayangkan.

Peristiwa ini takkan pernah kulupakan seumur hidupku. Tak percaya rasanya, akhirnya aku mencapai impian terbesarku, yaitu menapak di tanah India. Setelah 10 tahun menanti dan mendamba dengan berbagai keraguan. Berawal dari kesukaanku menyaksikan film-film Bollywood, kemudian aku pun jatuh hati terhadap semua hal yang berbau India. Bukan hanya mengkoleksi film-filmnya, aku pun mengumpulkan berbagai macam aksesorisnya. Mulai dari baju, gelang, kalung, sendal, bahkan merubah kamarku menjadi kerajaan kecil India tersendiri. Sudah jelas impian terbesarku adalah pergi ke India.

Tentu saja masih banyak orang yang keheranan dan menganggap norak karena kesukaanku  tersebut.  Namun setiap tahun kecintaaan dan keinginan untuk ke India semakin kuat. Banyak yang menyarankan untuk tidak pergi kesana, karena kata mereka India itu kumuh, miskin, jorok, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Aku tidak peduli dengan semua perkataan tersebut.

Takdir datang pada waktu yang tak diduga. Di suatu siang yang tenang, sambil mengerjakan tugas-tugas kantor, aku mendapat kabar bahwa Air Asia sedang sale termasuk perjalanan ke India. Aku harus segera mengambil keputusan karena hari itu adalah hari terakhir. Tentu saja aku segera mengiyakan, walau sesudah itu aku baru menyadari bahwa tabungan tak ada, pun gaji seadanya, tapi aku tetap nekat.

 2 Maret 2012, 09.00 pagi aku, suami, dan kakakku sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta terminal 3. Setelah melalui proses check in dan Imigrasi, aku masih belum mau percaya. Jam 11.00 kami memasuki pesawat Air Asia QZ7696 yang didalamnya didominasi warna merah yang memberi semangat. Aku duduk di kursi tengah, cukup dekat dengan jendela untuk melihat pemandangan di luar, dan cukup dekat untuk ke toilet karena perasaan gugup yang mendera. Comfort kit dan In Flight meal yang kami pesan untuk perjalanan tersebut cukup membuatku nyaman. Bahkan suamiku berkata nasi lemak yang kami makan saat itu adalah yang terenak yang pernah dia coba, terang saja pada saat disajikan nasi lemak itu masih panas dan wanginya sudah menggoda hidung bahkan sebelum tutupnya dibuka.

Semakin dekat, semakin terasa mau pecah dada ini karena gundah. Pada saat kami memasuki India, malam sudah tiba, gelapnya malam berdampingan dengan ratusan penerangan yang tampak indah dilihat dari atas. Bersabar untuk keluar bergantian dari pesawat yang mendarat dengan mulusnya, akhirnya aku pun menghirup udara India. Aku berhasil menjejakkan kakiku di tanah Impian. Rasa syukur, haru dan bahagia, membuncah di dada. AKUUU BERHASIIILLL menggapai keinginan terbesar dalam hidupku, membuatku ingin tertawa dan tersenyum hingga wajah ini terasa pegal.

Di titik ini pula hidupku berubah. Semenjak itu aku jadi lebih berani untuk bermimpi. Dan kalimat “tak ada yang tak mungkin” menjadi motto hidup. Kini ada tiga cita-cita yang menantangku untuk diwujudkan. Aku ingin menjelajah pulau-pulau di Indonesia, kemudian menjelajah dunia.  Serta cita-citaku yang terdalam untuk menjadi seorang penulis buku anak. Walau kini telah menjadi Ibu dari seorang anak laki-laki tetapi itu bukanlah penghalang, namun justru sebagai penyemangat. 






Sunday, August 17, 2014

KEHANGATAN NEGERI REMPAH


Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 69...maaf saya sebagai anak bangsa belum bisa membalas jasa...yang bisa saya lakukan hanya berbagi kisah tentangmu Indonesia. Dan Ini kisah saya mengenai perjalanan saya ke Ambon.

