Thursday, June 18, 2015
SUMANTRI VS MAD DOG
SUKRASANA PADA SUMANTRI:
SUMANTRI,
KAKAKKU YANG TAMPAN
APA YANG SEDANG MATI-MATIAN KAU BURU
BEGITU TERGESANYA, SAMPAI CINTA LUPUT KAU BAWA
BISA KULIHAT BETAPA GIGIHNYA KAU PERJUANGKAN SEMUA MIMPI
HINGGA HABIS RASA
KEJAYAAN TAK KURANG TAK LEBIH ADALAH BENIH
KADANG KALA DIA TUMBUH MENJADI KESOMBONGAN YANG MENJULANG
-Lakon Sumantri Sukrasana oleh wayang urban Nanang Hape-
Panggung dipenuhi berbagai
perlengkapan layaknya menonton wayang kulit. Namun kehadiran alat musik modern,
disamping peralatan musik tradisional, membangkitkan rasa penasaran.
Satu persatu pemain musik
tradisional muncul dan menempati posisinya masing-masing. Sang Dalang Nanang
Hape, terlebih dahulu memperkenalkan filosofi dibalik Gunungan atau kayon.
Kisah belum dimulai, namun saya sudah tercengang. Seperti yang tergambar pada
Gunungan, manusia semasa hidup diberikan pilihan, namun pilihan itu kembali ke satu pucuk, yaitu jantung. Suatu
saat jantung akan berhenti berdetak, dan ketika itu terjadi apakah pilihan itu
sudah tepat.
Musik tradisional mengalun
memenuhi ruangan. Sang dalang membuka kisah. Lalu tetiba satu persatu pemain
lain muncul dan duduk bersama dalang. Candaan dan perubahan musik dari tradisonal bercampur
menjadi rasa kekinian, semakin membuat berdebar, menanti kejutan apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Dikisahkan kakak beradik Sumantri
dan Sukrasana. Sumantri yang tampan dan gagah, demi mengejar ambisinya untuk
menjadi yang terhebat, meninggalkan
adiknya Sukrasana yang buruk rupa namun sangat mencintai kakaknya. Setelah
sampai ke negeri Mahespati, Sumantri mengabdi pada Prabu Harjuna Sastra . Tugas
pertama Sumantri adalah memenangkan sayembara merebut putri cantik Citrawati
dari negeri Magada.
Tak ada yang tetap pada lakon
Wayang Urban ini. Satu tokoh dapat
diperankan oleh beberapa orang, atau bahkan setiap orang memiliki beberapa
lakon, secara bergantian atau muncul bersamaan. Gimmick-gimmick pun tak
berhenti disitu, para pelakon juga ternyata adalah para pemain musik.
Kemudian cerita bergulir.
Sumantri berhasil memenangkan sayembara. Namun Sumantri merasa, apakah pantas
sang Raja mendapatkan Putri Citrawati, karena bagaimanapun juga ialah yang memenangkan
sayembara. Lantas Sumantri pun menantang sang raja untuk bertarung. Pertarungan
terjadi, dan dimenangkan oleh sang Raja. Karena walau Sumantri sakti namun sang
raja lebih sakti.
Namun adakah yang mengetahui
jerit hati putri Citrawati? Yang dipertaruhkan dan diperebutkan bagai barang
tak bernyawa?
Jerit hati putri Citrawati
digambarkan jelas oleh nyanyian dan kata-kata dari dua wanita yang muncul
Tak mau menyerahkan diri begitu
saja Putri Citrawati menantang Prabu Harjuna Sastra untuk memindahkan taman
kesayangannya yaitu taman Sriwedari dari Magada ke Mahespati dalam satu malam
saja. Tak kurang dan tak lebih satu helai daun pun.
Prabu Harjuna Sastra meminta
sumantri untuk memenuhinya. Dan kebetulan Sukrasana yang sudah sangat
merindukan kakaknya datang. Berkat Sukrasana keinginan yang sangat mustahil
dilakukan itu, dapat terwujud. Namun karena suatu kesalahan, akhirnya Sumantri
kehilangan pekerjaannya dan diusir dari kerajaan, iapun tak pelak menyalahkan
adiknya Sukrasana. Panah dihunuskan ke jantung Sukrasana. Sukrasana mati karena
tangan orang yang sangat dicintainya yaitu Sumantri. Sukrasana Mati karena
ambisi Sumantri
Tepuk tangan tak berhenti untuk
team Wayang urban dengan Dalang Nanang Hape. Saya belum pernah melihat wayang
disampaikan dengan begitu bebasnya, begitu “slengean”, begitu dalamnya. Musik
pun selalu berganti-ganti, pop, jazz, tanpa meninggalkan sentuhan Tradisi. Perasaan
saya benar-benar dipermainkan, sebentar serius, sebentar tertawa, sebentar
tercengang, sebentar bingung. Tak ada satu waktu dimana kami para penonton
begitu larut dalam suatu perasaan tertentu. Atau jangan-jangan memang itu
filosofi hidup yang ingin disampaikan. Jangan sampai kita berlarut-larut dalam
suatu rasa sedih atau bahagia, karena semuanya akan bergulir dan berganti
dengan cepat.
Mungkin jenis tampilan wayang ini
“menabrak” dari yang sudah ada dan yang sudah dilakukan dari dahulu. Mungkin
juga ada yang tidak setuju dengan gaya wayang seperti ini. Tetapi bagi saya
pribadi, wayang ini mampu mengubah cara pandang saya. Dari momok yang
membosankan dan susah dimengerti, menjadi sesuatu yang menarik dan mudah
dipahami. Bahkan saya sempat tak percaya bahwa waktu satu setengah jam berlalu
begitu saja. Dan ketika sang dalang
menyampaikan “ini lagu terakhir” saya masih sangat berharap itu hanyalah
gimmick. Jika tujuan wayang urban ini adalah untuk menarik perhatian kaum muda,
saya rasa cara ini akan sangat berhasil. Saya rasa tidak berlebihan jika saya
menganggap Wayang Urban sebagai salah satu Mahakarya Indonesia.
Lalu apa kaitannya Mad Dog dalam
cerita ini?, Mad Dog adalah tokoh yang
diperankan Yayan Ruhian pada film The Raid. Sebelum saya menceritakan lebih
jauh. Perlu diketahui saya sangat ngefans dengan beliau. Jadi, yah bisa
dibilang tulisan saya berikut ini sangat subyektif. Yaitu dari sisi seseorang
yang sangat mengidolakan beliau
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya
bahwa satu tokoh bisa dimainkan oleh beberapa aktor. Yayan Ruhian muncul
sebagai Sumantri ketika bertarung dalam sayembara memperebutkan dewi Citrawati.
Kehadirannya hanya sekitar lima menit, namun memukau. Nama Yayan Ruhian dikenal
setelah kesuksesan film The Raid. Walau sebelumnya ia juga tampil sebagai Erik
dalam film Merantau. Berkat film The
Raid pula beberapa aktornya dikenal secara Internasional termasuk Yayan Ruhian.
Nama Mad Dog pun sempat menjadi trending topic worldwide. bahkan sudah beredar
selentingan berita bahwa iapun terlibat dalam film Star Wars terbaru. Banyak
yang berpikir bahwa karirnya melesat begitu cepat.
Tapi untuk menjadi seorang Mad
Dog, dibutuhkan kegigihan dan kesabaran. Butuh belasan tahun untuk menjadi
sekuat dan selincah itu. Butuh kesabaran mendalami seni pencak silat, yang
sudah ditinggalkan banyak orang. Bahkan saya sendiri mengenal pencak silat
hanya sebatas mata pelajaran muatan lokal pada saat duduk dibangku sekolah
menengah pertama dulu. Namun seorang Yayan Ruhian. dengan penuh bangga ia
mengembangkan seni bela diri tradisional ini. Butuh dedikasi tanpa batas untuk
meraih sukses. Dalam film jepang “Yakuza Apocalypse” garapan Takashi Miike seorang
Yayan Ruhian harus mempersiapkan diri dan berlatih selama satu tahun. Berkat
usahanya itu tak heran Ia dapat menjejakkan kakinya di red carpet cannes film
festival dan Sundance Film Festival .Buat saya, prestasi yang diraihnya sudah
sangat luar biasa mengingat beliau belum lama menghiasi layar lebar. Namun jika
bertemu langsung dengan beliau, kesan yang ditangkap adalah sederhana, ramah,
sopan dan sedikit pemalu. Mungkin bahkan,
jika berpapasan dengan beliau di suatu tempat kita tidak akan menyadari bahwa
ia seorang bintang. Ia melayani dengan sangat baik siapapun yang bertanya,
wawancara atau sekedar foto bareng. Tak jarang ia membungkukkan badan sebagai
tanda hormat kepada lawan bicaranya, dan saya rasa gestur tersebut tidak bisa
dibuat-buat kalau bukan karena kebiasaan.
Hingga kemarin ada seseorang yang
bertanya pada beliau “akang kan sudah menjadi seorang bintang, kok masih aja
sederhana?” . Beliau terdiam sesaat dan menjawab” Justru saya takut, saya takut
tergoda, saya takut keluar dari diri saya yang begini, saya takut terlena dan
tidak mengenal diri saya sendiri.”
Seperti dalang Nanang Hape
bilang, hidup itu pilihan. Pilihan menjadi Sumantri dengan segala ketampanan
dan kehebatannya namun terbutakan ambisi. Atau menjadi seorang Yayan Ruhian,
yang awalnya tak dikenal kemudian berhasil menjadi bintang, namun justru takut
terlena dunia.
Kembali saya mengutip, Ono dino
Ono Tresno artinya Ada hari ada Cinta, Indah bukan jika setiap hari diwarnai
dengan cinta. Tetapi sedikit ambisi bisa merubahnya menjadi Ono Dunyo Ono
tresno: Ada Dunia Ada cinta, disini dunia yang dimaksud adalah materi. Cinta
hanya muncul ketika materi terpenuhi, ketika uang adalah segalanya. Jadi
siapakah yang akan kamu pilih? Menjadi Sumantri atau Mad dog?
Sunday, May 31, 2015
DEMI CURUG PARIGI
Berawal dari suami yang
menunjukkan foto-foto bersama grup gowesnya.
“Wah bagus yah, ini di Bekasi?”
“Iya Bekasi. Di perbatasan Bantargebang sama Jonggol”
“Ih jadi pengen deh”
“Neng mau kesana?”
“Iya mau”
“Ya udah tapi berangkatnya jam
setengah 6 pagi yah, biar ga terlalu panas”
“Lah emang ga bisa apa naik mobil
aja?” (keliatan banget kan istrinya ogah capek)
“Ga bisa jalannya sempit
kesananya” (sambil nunjukkin foto lainnya)
“Neng kan ga pernah gowesan jauh, orang ngegowes aja
paling banter Cuma ke Summarecon” (itupun baru 3 kali dalam 2 bulan)
“Yah kalau capek istirahat,
pelan-pelan aja”
Setelah mengajukan beberapa
argumen lainnya supaya kesana ga pake sepeda, akhirnya akang suami berhasil
membujuk saya supaya supaya mau sepedaan. Berbagai persiapan pun disiapkan
suami, mulai dari air putih yang udah dimasukkin kulkas malam sebelumnya, sampai
kamera pocket buat keeksisan istrinya. Intinya mah yah semua digampangin supaya
saya si istri ga capek dan ga banyak keluhan.
Lalu di hari Sabtu tanggal 30
Maret 2015 (harus banget ditulis, karena ini hari bersejarah buat saya) sehabis
sholat subuh kita siap-siap. Dengan pedenya mulailah saya sang beginner goweser
memulai perjalan ke Curug(Air Terjun) Parigi. Sebenarnya, saya suka deg-degan kalau gowes
di jalan raya mengingat saya orangnya ceroboh tapi untung ada suami yang buka
jalan jadi lebih yakin.
Daerah Curug Parigi ini ada di
daerah perbatasan Bantar Gebang dan Jonggol Bogor.Kalau dari rumah saya yang
ada di daerah Mekarsari Bekasi kami melewati rute kartini-pengairan- jalan raya
narogong, kalau udah masuk daerah jalan raya Narogong udah tuh terus aja ke
arah Bantargebang.
Sempat istirahat beberapa kali,
di setiap berhenti tak lupa bertanya “ masih jauh ga kang?”. Barulah ketika
sampai perumahan Vida, akang suami bilang “nah kalau dari sini tinggal 1-2
kilometer”. Kemudian kembali menggoweslah kami, sampai berhenti dan kita harus
nyebrang gang yang dihimpit pabrik. Oh pantesan ngga mungkin pakai mobil,
karena mau parkir di mana? Ga mungkin kan ninggalin mobil di Jalan raya dan
jalan masuknya pun kecil (tapi ternyata bisa loh kalau mau pake sepeda motor.
Langsung pemandangan jalan raya berganti dengan pemandangan, tanah merah yang
lapang, ilalang dan bunga liar dipinggir jalan
Masih terus masuk lagi hingga
melewati beberapa rumah penduduk kemudian ketemu jalan berbatu. Tidak ada
petunjuk tentang keberadaan Curug Parigi, jadi kalau baru yang pertama kali
kesini akan agak sulit menemukannya. Dari jalan berbatu kemudian melipir ke
arah kanan dan tak jauh dari situ langsung terdengar suara deras air mengalir.
Tidak ada tempat parkir resmi
maupun buatan, masuknya juga gratis, jadi hati-hati dengan kendaraan yang
dibawa. Bahkan akang suami harus menggotong dua sepeda turun.