Rasanya belum hilang dari ingatan tragedi kerusuhan Ambon pada rentang waktu tahun 1998 hingga 2000. Walau aku tak mengalaminya langsung. Namun berbagai macam pemberitaan media massa pada waktu itu, menimbulkan kengerian bagi siapa saja yang mengikuti pemberitaannya. Bagaimana tidak, bayangkan saja puluhan hingga ratusan korban yang tewas, ditambah terbakarnya rumah-rumah dan tempat ibadah, darah tergenang di jalanan kota, jerit dan tangis terdengar setiap harinya. Berharap besok masih ada nyawa, berharap besok mimpi buruk ini berakhir.

Was-was, sedikit bingung, tak terbayangkan apa yang akan aku temui ketika akhirnya pada tahun  2011 aku mendapat tugas liputan ke kota Ambon. Memang masa kelam itu sudah berakhir lama, tetapi tragedi tersebut masih membayangi. Dalam keadaan lelah dan mengantuk, aku dan tim akhirnya menjejakkan kaki di kota Ambon. Maklum saja kami mengambil penerbangan jam 1 pagi setelah sebelumnya tetap bekerja terlebih dahulu. Dalam keadaan seperti itu, jujur saja aku tidak begitu memperhatikan apa saja yang terdapat di kota ini, bahkan aku hanya menyadari bahwa penginapan kami berada di tepi pantai. Setelah berisitirahat dan cukup segar, kami langsung mengunjungi dua “landmark” Ambon yaitu Pintu kota dan Tugu Martha Christina Tiahahu disana pula kami menyaksikan tenggelamnya matahari. Sejauh ini aku mendapati kota yang damai dan normal, tidak seperti bayanganku sebelumnya. Malam itu aku lebih memilih istirahat karena esok kami harus bangun pagi sekali.

Ketika pagi tiba, setelah cuci muka dan gosok gigi aku pun mencari teman-temanku karena biasanya mereka mengambil gambar matahari terbit. Setelah menyusuri pantai tidak juga aku menemukan mereka. Hanya ada seorang tukang sapu yang sedang membersihkan halaman hotel dari daun-daun yang berjatuhan. Aku pun mengarah ke kamar temanku yang kebetulan searah dengan halaman hotel. Lalu ketika aku mendekat tukang sapu itu tiba-tiba menyapaku
“Selamat pagi nona”,
 “Selamat pagi” jawabku.
“Maaf bolehkah saya membersihkan sampah kulit duren di kamar sana?” menunjuk ke arah kamar temanku yang nampaknya semalam mengadakan pesta duren.
“Oh iya silahkan saja”
“Saya daritadi sudah ingin membersihkan, tetapi tak enak kalau tidak izin dulu, takut mengganggu”
“Oh tidak apa-apa pak”
“Terimakasih banyak” ujarnya lagi
“Justru saya yang harus terimakasih”

Iapun segera beranjak ke arah beranda kamar temanku dan membersihkan sampah kulit duren. sudah lama rasanya aku tidak menemukan orang seramah dan sesopan bapak tadi.
Hari itu kami pergi ke benteng Amsterdam, tidak ada tarif khusus untuk masuk kesana, kami hanya dikenakan biaya donasi untuk pemeliharaan gedung. Di dalamnya tak ada hal yang istimewa karena gedung itu kosong, tanpa ada barang-barang historis seperti pada umumnya sebuah museum. Gedung itu sendiri terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama tidak ada hal yang menarik perhatian kami kecuali plakat tentang sejarah pembangunan benteng Amsterdam. Namun ketika di lantai 2 dan 3 barulah kami menemukan hal istimewa yang berupa jendela-jendela yang langsung menghadap ke laut yang biru dimana dapat terlihat pulau seram.