Dan inilah Curug Parigi
Mungkin ditempat lain banyak yang
lebih bagus. Tapi buat saya yang orang Bekasi ga nyangka aja nemu Curug kayak
gini di daerah Bekasi. Senang dan lega pastinya, capeknya terbayar lunas sama
pemandangannya. Tapi yah memang airnya tidak jernih dan bening, warna airnya
kecoklatan.
Sebelum pulang kami istirahat
dulu di warung terdekat. Lumayan nemu kue cucur kedoyanan saya.
Sayangnya saya ga menemukan
cerita atau keterangan lebih jauh soal Curug Parigi, bahkan mbah google pun
isinya sama. Kenapa ga nanya sama yang jaga warung? Soalnya saya lupa, saking
capek dan lapernya.
Dan barulah saya tau kalau jarak
perjalanan yang ditempuh adalah 35 kilometer (bolak-balik).....mamaaaaaa
ampunnn pantesan kaki pada kram. Kapok? Ngga kok malah jadi semangat nyari
tempat tak terduga lainnya di Bekasi *sambilnempelinkoyo
Monday, April 13, 2015
DRAMA CINTA RAJMANDIR
Gedung berwarna terakota itu,
dengan anggunnya menyambut kedatangan kami. Ia masih berdiri tegap walaupun
sudah puluhan tahun usianya. Menonton film disini sudah menjadi hal yang
kunanti-nanti. Bukan hanya sekedar bioskop biasa, tetapi bioskop tua dan
bersejarah yang wajib didatangi penggila film Bollywood seperti aku. Ketika
datang aku sempat heran, karena kupikir sedang ada acara khusus yang
berlangsung, melihat dari rapinya pakaian para pria dan cantiknya sari-sari
yang digunakan para wanita. Ketika sampai di loket pembelian tiket yang
terletak di luar gedung pun kami dibuat bingung karena tempat duduknya dibagi
menjadi beberapa kelas yaitu silver, gold, diamond. Entah karena melihat
kebingungan kami atau melihat kami sebagai wisatawan, akhirnya si penjual tiket
memberikan tiga tiket kepada kami tanpa kami tahu itu di kelas yang mana,
karena keterangan di tiket tentu saja ditulis dalam bahasa India. Kami pun
tidak terlalu mempermasalahkannya karena harga tiketnya tidak jauh berbeda
dengan tiket di Indonesia.
Masih ada satu jam sebelum
pertunjukkan film dimulai. Namun tidak seperti gedung bioskop pada umumnya,
yang bisa menunggu santai di dalam sebelum film diputar. Gedung itu mempunyai
jadwal buka tutup pintu yang ketat. Ketika akhirnya pintu dibuka dan kami masuk
kedalamnya aku terkejut. Begitu masuk ke dalam lobby utama gedung, aku seolah
ditarik ke tahun 70-an. Gedung yang bergaya moderne art itu, begitu cantik dan
mewah, seolah waktu tidak bergeser dari situ. Atapnya terdapat chandelier
kristal besar, dan dipinggirannya terdapat kristal-kristal kecil dalam suatu
pola, kemudian plafonnya terdapat kristal-kristal yang menyebar. Seluruh
dindingnya terdapat berbagai ornamen gaya eropa yang sama mewahnya, lantainya
pun dilapisi karpet tebal. Dibantu dengan pencahayaan yang romantis, membuatku begitu
terpukau, ini adalah bioskop terhebat yang pernah kulihat. Bahkan membeli
popcorn disana pun menjadi sesuatu yang menyenangkan. Akhirnya film pun segera
dimulai, kemudian kami diarahkan sesuai keterangan pada tiket kami. Betapa
terkejutnya saya, ternyata tempat duduk kami berada pada sebuah balkon layaknya
menonton opera, dan memang keseluruhan tempat tersebut seperti sebuah
pertunjukkan opera lengkap dengan tirai merahnya.
Film yang kami saksikan saat itu
adalah sebuah film komedi Romantis berjudul “Tere Naal Love Ho Gaya” yang
dibintangi Ritesh Desmukh dan Genelia D’Souza. Walaupun hanya setengah mengerti
tapi kami masih bisa ikut menikmati dan tertawa. Aku pun memperhatikan bahwa
penonton-penonton sangat ekspresif. Berbagai komentar mereka lemparkan, tertawa
bersama, bahkan ikut menari dan menyanyi pada bagian-bagian film. Lalu betapa
terkejutnya ketika di tengah film yang sudah berlangsung satu jam setengah tiba
layar gelap dan bertuliskan Intermezzo, penonton pun tiba secara serempak
keluar dari ruangan pertunjukkan. Aku, kakakku, dan suamiku hanya bisa
mengikuti dengan tanda tanya besar. Ternyata barulah kami tahu untuk mengatasi
panjangnya film yang biasanya berdurasi tiga jam, maka biasanya diberikan waktu
rehat kira 15 menit untuk ke kamar mandi atau membeli makanan dan minuman,
karena memang tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke ruang
pertunjukkan.
Setelah kami masuk kembali
suasana pun semakin menarik, penonton semakin larut dalam cerita, ada pula
suami yang terus berpelukkan dengan istrinya sambil memandang mesra selama sisa
film, walaupun mereka pasangan yang tak lagi muda namun tak kalah dengan
pasangan muda mudinya. Akupun tak ketinggalan, entah terbawa suasana atau tidak,
akupun menggenggam tangan suamiku, karena dialah sekarang aku bisa mencapai
impian terbesar dalam hidupku. Ketika film usai semua penonton memberikan
standing ovation dan diwarnai siul-siulan disana sini. Dan yang membuatku
terkejut ternyata kakak dan suamiku yang biasanya menolak mentah-mentah jika
diajak nonton film India, juga menikmatinya sama seperti aku.
Itulah Rajmandir, bioskop
kebanggaan kota Jaipur yang telah berdiri sejak tahun 1976. Ia menjadi saksi
sejarah perfilman Bollywood. Berbagai pemutaran perdana film-film besar dan
sukses telah diadakan disini. Pada masa keemasannya bintang-bintang besar film
Bollywood pun hadir disini. Dan hingga kini tidak sedikitpun kehilangan
keajaibannya.
Peristiwa yang takkan pernah
kulupakan seumur hidupku. Tak percaya rasanya, akhirnya aku mencapai Impian
terbesarku, yaitu menapak di tanah India. Setelah bertahun-tahun lamanyan menanti
dan mendamba dengan berbagai keraguan.
Kisah Rajmandir takkan ada habisnya, film "Tere Naal Love Ho Gaya" akan terus bergaung (bahkan soundtrack film tersebut masuk kedalam playlist suamiku)...Begitu pula impianku yang berulang, akan kembali menapak India.
Sunday, August 24, 2014
ALUNAN DHAROHAR
Berlatarkan langit gelap, gedung tua itu berdiri anggun, guratan sejarah menyeruak, cat yang tak lagi seluruhnya melapisi menunjukkan kecantikan yang tak habis dilekang waktu. Temaram cahaya lampu membuat suasana menjadi syahdu dan romantis. Tak percaya kami baru saja berpacu dengan waktu melewati keruwetan lalu lintas, melewati puing-puing gedung serta lorong-lorong gelap untuk sampai kesini. Kerumunan wisatawan sudah memenuhi taman yang menjadi area pertunjukkan, mereka bersila di atas hamparankasur tipis di bagian depan, di barisan berikutnya tersedia dipan-dipan rendah yang dapat digunakan bersamaan. Selanjutnya barisan kursi dan penonton yang memilih untuk berdiri agar dapat melihat lebih baik.
Lampu-lampu disekitar kami
kemudian digelapkan, sehingga semuanya terfokus pada satu titik di bawah pohon
tua. Berpakaian khas India lengkap dengan sorbannya, seorang pria membuka acara
dan mengantarkan kami ke berbagai pertunjukkan yang akan ditampilkan. Untuk penampilan
pertama dibuka oleh suami istri yang berumur di atas 70 tahun namun kedua badan
mereka masih berdiri tegap. Dengan diiringi oleh sebuah alat musik gesek mereka
bernyanyi, suara tua yang keluar dari mulut mereka justru menjadikan nyanyian
mereka terdengar unik sambil sesekali sang pria berjoget-joget kecil,
mengundang senyuman dan bisikan diantara penyimaknya.
Berikutnya dua orang wanita,
berumur pertengahan 50an, yang satu menggunakan sari berwarna putih dengan
pinggiran merah, dan yang satu lagi menggunakan sari berwarna biru gelap.
Mereka kemudian mengambil posisi duduk dengan kaki terjulur. Sedikit bingung
dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Rupanya berbagai macam lonceng
terikat pada tubuh mereka, di kepala, sikut, bahu, telapak tangan, lutut serta
ujung kaki mereka. Dan kemudian pemusik pun memainkan alat musik mereka,
langsung saja kedua wanita itu bergerak dengan sangat lincahnya memainkan
lonceng-lonceng yang ada pada tubuh mereka, semuanya dipukul, dikencringkan
dengan nada yang seirama dan indah. Penonton dibuat terkesiap dengan kelincahan
mereka, berbagai manuver seperti gerakan silat mereka lakukan dengan lincahnya
selama setengah jam tanpa henti. Keringat mulai nampak pada wajah mereka, namun
mereka tetap tersenyum.
Decak kagum tak kunjung berhenti,
hatikupun semakin membuncah. Berbagai atraksi susul-menyusul, pertunjukkan
boneka kayu nan menggemaskan, gerincing ratusan lonceng kecil mengiringi tarian
luar biasa lincah seorang gadis kecil yang membuat penonton bertepuk tangan sesuai
hentakkan kakinya, kemudian lima orang penari dengan sari berwarna-warni muncul
dan membuat lingkaran, mereka menari dengan gerakan-gerakan dinamis membuat
lingkaran besar kemudian kecil, berputar dan terus berputar bagaikan gasing.
Kibasan-kibasan sari mereka seolah membuat torehan pelangi, membuat semua yang
hadir terpukau.
Kemudian wanita tua yang
sebelumnya memainkan lonceng di awal pertunjukkan kembali hadir seorang diri,
kami bertanya-bertanya apa kejutan berikutnya yang akan ia tampilkan. Ia melempar
kendi besar dengan menggunakan kakinya dan menangkapnya dengan ujung kepalanya.
Kemudian berturut-turut ia melemparkan kendi dengan ukuran lebih kecil terus
seperti itu hingga kendi yang terkecil
sehingga ada 7 tingkat kendi diatas kepalanya, aku bertanya-tanya bagaimana
bisa leher dan kepalanya begitu kuat menahan beban sebanyak itu dan tetap
menjaga keseimbangan. Seolah hal tersebut tak cukup membuat kami tercengang
kemudian ia menginjak-injakkan kakinya diatas pecahan beling, dan menutup pertunjukkan
dengan senyuman lebar. Sontak kami semua yang hadir disitu berdiri dan
memberikan tepuk tangan kagum tanpa henti. Dan akupun menangis penuh haru sambil
berpelukkan dengan kakakku. Masih tak percaya mimpiku terwujud indahnya lebih
dari yang kubayangkan.
Peristiwa ini takkan pernah
kulupakan seumur hidupku. Tak percaya rasanya, akhirnya aku mencapai impian
terbesarku, yaitu menapak di tanah India. Setelah 10 tahun menanti dan mendamba
dengan berbagai keraguan. Berawal dari kesukaanku menyaksikan film-film
Bollywood, kemudian aku pun jatuh hati terhadap semua hal yang berbau India.
Bukan hanya mengkoleksi film-filmnya, aku pun mengumpulkan berbagai macam
aksesorisnya. Mulai dari baju, gelang, kalung, sendal, bahkan merubah kamarku
menjadi kerajaan kecil India tersendiri. Sudah jelas impian terbesarku adalah
pergi ke India.
Tentu saja masih banyak orang
yang keheranan dan menganggap norak karena kesukaanku tersebut.
Namun setiap tahun kecintaaan dan keinginan untuk ke India semakin kuat.
Banyak yang menyarankan untuk tidak pergi kesana, karena kata mereka India itu
kumuh, miskin, jorok, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Aku tidak peduli
dengan semua perkataan tersebut.
Takdir datang pada waktu yang tak
diduga. Di suatu siang yang tenang, sambil
mengerjakan tugas-tugas kantor, aku mendapat kabar bahwa Air Asia sedang sale termasuk perjalanan ke India. Aku
harus segera mengambil keputusan karena hari itu adalah hari terakhir. Tentu
saja aku segera mengiyakan, walau sesudah itu aku baru menyadari bahwa tabungan
tak ada, pun gaji seadanya, tapi aku tetap nekat.
2 Maret 2012, 09.00 pagi aku, suami, dan
kakakku sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta terminal 3. Setelah melalui proses
check in dan Imigrasi, aku masih belum mau percaya. Jam 11.00 kami memasuki
pesawat Air Asia QZ7696 yang didalamnya didominasi warna merah yang memberi
semangat. Aku duduk di kursi tengah, cukup dekat dengan jendela untuk melihat
pemandangan di luar, dan cukup dekat untuk ke toilet karena perasaan gugup yang
mendera. Comfort kit dan In Flight meal yang kami pesan untuk
perjalanan tersebut cukup membuatku nyaman. Bahkan suamiku berkata nasi lemak
yang kami makan saat itu adalah yang terenak yang pernah dia coba, terang saja
pada saat disajikan nasi lemak itu masih panas dan wanginya sudah menggoda
hidung bahkan sebelum tutupnya dibuka.