Lokasi benteng Amsterdam berada di desa Hila, dimana disana pula terdapat gereja tertua. Melihat gereja tua yang terkunci dan sunyi kami sedikit kebingungan. Namun tak lama ada sekelompok ibu-ibu di seberang gereja yang memanggil kami dan menanyakan maksud kami kesana. Setelah menjelaskan tujuan kami, tanpa diminta salah satu ibu bercerita tentang kerusuhan ambon yang terjadi pada akhir tahun 1998. Gereja termasuk korban dalam kerusuhan tersebut, ternyata bangunan yang ada di hadapan kami bukan bangunan asli karena bangunan aslinya telah habis dibakar pada saat kerusuhan. Kejadian itu sangat disayangkan oleh bu acha, salah satu ibu yang kami ajak ngobrol, beliau berkata “bangunan itu tak bersalah kenapa harus diapa-apakan” walau bangunan ini digunakan oleh umat kristiani namun bangunan ini dijaga oleh umat islam yang tinggal di sekitarnya. Setelah mendapatkan cukup gambar untuk bahan liputan, kami pun beranjak dari sana.

Kami pun pergi ke desa Kaitetu yang jaraknya hanya sekitar 15 menit dari desa Hila. Disanalah terdapat mesjid tertua di Ambon. Melihat jarak desa yang berdekatan ini seolah menggugurkan rumor bahwa umat Islam dan Kristiani bermusuhan. Mesjid tua Wapauwe terletak di dalam perumahan penduduk. Posisinya berada rapat dengan rumah-rumah penduduk mengelilinginya, serta banyak pohon mangga tumbuh disekitarnya. Yang ternyata itulah asal usul nama Mesjid Wapauwe, yang berarti pohon mangga hutan dalam bahasa Kaitetu.

Saat itu aku hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Sehingga aku tidak berani masuk ke dalam Masjid, hanya mengamati dari luar sembari mencatat sejarah mesjid Wapauwe yang terpampang besar di samping masjid. Tiba-tiba ada seorang ibu yang berteriak memanggilku, beliau menyuruhku untuk duduk bersamanya di teras rumahnya. Setelah memperkenalkan diri dan maksud kami datang ke Ambon, dia memintaku untuk memberitakan bahwa tidak ada masalah antara umat Islam dan Kristiani di Ambon. Lalu ia pun bercerita sambil matanya menerawang, dulu sebelum kerusuhan terjadi umat kristiani dan muslim hidup berdampingan dan saling membantu. Setiap hari-hari besar keagaaman mereka selalu bergotong royong dan menghormati satu sama lain. Entah darimana dan bagaimana kerusuhan dimulai, yang meraka tahu dan mereka yakini bahwa siapapun yang memulai isu yang memecahkan kerukunan beragama disana, bahwa mereka adalah orang-orang yang datang dari luar Maluku, bukan penduduk asli. Ketika peristiwa itu terjadi, orang saling membunuh dan memburu, namun sesama umat muslim dan kristiani disana saling membantu dan memberikan perlindungan kepada siapapun yang membutuhkan. Akan tetapi mereka yang dahulu bertetangga, akibat peristiwa tersebut menjadi berpisah jarak. Keinganan ibu itu sederhana beliau hanya ingin Ambon kembali damai seperti sedia kala.

Ketika beliau bercerita, tanpa sadar para tetangga pun ikut berkumpul disana dan saling menimpali cerita. Kami mengobrol banyak termasuk berkisah tentang keajaiban mesjid tua yang terletak persis di sebelah rumahnya. Beliau pun menanyakan apa aku sudah sembahyang, dan kujawab belum. Beliau berkata bahwa aku harus merasakan sholat di mesjid tertua tersebut, karena sayang sekali sudah jauh-jauh datang tapi tak sholat disana. Lalu dengan sungkan mengatakan bahwa saya malu baju saya tak pantas masuk mesjid. Ibu itu pun meminta teman-temannya agar membantu saya. Kedua ibu yang lain membantu saya mengambilkan mukena dari dalam mesjid, agar saya bisa langsung mengenakannya begitu saya selesai mengambil air wudhu di luar mesjid. Untuk saya Mesjid ini memang sederhana namun membawa kenyamanan dan ketenangan beribadah di dalamnya, bersyukur saya diberi kesempatan untuk melaksanakan sholat disini. Kedua ibu tadi menunggu dengan sabar hingga saya menyelesaikan sholat saya, dan kemudian mereka menunjukkan bagian-bagian penting dari mesjid. Mesjid yang dibangun pada tahun 1414, mempunyai keunikan tersendiri yaitu dibangun tanpa menggunakan paku satu pun. Selain itu pula disini terdapat mushaf Al-Quran tertua di Indonesia, yang ditulis  tangan oleh Muhammad Arikulapessy imam pertama masjid Wapauwe. Menjadi suatu kebiasaan disini, jika ingin berpergian jauh, mereka datang ke Mesjid Wapauwe dan menunaikan ibadah dulu disini untuk berdoa mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT. Dengan berbagai keunikannya tak heran mesjid ini menjadi kebanggaan umat muslim Ambon. Hingga kami pergi dari sana kami terus ditemani oleh warga desa Kaitetu, dan tak lupa senyuman dan lambaian tangan mereka berikan, mengiringi kepergian kami.