Semakin dekat, semakin terasa mau
pecah dada ini karena gundah. Pada saat kami memasuki India, malam sudah tiba,
gelapnya malam berdampingan dengan ratusan penerangan yang tampak indah dilihat
dari atas. Bersabar untuk keluar bergantian dari pesawat yang mendarat dengan
mulusnya, akhirnya aku pun menghirup udara India. Aku berhasil menjejakkan
kakiku di tanah Impian. Rasa syukur, haru dan bahagia, membuncah di dada. AKUUU
BERHASIIILLL menggapai keinginan terbesar dalam hidupku, membuatku ingin
tertawa dan tersenyum hingga wajah ini terasa pegal.
Sunday, August 17, 2014
KEHANGATAN NEGERI REMPAH
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 69...maaf saya sebagai anak bangsa belum bisa membalas jasa...yang bisa saya lakukan hanya berbagi kisah tentangmu Indonesia. Dan Ini kisah saya mengenai perjalanan saya ke Ambon.
Rasanya belum
hilang dari ingatan tragedi kerusuhan Ambon pada rentang waktu tahun 1998
hingga 2000. Walau aku tak mengalaminya langsung. Namun berbagai macam
pemberitaan media massa pada waktu itu, menimbulkan kengerian bagi siapa saja
yang mengikuti pemberitaannya. Bagaimana tidak, bayangkan saja puluhan hingga
ratusan korban yang tewas, ditambah terbakarnya rumah-rumah dan tempat ibadah,
darah tergenang di jalanan kota, jerit dan tangis terdengar setiap harinya.
Berharap besok masih ada nyawa, berharap besok mimpi buruk ini berakhir.
Was-was, sedikit
bingung, tak terbayangkan apa yang akan aku temui ketika akhirnya pada tahun 2011 aku mendapat tugas liputan ke kota Ambon.
Memang masa kelam itu sudah berakhir lama, tetapi tragedi tersebut masih
membayangi. Dalam keadaan lelah dan mengantuk, aku dan tim akhirnya menjejakkan
kaki di kota Ambon. Maklum saja kami mengambil penerbangan jam 1 pagi setelah
sebelumnya tetap bekerja terlebih dahulu. Dalam keadaan seperti itu, jujur saja
aku tidak begitu memperhatikan apa saja yang terdapat di kota ini, bahkan aku
hanya menyadari bahwa penginapan kami berada di tepi pantai. Setelah
berisitirahat dan cukup segar, kami langsung mengunjungi dua “landmark” Ambon
yaitu Pintu kota dan Tugu Martha Christina Tiahahu disana pula kami menyaksikan
tenggelamnya matahari. Sejauh ini aku mendapati kota yang damai dan normal,
tidak seperti bayanganku sebelumnya. Malam itu aku lebih memilih istirahat
karena esok kami harus bangun pagi sekali.
Ketika pagi tiba,
setelah cuci muka dan gosok gigi aku pun mencari teman-temanku karena biasanya
mereka mengambil gambar matahari terbit. Setelah menyusuri pantai tidak juga
aku menemukan mereka. Hanya ada seorang tukang sapu yang sedang membersihkan
halaman hotel dari daun-daun yang berjatuhan. Aku pun mengarah ke kamar temanku
yang kebetulan searah dengan halaman hotel. Lalu ketika aku mendekat tukang
sapu itu tiba-tiba menyapaku
“Selamat pagi
nona”,
“Selamat pagi” jawabku.
“Maaf bolehkah
saya membersihkan sampah kulit duren di kamar sana?” menunjuk ke arah kamar
temanku yang nampaknya semalam mengadakan pesta duren.
“Oh iya silahkan
saja”
“Saya daritadi
sudah ingin membersihkan, tetapi tak enak kalau tidak izin dulu, takut mengganggu”
“Oh tidak apa-apa
pak”
“Terimakasih
banyak” ujarnya lagi
“Justru saya yang
harus terimakasih”
Iapun segera
beranjak ke arah beranda kamar temanku dan membersihkan sampah kulit duren.
sudah lama rasanya aku tidak menemukan orang seramah dan sesopan bapak tadi.
Hari itu kami
pergi ke benteng Amsterdam, tidak ada tarif khusus untuk masuk kesana, kami
hanya dikenakan biaya donasi untuk pemeliharaan gedung. Di dalamnya tak ada hal
yang istimewa karena gedung itu kosong, tanpa ada barang-barang historis
seperti pada umumnya sebuah museum. Gedung itu sendiri terdiri dari 3 lantai.
Lantai pertama tidak ada hal yang menarik perhatian kami kecuali plakat tentang
sejarah pembangunan benteng Amsterdam. Namun ketika di lantai 2 dan 3 barulah
kami menemukan hal istimewa yang berupa jendela-jendela yang langsung menghadap
ke laut yang biru dimana dapat terlihat pulau seram.
Lokasi benteng
Amsterdam berada di desa Hila, dimana disana pula terdapat gereja tertua.
Melihat gereja tua yang terkunci dan sunyi kami sedikit kebingungan. Namun tak
lama ada sekelompok ibu-ibu di seberang gereja yang memanggil kami dan
menanyakan maksud kami kesana. Setelah menjelaskan tujuan kami, tanpa diminta
salah satu ibu bercerita tentang kerusuhan ambon yang terjadi pada akhir tahun
1998. Gereja termasuk korban dalam kerusuhan tersebut, ternyata bangunan yang
ada di hadapan kami bukan bangunan asli karena bangunan aslinya telah habis
dibakar pada saat kerusuhan. Kejadian itu sangat disayangkan oleh bu acha,
salah satu ibu yang kami ajak ngobrol, beliau berkata “bangunan itu tak bersalah
kenapa harus diapa-apakan” walau bangunan ini digunakan oleh umat kristiani
namun bangunan ini dijaga oleh umat islam yang tinggal di sekitarnya. Setelah
mendapatkan cukup gambar untuk bahan liputan, kami pun beranjak dari sana.
Kami pun pergi ke
desa Kaitetu yang jaraknya hanya sekitar 15 menit dari desa Hila. Disanalah
terdapat mesjid tertua di Ambon. Melihat jarak desa yang berdekatan ini seolah
menggugurkan rumor bahwa umat Islam dan Kristiani bermusuhan. Mesjid tua
Wapauwe terletak di dalam perumahan penduduk. Posisinya berada rapat dengan
rumah-rumah penduduk mengelilinginya, serta banyak pohon mangga tumbuh
disekitarnya. Yang ternyata itulah asal usul nama Mesjid Wapauwe, yang berarti
pohon mangga hutan dalam bahasa Kaitetu.
Saat itu aku hanya
mengenakan kaos dan celana pendek. Sehingga aku tidak berani masuk ke dalam
Masjid, hanya mengamati dari luar sembari mencatat sejarah mesjid Wapauwe yang
terpampang besar di samping masjid. Tiba-tiba ada seorang ibu yang berteriak
memanggilku, beliau menyuruhku untuk duduk bersamanya di teras rumahnya.
Setelah memperkenalkan diri dan maksud kami datang ke Ambon, dia memintaku
untuk memberitakan bahwa tidak ada masalah antara umat Islam dan Kristiani di
Ambon. Lalu ia pun bercerita sambil matanya menerawang, dulu sebelum kerusuhan
terjadi umat kristiani dan muslim hidup berdampingan dan saling membantu.
Setiap hari-hari besar keagaaman mereka selalu bergotong royong dan menghormati
satu sama lain. Entah darimana dan bagaimana kerusuhan dimulai, yang meraka
tahu dan mereka yakini bahwa siapapun yang memulai isu yang memecahkan
kerukunan beragama disana, bahwa mereka adalah orang-orang yang datang dari
luar Maluku, bukan penduduk asli. Ketika peristiwa itu terjadi, orang saling
membunuh dan memburu, namun sesama umat muslim dan kristiani disana saling
membantu dan memberikan perlindungan kepada siapapun yang membutuhkan. Akan
tetapi mereka yang dahulu bertetangga, akibat peristiwa tersebut menjadi
berpisah jarak. Keinganan ibu itu sederhana beliau hanya ingin Ambon kembali
damai seperti sedia kala.
Ketika beliau
bercerita, tanpa sadar para tetangga pun ikut berkumpul disana dan saling
menimpali cerita. Kami mengobrol banyak termasuk berkisah tentang keajaiban
mesjid tua yang terletak persis di sebelah rumahnya. Beliau pun menanyakan apa
aku sudah sembahyang, dan kujawab belum. Beliau berkata bahwa aku harus
merasakan sholat di mesjid tertua tersebut, karena sayang sekali sudah
jauh-jauh datang tapi tak sholat disana. Lalu dengan sungkan mengatakan bahwa
saya malu baju saya tak pantas masuk mesjid. Ibu itu pun meminta teman-temannya
agar membantu saya. Kedua ibu yang lain membantu saya mengambilkan mukena dari
dalam mesjid, agar saya bisa langsung mengenakannya begitu saya selesai
mengambil air wudhu di luar mesjid. Untuk saya Mesjid ini memang sederhana
namun membawa kenyamanan dan ketenangan beribadah di dalamnya, bersyukur saya
diberi kesempatan untuk melaksanakan sholat disini. Kedua ibu tadi menunggu
dengan sabar hingga saya menyelesaikan sholat saya, dan kemudian mereka
menunjukkan bagian-bagian penting dari mesjid. Mesjid yang dibangun pada tahun
1414, mempunyai keunikan tersendiri yaitu dibangun tanpa menggunakan paku satu
pun. Selain itu pula disini terdapat mushaf Al-Quran tertua di Indonesia, yang
ditulis tangan oleh Muhammad Arikulapessy imam pertama masjid
Wapauwe. Menjadi suatu kebiasaan disini, jika ingin berpergian jauh, mereka
datang ke Mesjid Wapauwe dan menunaikan ibadah dulu disini untuk berdoa
mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT. Dengan berbagai
keunikannya tak heran mesjid ini menjadi kebanggaan umat muslim Ambon. Hingga kami
pergi dari sana kami terus ditemani oleh warga desa Kaitetu, dan tak lupa
senyuman dan lambaian tangan mereka berikan, mengiringi kepergian kami.
Maluku kaya akan
berbagai macam hasil bumi yang berupa rempah-rempah, itu pula yang menyebabkan
bangsa asing datang kesini, yaitu untuk menguasai rempah-rempah sehingga dapat
meraih untung dan mengendalikan perdagangan dunia. Jadi tak sempurna rasanya
jika datang ke Ambon tanpa napak tilas sejarah para pahlawan, khususnya kisah
keberanian Thomas Matulessy dalam melawan penjajah, beliau juga dikenal dengan
julukan Kapitan Patimura. Pulau Saparua adalah tujuan kami selanjutnya. Sebelum
pergi pemilik hotel memastikan apa kami sudah ada orang untuk menemani. Walau
memang sudah ada orang yang aku hubungi untuk menemani, tapi membuatku bertanya
ada apa gerangan. Ternyata belum lama ini terjadi bentrokkan antar desa di Pulau Saparua dan
dikhawatirkan keadaan masih tegang, sehingga diperlukan pendamping untuk
menemani kami. Tak lama pak Johanis atau kami memanggilnya pak Yanes datang,
beliau berperawakan mungil dan berusia lebih kurang 50 tahun. Setelah melihat
kedatangan beliau, pemilik hotel pun lega dan meyakinkan bahwa bersama pak
Yanes semuanya aman.
Dari pelabuhan
Leihitu kami mengambil kapal cepat untuk sampai ke Saparua. Satu hal yang saya
perhatikan tentang pak Yanes, beliau disegani banyak orang. Di setiap pelabuhan
manapun biasanya para calon penumpang diserbu calo tiket ataupun portir yang
berebutan mengangkut barang, dimana keadaan tersebut selalu membuatku risih dan
harus ekstra waspada. Namun begitu mereka melihat kami bersama Pak Yanes,
mereka semua langsung pergi menjauh, tanpa pak Yanes mengucapkan kata sepatah
pun.
Setelah satu jam
perjalanan akhirnya kapal kami hampir tiba di Pulau Saparua, yang ditandai
terlihatnya salib besar yang terletak di pinggiran pulau Saparua, seolah
menyambut para pengunjung. Dan lagi-lagi ketika sampai kami pun diserbu oleh
para supir angkutan umum, yang tentu saja segera bubar ketika melihat pak
Yanes. Kami pun menyewa salah satu mobil angkutan umum untuk mengantar kami ke
desa Porto dan desa Haria. Di desa Portolah terletak gereja tua Irine, dimana
disanalah berdiri salib besar yang tadi terlihat dari kejauhan. Sebelum
memasuki desa Porto, pak Yanes mengajak kami untuk ke rumah Kepala Desa
terlebih dahulu untuk mendapatkan izin. Ternyata kami hanya bertegur sapa dan
izin sekedarnya. Pak Yanes berkata bahwa sebenarnya bisa-bisa saja langsung
masuk ke gereja Irine tetapi sopan santun dan kekerabatan harus tetap dijaga.
Aku pribadi sangat menyetujui hal itu.
Setelah mengambil
gambar dan berbagai keterangan tentang gereja Irine. Kami pun beristirahat
sejenak di salah satu warung di seberang gereja, karena hari itu panasnya
begitu terik. Warung ini menurutku sangat manis, mengingatkankku pada film-film
lama. Warung ini merupakan bagian kecil dari rumah kayu berwarna kuning, dimana
di pekarangannya terdapat berbagai tanaman dan bunga warna-warni, dan
dikelilingi pagar kayu warna putih, walau tidak besar tetapi terasa manis
sekali.