Maluku kaya akan berbagai macam hasil bumi yang berupa rempah-rempah, itu pula yang menyebabkan bangsa asing datang kesini, yaitu untuk menguasai rempah-rempah sehingga dapat meraih untung dan mengendalikan perdagangan dunia. Jadi tak sempurna rasanya jika datang ke Ambon tanpa napak tilas sejarah para pahlawan, khususnya kisah keberanian Thomas Matulessy dalam melawan penjajah, beliau juga dikenal dengan julukan Kapitan Patimura. Pulau Saparua adalah tujuan kami selanjutnya. Sebelum pergi pemilik hotel memastikan apa kami sudah ada orang untuk menemani. Walau memang sudah ada orang yang aku hubungi untuk menemani, tapi membuatku bertanya ada apa gerangan. Ternyata belum lama ini terjadi  bentrokkan antar desa di Pulau Saparua dan dikhawatirkan keadaan masih tegang, sehingga diperlukan pendamping untuk menemani kami. Tak lama pak Johanis atau kami memanggilnya pak Yanes datang, beliau berperawakan mungil dan berusia lebih kurang 50 tahun. Setelah melihat kedatangan beliau, pemilik hotel pun lega dan meyakinkan bahwa bersama pak Yanes semuanya aman.

Dari pelabuhan Leihitu kami mengambil kapal cepat untuk sampai ke Saparua. Satu hal yang saya perhatikan tentang pak Yanes, beliau disegani banyak orang. Di setiap pelabuhan manapun biasanya para calon penumpang diserbu calo tiket ataupun portir yang berebutan mengangkut barang, dimana keadaan tersebut selalu membuatku risih dan harus ekstra waspada. Namun begitu mereka melihat kami bersama Pak Yanes, mereka semua langsung pergi menjauh, tanpa pak Yanes mengucapkan kata sepatah pun.

Setelah satu jam perjalanan akhirnya kapal kami hampir tiba di Pulau Saparua, yang ditandai terlihatnya salib besar yang terletak di pinggiran pulau Saparua, seolah menyambut para pengunjung. Dan lagi-lagi ketika sampai kami pun diserbu oleh para supir angkutan umum, yang tentu saja segera bubar ketika melihat pak Yanes. Kami pun menyewa salah satu mobil angkutan umum untuk mengantar kami ke desa Porto dan desa Haria. Di desa Portolah terletak gereja tua Irine, dimana disanalah berdiri salib besar yang tadi terlihat dari kejauhan. Sebelum memasuki desa Porto, pak Yanes mengajak kami untuk ke rumah Kepala Desa terlebih dahulu untuk mendapatkan izin. Ternyata kami hanya bertegur sapa dan izin sekedarnya. Pak Yanes berkata bahwa sebenarnya bisa-bisa saja langsung masuk ke gereja Irine tetapi sopan santun dan kekerabatan harus tetap dijaga. Aku pribadi sangat menyetujui hal itu.

Setelah mengambil gambar dan berbagai keterangan tentang gereja Irine. Kami pun beristirahat sejenak di salah satu warung di seberang gereja, karena hari itu panasnya begitu terik. Warung ini menurutku sangat manis, mengingatkankku pada film-film lama. Warung ini merupakan bagian kecil dari rumah kayu berwarna kuning, dimana di pekarangannya terdapat berbagai tanaman dan bunga warna-warni, dan dikelilingi pagar kayu warna putih, walau tidak besar tetapi terasa manis sekali.

Walau kami hanya memesan minuman dingin, tetapi pemilik warung tidak berkeberatan sama sekali. Beliau pun ikut bercengkerama dengan kami. Walau beliau tidak mau bercerita banyak, syukurlah ternyata ketegangan antar desa  yang dikhawatirkan sebelumnya ternyata sudah berakhir.

Kemudian tibalah kami di Desa Haria. Kami berkunjung ke rumah Kapitan Pattimura. Rumah kecil ini ternyata menyimpan berbagai kisah tentang Kapitan Pattimura mulai dari asal-usul, silsilah, sejarah perjuangan hingga beberapa peninggalan beliau. Aku berharap bahwa ke depannya pemerintah memberikan perhatian khusus kepada rumah bersejarah ini, yang mulai lapuk dimakan usia. Kemudian kami singgah di Wei Sisil, dimana daerah yang tenang dengan air laut jernih ini pernah menjadi lautan darah. Darah para penjajah yang mati ditangan para pejuang yang hanya bermodalkan bambu dan parang. Oleh karena itu disini terdapat tugu untuk menghormati jasa para pejuang.

Tak jauh dari sana terdapat benteng Duurstede, benteng yang terlihat sangat kokoh dari luar namun ternyata di dalamnya hanyalah puing-puing tersisa. Benteng ini juga merupakan lambang perlawanan rakyat saparua dalam melawan penjajah, tentu saja dibawah pimpinan Kapitan Pattimura. Dari pak Yanes kami juga mengetahui bahwa Pattimura, berasal dari kata Patti yang berarti Raja, sedangkan Murah berarti Sepenuh hati. Mengetahui berbagai perjuangan dan keberanian Thomas Matulessy demi kebebasan rakyat Maluku tak heran beliau mendapatkan julukan tersebut.

Hari sudah mulai sore, dan kami harus segera ke Pelabuhan jika ingin mengejar kapal untuk kembali. Selain berbagai kisah tentang keberanian para pahlawan maluku. Saya juga mempelajari satu hal, bahwa pribahasa jangan menilai buku dari sampulnya benar adanya. Itulah gambaran tentang sosok pak Yanes. Perawakannya yang kecil dan sedikit tua, tapi ternyata memliki berbagai kelebihan. Baru kali ini kami pergi dengan seseorang yang benar-benar mengetahui berbagai sejarah daerahnya, disegani banyak orang, serta sangat membantu kami dalam segala hal, sehingga pekerjaan kami pun terasa lebih mudah. Yang paling utama beliau pun tidak pamrih sama sekali.

Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Ambon, sudah saatnya kami pergi ke daerah lain. Tujuan kami berikutnya adalah Pulau Seram. Namun sebelum kami pergi dari kota Ambon, ternyata pemilik penginapan meminta kami untuk makan malam di Hotel karena mereka telah menyiapkan sesuatu untuk kami. Setelah liputan terakhir hari itu kami pun segera pulang ke hotel untuk memenuhi undangan pemilik hotel. Dan benar saja di sebuah saung yang terdapat disana sudah disediakan berbagai macam makanan. Mulai dari hidangan laut, hingga makanan khas Maluku yaitu Papeda dan ikan kuah kuning.