Walau kami hanya
memesan minuman dingin, tetapi pemilik warung tidak berkeberatan sama sekali.
Beliau pun ikut bercengkerama dengan kami. Walau beliau tidak mau bercerita
banyak, syukurlah ternyata ketegangan antar desa yang dikhawatirkan sebelumnya ternyata sudah
berakhir.
Kemudian tibalah
kami di Desa Haria. Kami berkunjung ke rumah Kapitan Pattimura. Rumah kecil ini
ternyata menyimpan berbagai kisah tentang Kapitan Pattimura mulai dari
asal-usul, silsilah, sejarah perjuangan hingga beberapa peninggalan beliau. Aku
berharap bahwa ke depannya pemerintah memberikan perhatian khusus kepada rumah
bersejarah ini, yang mulai lapuk dimakan usia. Kemudian kami singgah di Wei
Sisil, dimana daerah yang tenang dengan air laut jernih ini pernah menjadi
lautan darah. Darah para penjajah yang mati ditangan para pejuang yang hanya
bermodalkan bambu dan parang. Oleh karena itu disini terdapat tugu untuk
menghormati jasa para pejuang.
Tak jauh dari
sana terdapat benteng Duurstede, benteng yang terlihat sangat kokoh dari luar
namun ternyata di dalamnya hanyalah puing-puing tersisa. Benteng ini juga
merupakan lambang perlawanan rakyat saparua dalam melawan penjajah, tentu saja
dibawah pimpinan Kapitan Pattimura. Dari pak Yanes kami juga mengetahui bahwa
Pattimura, berasal dari kata Patti yang berarti Raja, sedangkan Murah berarti
Sepenuh hati. Mengetahui berbagai perjuangan dan keberanian Thomas Matulessy
demi kebebasan rakyat Maluku tak heran beliau mendapatkan julukan tersebut.
Hari sudah mulai
sore, dan kami harus segera ke Pelabuhan jika ingin mengejar kapal untuk
kembali. Selain berbagai kisah tentang keberanian para pahlawan maluku. Saya juga
mempelajari satu hal, bahwa pribahasa jangan menilai buku dari sampulnya benar
adanya. Itulah gambaran tentang sosok pak Yanes. Perawakannya yang kecil dan
sedikit tua, tapi ternyata memliki berbagai kelebihan. Baru kali ini kami pergi
dengan seseorang yang benar-benar mengetahui berbagai sejarah daerahnya,
disegani banyak orang, serta sangat membantu kami dalam segala hal, sehingga
pekerjaan kami pun terasa lebih mudah. Yang paling utama beliau pun tidak
pamrih sama sekali.
Setelah
menghabiskan waktu beberapa hari di Ambon, sudah saatnya kami pergi ke daerah
lain. Tujuan kami berikutnya adalah Pulau Seram. Namun sebelum kami pergi dari
kota Ambon, ternyata pemilik penginapan meminta kami untuk makan malam di Hotel
karena mereka telah menyiapkan sesuatu untuk kami. Setelah liputan terakhir
hari itu kami pun segera pulang ke hotel untuk memenuhi undangan pemilik hotel.
Dan benar saja di sebuah saung yang terdapat disana sudah disediakan berbagai
macam makanan. Mulai dari hidangan laut, hingga makanan khas Maluku yaitu
Papeda dan ikan kuah kuning.
Bisa dibilang
berkumpul dan bernyanyi merupakan kegiatan kesukaan masyarakat Maluku. Selain
aku dan tim yang berada disana malam itu, pemilik hotel juga mengundang
beberapa orang teman-temannya termasuk pak Yanes. Setelah selesai makan malam,
tak lama mereka pun mengambil gitar dan mulai bernyanyi. Suara mereka
benar-benar bagus dan merdu. Tak heran Glenn Fredly sang penyanyi terkenal
Indonesia memiliki suara seindah itu, karena memang ternyata daerah
kelahirannya terkenal akan orang-orang bersuara merdu. Kebanyakan mereka
menyanyikan lagu-lagu Ambon, walau aku tak mengerti namun aku sangat menikmati.
Melalui lagu-lagu berbagi tawa berbagi kisah. Malam semakin larut, lagu-lagu
dinyanyikan namun suasana seketika berubah syahdu ketika pak Yanes menyanyikan
lagu Maluku Tanah Pusaka
Maluku Tanah Pusaka
Maluku Tanah
Pusaka
Nyong Ambon
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
Sio maluku tampa beta putus pusa e
paser putih aluse gunung deng tanjong
beta seng lupa e
ina ama lama lawang seng bakudapa e
sio biar jauh baini e
tapi dekat di hati beta e
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
nusa ina
katong samua dari sana
biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
ina ama lama lawang seng bakudapa e
sio biar jauh baini e
tapi dekat di hati beta e
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
nusa ina
katong samua dari sana
biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka
nusa ina
itu tanah asal ee
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise
gandong E
Nyong Ambon
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
Sio maluku tampa beta putus pusa e
paser putih aluse gunung deng tanjong
beta seng lupa e
ina ama lama lawang seng bakudapa e
sio biar jauh baini e
tapi dekat di hati beta e
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
nusa ina
katong samua dari sana
biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
ina ama lama lawang seng bakudapa e
sio biar jauh baini e
tapi dekat di hati beta e
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
nusa ina
katong samua dari sana
biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
Dari ujung Halmahera
Sampai tenggara jau
katong samua basudara
biar jauh bagini e
beta seng bisa lupa
maluku tanah pusaka
nusa ina
itu tanah asal ee
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise, ..
satu nama satu gandong
satu suku maluku manise
gandong E
“Dari ujung
Halmahera hingga Tenggara jau katong samua basudara”....itulah bagian lirik
yang menyentuh hatiku dan hingga kini selalu terngiang-ngiang dalam benakku.
Untukku lagu itu mengingatkan kita bahwa apapun latar belakang suku, budaya,
dan agama, kita semua tetap bersaudara. Terimakasih atas segala keramahanmu hai
Negeri Rempah, kehangatanmu membuatku berjanji untuk datang kembali dan
mengenalmu.
Friday, July 4, 2014
DUA MATAHARI TERBIT
Dinginnya
kota magelang pada jam 3 pagi membuat siapapun ingin tetap meringkuk di balik
selimut dan tetap berada di dunia mimpi. Tidak begitu dengan saya, walau
sedikit enggan sayapun mulai bersiap-siap. Tuntutan pekerjaan kali ini membuat
saya dan tim harus mengejar matahari terbit.