Bisa dibilang berkumpul dan bernyanyi merupakan kegiatan kesukaan masyarakat Maluku. Selain aku dan tim yang berada disana malam itu, pemilik hotel juga mengundang beberapa orang teman-temannya termasuk pak Yanes. Setelah selesai makan malam, tak lama mereka pun mengambil gitar dan mulai bernyanyi. Suara mereka benar-benar bagus dan merdu. Tak heran Glenn Fredly sang penyanyi terkenal Indonesia memiliki suara seindah itu, karena memang ternyata daerah kelahirannya terkenal akan orang-orang bersuara merdu. Kebanyakan mereka menyanyikan lagu-lagu Ambon, walau aku tak mengerti namun aku sangat menikmati. Melalui lagu-lagu berbagi tawa berbagi kisah. Malam semakin larut, lagu-lagu dinyanyikan namun suasana seketika berubah syahdu ketika pak Yanes menyanyikan lagu  Maluku Tanah Pusaka

Maluku Tanah Pusaka
Maluku Tanah Pusaka
Nyong Ambon

Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara

satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..

Sio maluku tampa beta putus pusa e
paser putih aluse gunung deng tanjong 
beta seng lupa e

ina ama lama lawang seng bakudapa e
sio biar jauh baini e
tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara

nusa ina 
katong samua dari sana

biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka

satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..

ina ama lama lawang seng bakudapa e
sio biar jauh baini e
tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara

nusa ina 
katong samua dari sana

biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka

satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..

Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara

biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka

nusa ina
itu tanah asal ee

satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise
gandong E

“Dari ujung Halmahera hingga Tenggara jau katong samua basudara”....itulah bagian lirik yang menyentuh hatiku dan hingga kini selalu terngiang-ngiang dalam benakku. Untukku lagu itu mengingatkan kita bahwa apapun latar belakang suku, budaya, dan agama, kita semua tetap bersaudara. Terimakasih atas segala keramahanmu hai Negeri Rempah, kehangatanmu membuatku berjanji untuk datang kembali dan mengenalmu.
Friday, July 4, 2014

DUA MATAHARI TERBIT

Dinginnya kota magelang pada jam 3 pagi membuat siapapun ingin tetap meringkuk di balik selimut dan tetap berada di dunia mimpi. Tidak begitu dengan saya, walau sedikit enggan sayapun mulai bersiap-siap. Tuntutan pekerjaan kali ini membuat saya dan tim harus mengejar matahari terbit.

Jalanan menuju candi Budha yang termegah dan terkenal tentu saja masih gelap dan lengang. Untuk mengusir rasa kantuk yang terus menghinggapi saya pun terus berpikir akan melihat keajaiban yang akan terjadi.

Sesampainya di komplek candi Borobudur, penghubung kami yang merupakan orang dinas taman candi, membawa kami terlebih dahulu ke sebuah hotel. Hotel yang memang masih terletak di areal candi, ternyata menjadikan “pertunjukkan” matahari terbit di candi Borobudur sebagai daya tarik hotelnya.

Sedikit terkejut ketika mengetahui ternyata cukup banyak wisatawan asing yang berminat untuk melihat pergantian pagi ini. Berbekal senter dan mempercayakan jalan kepada satu orang, namun sudah hafal betul seluk beluk candi. Kami pun naik hingga tingkat tertinggi yaitu bagian arupadatu dimana disanalah stupa-stupa berada. Stupa-stupa yang dipercaya jika berhasil menyentuhnya maka akan mendatangkan rezeki. Yang belakangan kami tahu itu hanya mitos buatan saja.

Masih ada satu jam hingga terbitnya sang surya. Ada yang sudah memasang tripod kamera untuk mendapatkan posisi terbaik ketika jam magis itu tiba, ada juga yang memilih tempat untuk menunggu sambil tertidur sejenak.

Jam 5 kurang, semburat cahaya mulai mewarnai langit. Terucap syukur dan kekaguman tak ada habisnya, ketika hangat matahari mulai menggantikan rasa dinginnya malam. Ada yang terpukau, ada yg sibuk mengabadikan peristiwas tersebut dan ada juga yang memberikan penghormatan melalui gerakan-gerakan yoga.