Jalanan
menuju candi Budha yang termegah dan terkenal tentu saja masih gelap dan
lengang. Untuk mengusir rasa kantuk yang terus menghinggapi saya pun terus berpikir
akan melihat keajaiban yang akan terjadi.
Sesampainya
di komplek candi Borobudur, penghubung kami yang merupakan orang dinas taman
candi, membawa kami terlebih dahulu ke sebuah hotel. Hotel yang memang masih
terletak di areal candi, ternyata menjadikan “pertunjukkan” matahari terbit di
candi Borobudur sebagai daya tarik hotelnya.
Sedikit
terkejut ketika mengetahui ternyata cukup banyak wisatawan asing yang berminat untuk
melihat pergantian pagi ini. Berbekal senter dan mempercayakan jalan kepada
satu orang, namun sudah hafal betul seluk beluk candi. Kami pun naik hingga tingkat
tertinggi yaitu bagian arupadatu dimana disanalah stupa-stupa berada.
Stupa-stupa yang dipercaya jika berhasil menyentuhnya maka akan mendatangkan
rezeki. Yang belakangan kami tahu itu hanya mitos buatan saja.
Masih
ada satu jam hingga terbitnya sang surya. Ada yang sudah memasang tripod kamera
untuk mendapatkan posisi terbaik ketika jam magis itu tiba, ada juga yang
memilih tempat untuk menunggu sambil tertidur sejenak.
Jam
5 kurang, semburat cahaya mulai mewarnai langit. Terucap syukur dan kekaguman
tak ada habisnya, ketika hangat matahari mulai menggantikan rasa dinginnya
malam. Ada yang terpukau, ada yg sibuk mengabadikan peristiwas tersebut dan ada
juga yang memberikan penghormatan melalui gerakan-gerakan yoga.
Sinar
matahari yang jatuh di sisi-sisi candi memberikan keindahan yang berbeda-beda
di setiap sudutnya. Walau sudah kesekian kalinya mengelilingi bagian candi di
tingkat teratas tersebut, namun kali ini
berbeda. Kejutan keindahan menunggu untuk ditemukan bagi mereka yang mau
menelusurinya. Tak heran para wisatawan asing mau membayar mahal demi hadir di
peristiwa magis ini. Peristiwa magis yang menyatukan berbagai orang dari
berbagai belahan bumi, dengan latar belakang yang berbeda-beda, dengan caranya
masing-masing, mengucap rasa syukur yang sama.
Matahari
sudah sepenuhnya muncul, dan tak lama kemudian tiba-tiba rombongan anak SD
sekitar kelas 3 atau 4 datang, lengkap dengan seragam dan buku serta alat tulis
ditangan. Muka mereka begitu semangat walaupun sudah menaiki puluhan tangga
candi yang cukup membuat terengah-engah. Entah mengapa rombongan ini menarik
mata saya untuk melihat apa yang akan mereka lakukan.
Mereka
pun berpencar ada yang berkelompok ada yang sendiri-sendiri. Ternyata mereka
mulai mendekati turis-turis mancanegara. “Hallo my name is...” How do u do?”
...”What is your name?”. Where do u came from?” inilah beberapa kalimat bahasa inggris yang keluar
dari mulut mereka, ada yang terlihat yakin ada juga yang terbata-bata karena
takut.
Orang
yang mengantar kami pun menjelaskan bahwa anak-anak ini datang dari desa yang
jaraknya lebih kurang 4 jam dari candi borobudur. Biasanya anak-anak ini sudah
kumpul di sekolah masih masing-masing mulai dari tengah malam, agar dapat tiba
pagi hari di Candi Borobudur. Biaya untuk transportasi pun merupakan hasil
patungan antara pihak sekolah dan orang tua murid, dan dilakukan selama
berbulan-bulan. Bisa dibayangkan, jangankan tempat les bahasa Inggris, buku
pelajaran pun mereka harus berbagi karena keterbatasan biaya. Oleh karena itu
hal ini mereka lakukan, karena inilah jalan satu-satunya agar anak-anak ini
dapat belajar bahasa Inggris. Kegiatan ini dilakukan beberapa bulan sekali
mulai dari anak kelas 3 hingga 6 SD. Jangan bayangkan perjalanan dengan
kendaraan yang nyaman dan ber-AC untuk menempuh waktu 4 jam, bus-bus omprengan
yang sudah tualah yang biasa mereka pakai.
Betapa
malunya saya, menyadari tadi pagi sempat sedikit berat hati untuk bekerja,
sangat berbeda dengan anak-anak itu yang datang penuh semangat. Senyuman terus
merekah pagi itu, ketika melihat reaksi wisatawan mancanegara. Para turis asing
ini dengan penuh senyuman menjawab setiap pertanyaan anak-anak tersebut. Jika
ada anak yang terlihat gugup mereka pun tak ragu memberikan rangkulan. Wajah
anak-anak pun semakin bersemangat jika sudah berhasil mendapatkan turis di
wawancara. Kompetisi antar anak pun terlihat ketika yang satu berhasil
mendapatkan banyak nama yang telah diwawancara, maka yang lain tak mau kalah.
Hari
itu saya menyaksikan dua matahari terbit, yaitu dalam arti sesungguhnya.
Sedangkan yang satu lagi adalah anak-anak itu. Semangat mereka, merupakan wujud
nyata bahwa masih ada harapan untuk negeri ini. Mudah-mudahan cahaya itu tak
pernah padam.
Saturday, June 21, 2014
HEI...BECAK
Tak banyak lagi kota yang memilikinya
Beruntung bagi yang masih menjumpainya
Rodanya tiga, dikayuh bapak tua
Takkan pernah secepat mobil atau motor sekalipun
Namun mampu menghalau panas dan hujan
Percayalah...Naik becak itu lebih mewah
Bersantai merasakan angin sepoi-sepoi
Melihat pemandangan kota lebih seksama
Dapat bertegur sapa dan saling melempar senyum
Atau berbagi cerita dengan abang pengkayuh becak
Hanya dengan naik becak pengalaman sudah bertambah
Hei becak...hanya ini harapku
Tetaplah tangguh sehingga zaman apapun tak bisa menghilangkanmu
Beruntung bagi yang masih menjumpainya
Rodanya tiga, dikayuh bapak tua
Takkan pernah secepat mobil atau motor sekalipun
Namun mampu menghalau panas dan hujan
Percayalah...Naik becak itu lebih mewah
Bersantai merasakan angin sepoi-sepoi
Melihat pemandangan kota lebih seksama
Dapat bertegur sapa dan saling melempar senyum
Atau berbagi cerita dengan abang pengkayuh becak
Hanya dengan naik becak pengalaman sudah bertambah
Hei becak...hanya ini harapku
Tetaplah tangguh sehingga zaman apapun tak bisa menghilangkanmu
Subscribe to:
Posts (Atom)

