Sinar matahari yang jatuh di sisi-sisi candi memberikan keindahan yang berbeda-beda di setiap sudutnya. Walau sudah kesekian kalinya mengelilingi bagian candi di tingkat teratas tersebut, namun kali  ini berbeda. Kejutan keindahan menunggu untuk ditemukan bagi mereka yang mau menelusurinya. Tak heran para wisatawan asing mau membayar mahal demi hadir di peristiwa magis ini. Peristiwa magis yang menyatukan berbagai orang dari berbagai belahan bumi, dengan latar belakang yang berbeda-beda, dengan caranya masing-masing, mengucap rasa syukur yang sama.

Matahari sudah sepenuhnya muncul, dan tak lama kemudian tiba-tiba rombongan anak SD sekitar kelas 3 atau 4 datang, lengkap dengan seragam dan buku serta alat tulis ditangan. Muka mereka begitu semangat walaupun sudah menaiki puluhan tangga candi yang cukup membuat terengah-engah. Entah mengapa rombongan ini menarik mata saya untuk melihat apa yang akan mereka lakukan.
Mereka pun berpencar ada yang berkelompok ada yang sendiri-sendiri. Ternyata mereka mulai mendekati turis-turis mancanegara. “Hallo my name is...” How do u do?” ...”What is your name?”. Where do u came from?” inilah  beberapa kalimat bahasa inggris yang keluar dari mulut mereka, ada yang terlihat yakin ada juga yang terbata-bata karena takut.

Orang yang mengantar kami pun menjelaskan bahwa anak-anak ini datang dari desa yang jaraknya lebih kurang 4 jam dari candi borobudur. Biasanya anak-anak ini sudah kumpul di sekolah masih masing-masing mulai dari tengah malam, agar dapat tiba pagi hari di Candi Borobudur. Biaya untuk transportasi pun merupakan hasil patungan antara pihak sekolah dan orang tua murid, dan dilakukan selama berbulan-bulan. Bisa dibayangkan, jangankan tempat les bahasa Inggris, buku pelajaran pun mereka harus berbagi karena keterbatasan biaya. Oleh karena itu hal ini mereka lakukan, karena inilah jalan satu-satunya agar anak-anak ini dapat belajar bahasa Inggris. Kegiatan ini dilakukan beberapa bulan sekali mulai dari anak kelas 3 hingga 6 SD. Jangan bayangkan perjalanan dengan kendaraan yang nyaman dan ber-AC untuk menempuh waktu 4 jam, bus-bus omprengan yang sudah tualah yang biasa mereka pakai.

Betapa malunya saya, menyadari tadi pagi sempat sedikit berat hati untuk bekerja, sangat berbeda dengan anak-anak itu yang datang penuh semangat. Senyuman terus merekah pagi itu, ketika melihat reaksi wisatawan mancanegara. Para turis asing ini dengan penuh senyuman menjawab setiap pertanyaan anak-anak tersebut. Jika ada anak yang terlihat gugup mereka pun tak ragu memberikan rangkulan. Wajah anak-anak pun semakin bersemangat jika sudah berhasil mendapatkan turis di wawancara. Kompetisi antar anak pun terlihat ketika yang satu berhasil mendapatkan banyak nama yang telah diwawancara, maka yang lain tak mau kalah.

Hari itu saya menyaksikan dua matahari terbit, yaitu dalam arti sesungguhnya. Sedangkan yang satu lagi adalah anak-anak itu. Semangat mereka, merupakan wujud nyata bahwa masih ada harapan untuk negeri ini. Mudah-mudahan cahaya itu tak pernah padam.


Saturday, June 21, 2014

HEI...BECAK

Tak banyak lagi kota yang memilikinya
Beruntung bagi yang masih menjumpainya
Rodanya tiga, dikayuh bapak tua
Takkan pernah secepat mobil atau motor sekalipun
Namun mampu menghalau panas dan hujan
Percayalah...Naik becak itu lebih mewah
Bersantai merasakan angin sepoi-sepoi
Melihat pemandangan kota lebih seksama
Dapat bertegur sapa dan saling melempar senyum
Atau berbagi cerita dengan abang pengkayuh becak
Hanya dengan naik becak pengalaman sudah bertambah
Hei becak...hanya ini harapku
Tetaplah tangguh sehingga zaman apapun tak bisa menghilangkanmu